Yamaha Mio S

Mengintip Berbagai Hewan di Pasar Burung Sukahaji

  Senin, 16 April 2018   Fathia Uqim
Pasar Sukahaji, Kota Bandung. (Fathia Uqim/ayobandung)

BOJONGLOA KALER, AYOBANDUNG.COM--Panas terik matahari yang menyinari Pasar Burung Sukahaji menguapkan bau berbagai binatang yang berada di dalamnya. Di depan pasar sebelum masuk ke dalam, anak ayam, anak itik, cacing dan berbagai pakan ternak berjejer tinggal dipilih.

Jalan yang penuh dengan debu dan tidak rata masih terlihat di sini. Kandang burung menggantung di setiap sudut dan atap pasar. Cuitan burung saling menyapa. Ratusan anak kelinci tertidur di kandang, kemudian ratusan anak ayam bersatu, dan binatang peliharaan yang jarang dilihat seperti musang, burung hantu, dan sugar glider dijual bebas.

Kondisi ekonomi penjualan hewan di Pasar Burung Sukahaji cukup merosot. Sejak 2012, Usman (32) berjualan ayam dan kucing di Pasar Sukahaji. Setiap tahun pendapatannya tidak bertambah. 

“Dulu laku bagus, beda sama sekarang. Dari tahun ke tahun perbedaannya jauh,” katanya

Dulu, pendapatan Usman bisa mencapai Rp10-15 juta/bulan. Sekarang, Usman hanya mendapatkan Rp4 jutaan/bulan.

"Dulu kucingnya  bisa dijual dengan harga sejuta, sekarang hanya empat ratus ribu saja. Usman menilai daya beli masyarakat hari ini semakin turun. Tetep laku, cuman enggak kayak dulu,” ujarnya. 

Usman mendapatkan hewan tersebut dari penyedia yang datang ke pasar atau dia yang sengaja datang ke rumah penyedia hewan. Kucing yang dijual oleh Usman di antaranya kucing Persia Himalaya, pig nose, dan anggora. 

Berbeda dengan Yani Rohayani (55). Penjual kucing terbanyak satu-satunya di Pasar Burung Sukahaji. Selain kucing, Yani sudah lima tahun berdagang burung, bebek, itik, dan ayam.

Yani mengakui, menjadi pengusaha jual beli binatang kondisinya cukup stabil. Daripada menjual makanan seperti yang tengah dilakukannya tepat di depan kios binatangnya, justru penjualan binatang lebih bagus daripada makanan. 

"Makanan mah cepet basi," katanya.

Pelbagai binatang yang Yani punya diambil dari Soreang, Banjaran, hingga Cimahi. Dia sengaja mendatangi para pengembang biak untuk dijual kembali di Sukahaji. 

Ketika ditanya soal pemeliharaan, Yani kerap selektif dalam membeli binatang. Misalnya kucing, dia akan memilih kucing sehat dan sudah disuntik vaksin yang disertai keterangan buku vaksin. 

"Ya, kalau di sini tiba-tiba sakit atau mati pun pernah kejadian. Saya suntik aja, kalau yang tiba-tiba mati kan enggak ketahuan ya sudah rugi aja," ujarnya.

Setiap dua minggu sekali Yani memandikan kucing jualannya. Pemberian vitamin dan vaksin tidak dia lakukan lagi. Tugasnya hanya memberi makan binatang supaya tetap hidup sampai mereka dibawa pembeli.

Kucing tersebut berjumlah 20 ekor. Dikurung dalam kandang dan mengeong saat didatangi pelanggan. Berharap keluar dan merasakan aroma kebebasan. Meskipun bersin-bersin, lidah menjulur bak anjing, dan mata yang diduga terkena jamur, mereka tetap berkata kucing-kucingnya sehat dan menunggu dibeli pulang.

Panji Adi, Kepala Pasar Sukahaji, berkata bahwa beberapa kali Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan mengecek pasar untuk bersosialisasi ke pedagang mengenai satwa yang dilindungi. 

"Tahun 2017 kemarin pun dari kedinasan memberi vaksin kepada hewan di sana," katanya. 

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar