Yamaha Aerox

Lima Seluk Beluk di Balik Rekreasi Kuda Jalan Ganesa

  Rabu, 25 April 2018   Fathia Uqim
Heri dan kudanya di Jalan Ganesa, Bandung. (Fathia Uqim/ayobandung)

TAMANSARI, AYOBANDUNG.COM—Rekreasi menunggang kuda di Jalan Ganesa menjadi wahana favorit anak-anak di dekade 1990-an. Sampai saat ini, kuda-kuda itu masih mangkal di sana, meski jumlahnya berangsur turun.

Heri (24), generasi ketiga penarik kuda, bercerita kepada ayobandung.com tentang wisata kuda di Jalan Ganesa.

 

Jalan Ganesa adalah induk pertunggangan kuda

Pada awalnya, Jalan Ganesa adalah pusat dari rekreasi menunggang kuda zaman kakek Heri di dekade 1990-an. Namun, saat ini rekreasi menunggang kuda di kota sudah tersebar di tiga tempat, di antaranya Cisangkuy, Gang Tilit, dan Ganesa. Seperti halnya angkutan umum, trayek kuda pun telah ditentukan. Penarik kuda Ganesa tidak boleh “narik” di Cisangkuy, begitu pula sebaliknya. Dampak buruknya, dengan hadir berbagai wahana naik kuda di titik wisata, hotel, dan vila, pamor naik kuda di kota semakin merosot.

Kuda tunggang dan delman diambil dari tempat yang berbeda

Kuda tunggang yang sering terlihat itu berasal dari Lembang. Sementara delman atau kretek biasanya berasal dari Soreang. Rata-rata para penarik kuda memiliki kudanya masing-masing. Meski ada yang “narik” kuda dari mandor, itu hanya segelintir saja.

Penjinakkan kuda butuh proses

Butuh waktu untuk menjinakkan kuda. Prosesnya memakan waktu tiga bulan sampai kuda bisa tenang dan mampu diajak kompromi oleh sang empunya. Sebelumnya, mereka adalah kuda liar yang sulit diatur.

Harga kuda tergantung sifatnya

Semakin baik kudanya, semakin mahal harganya. Pembeli kuda untuk kuda tunggang menginginkan kuda yang baik, jalannya bagus, dan warnanya indah. Namun, untuk membeli kuda tersebut harganya selangit. Tidak semua kuda memiliki jalan yang enak dan penurut. Terkadang, ada kuda yang agresif atau cara jalannya yang kurang nyaman.

Kuda tak layak pakai bisa ditukar

Serupa barang, kuda yang sekiranya kurang layak pakai, seperti umur dan kekuatannya yang tidak lagi prima, dapat ditukar. Tempat penukaran berada di Cijerah dan Soreang. Diketahui, harga kuda paling murah mencapai Rp15 juta. Bahkan, kuda berkualitas baik bisa mencapai Rp25 juta. Apalagi kuda untuk mengikuti lomba di pacuan, pasti akan jauh lebih mahal harganya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar