Yamaha Mio S

Nostalgia di Pameran Foto Komersil Dekade 1980

  Selasa, 17 April 2018   Arfian Jamul Jawaami

BOJONG KONENG, AYOBANDUNG.COM -- Untuk mengenang masa lalu tidak melulu dapat dilakukan dengan mendengarkan lagu lawas atau menonton film klasik. Lewat Pameran Arsip Foto Komersial, Indonesian Photography Archive (IPA) menyuguhkan sensasi nostalgia dengan cara berbeda.

Pameran yang menyajikan koleksi foto komersial dekade 1980 hingga 1990 tersebut dibuka selama satu bulan penuh dari tanggal 14 April sampai 14 Mei 2018 di Rumah IPA Jalan Bojong Koneng Atas kavling 75 nomor 87 Kota Bandung.

"Kami memperkenalkan arsip dan bercerita mengenai praktik fotografi pada zaman dulu. Kami ingin masyarakat dapat menghargai proses fotografi yang dulu pernah dilakukan," ujar salah satu pendiri API, Wahyu Dian kepada ayobandung, Senin (16/4/2018). 

 

Foto komersil yang dipamerkan merupakan karya lawas hasil jepretan fotografer asal Indonesia seperti Ferry Ardianto, Ray Bachtiar, Roy Genggam, Sjuaibun Iljas, Krisna Satmoko, serta Ully Zulkarnaen.

Beberapa foto yang ditampilkan diantaranya adalah iklan Toyota Kijang, Suzuki Katana, sabun Lux, pasta gigi Pepsodent, sampo Sunsilk dan lainnya. Ditampilkan juga karya foto yang menyertakan artis lawas seperti Paramitha Rusady, Tamara Bleszynski, Christine Hakim hingga Kantata Takwa.  

"Ada juga arsip dari pendirian Asosiasi Photografer Profesional Indonesia (APPI) di tahun 1989. APPI merupakan asosiasi pelaku fotografi pertama di Indonesia," ujar Wahyu.

Lebih lanjut, Wahyu menceritakan perbedaan proses kreatif yang harus dilalui fotografer pada era sebelum milenium dengan saat ini ketika teknologi memberikan kemudahan terkait teknik pengambilan foto. 

"Dulu sangat menghargai frame karena tidak digital. Foto di layout dengan sangat sulit. Lalu foto diambil dengan sangat baik dan detail tanpa proses editing. Kini dark room dilupakan. Proses tersebut yang ingin kami ceritakan," ujar Wahyu.

Kesulitan tersebut yang kemudian membuat fotografer menjadi profesi yang sangat langka dan mahal ketika itu. Bukan sembarang orang dapat menjadi fotografer jika tidak memiliki kualitas teknik dan kekuatan secara finansial.

Maka tidak heran jika fotografer jadi profesi bergengsi dengan bayaran tinggi. Sementara kini, kemudahan teknologi dan harga kamera yang relatif terjangkau memungkinkan adanya persaingan ketat di dunia fotografi. 

"Sekarang semua orang bisa jadi fotografer. Dulu harus benar-benar ahli dan kaya. Faktor teknologi memberi bantuan untuk editing dan lainnya. Tapi harga dari jasa fotografi jadi sangat kurang dan persaingan sudah tidak sehat lagi," ujar Wahyu.

Adapun pameran foto komersil tersebut merupakan gelaran keempat yang diadakan oleh IPA. Sebelumnya IPA telah menggelar tiga pameran dengan konsep berbeda di dalam bus depan Gedung Sate, Bandung Creative Hub dan Lagoon Avenue di Bekasi.
 

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar