Yamaha Mio S

Setop Penelantaran Kucing

  Selasa, 17 April 2018   Fathia Uqim

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM--Bau tidak sedap kotoran kucing di Pasar Burung Sukahaji adalah hal lazim. Di hari yang terik, kucing yang kepanasan tersebut terlihat stres dan bertindak tidak wajar. Ada yang tertidur, lidah menjulur, mengeong dengan mata berbinar, seperti ingin keluar dari kandang.

Petugas Rumah Kucing (RK) Bandung, Dewi Setya Astuti, mengaku sering menemukan penjual kucing yang tidak memperhatikan kesehatan kucingnya. Hal itu ia dapatkan dari pengalaman berkeliling ke penjual kucing di Pasar Sukahaji, Gasibu, dan Jalan Otten.

“Dilihat ada yang jamuran, flu, dan pas ditanya ternyata mereka mengembangbiakkan sesamanya,” katanya yang sudah dua tahun terakhir berkecimpung di RK Bandung.

Hal miris ini sulit diterima oleh Dewi. 

Seorang dokter hewan lainnya, Evi Azzahrawani, menjelaskan bahwa mengembangbiakkan kucing dengan sesamanya, seperti dari ayah ke anaknya atau sesama saudaranya, adalah hal yang dilarang.

“Bisa mengacaukan genetikanya. Nantinya yang lahir bisa cacat juga,” ujarnya.

Berbagai kondisi di atas adalah sebuah penelantaran pada kucing. Kurangnya edukasi dan kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup membuat kucing menjadi bulan-bulanan manusia yang tidak bertanggung jawab.

Untuk menekan populasi kucing yang berisiko lahir cacat ini, salah satu solusinya adalah dengan melakukan sterilisasi. Evi yang membuka praktik di Gloria Vet Setrasari Mall itu aktif bekerja sama dengan beberapa komunitas untuk baksos steril.

“Kami memberikan subsidi, jadi biayanya setengah harga untuk steril,” kata Evi.

Harga steril kucing yang sudah diberi potongan biasanya dimulai dari harga Rp150.000- Rp300.000 per ekor.

Evi menambahkan biasanya kucing liar yang berada di pasar sengaja dibawa untuk disteril.

“Misalnya dari Pasar Caringin, Pasar Kordon, dan pasar lainnya di Bandung kita ambil sampai terkumpul 30 kucing. Setelah steril, kita kembalikan lagi ke pasar,” katanya.

Menurut Evi, saat ini kasus penelantaran kucing di Bandung sudah berkurang. Ia sudah jarang menerima "pasien" kucing terlantar. Hal ini karena masyarakat Bandung sudah teredukasi dan banyak yang peduli dan rela menyelamatkan kucing untuk diadopsi.

“Kalau mereka punya anak kucing atau anjing, suka dicari siapa yang mau mengadopsi. Tapi masih ada juga sih segelintir orang yang langsung membuang ke jalan. Banyaknya di Bandung Selatan,” ujarnya.

Kendati demikian, Evi dan dokter hewan lainnya tetap berusaha semaksimal mungkin supaya kasus penelantaran hewan tidak lagi meledak. 

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar