Yamaha Aerox

Aksi Faceblock di Facebook, Kok Aneh Ya?

  Rabu, 11 April 2018   Arfian Jamul Jawaami

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM--Kampanye Faceblock serentak dilakukan sebagian warga dunia selama 24 jam pada Rabu (11/4/2018). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk demonstrasi virtual terkait keterlibatan Facebook dalam skandal Cambridge Analytica.

Gerakan Faceblock sendiri menyerukan pemblokiran terhadap tiga platform media sosial yakni Facebook, Instagram dan WhatsApp. Seperti diketahui bahwa Instagram serta WhatsApp menjadi milik Facebook setelah dibeli pada tahun 2012 dan 2014 lalu.

Namun anehnya, realisasi dari gerakan Faceblock tidak benar-benar dilakukan sepenuhnya oleh warganet dunia. Soalnya beberapa warganet justru melakukan aksi Faceblock di akun Facebook maupun Instagram pribadinya.

Seperti yang dilakukan oleh akun Facebook Rabbani Kharismawan. Dalam akun tersebut tersirat status "Pada 11 April saya tak akan menggunakan @Facebook, @Instagram atau @WhatsApp. Mari tingkatkan kontrol atas data kita!"

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan status tersebut. Namun anehnya status tersebut ditulis sekitar pukul 4.30 WIB yang sejatinya telah memasuki tanggal 11 April 2018, waktu dimana semestinya Faceblock dilakukan. 

Seruan serupa dilakukan juga oleh akun instagram @r3win_ynwa yang menuliskan "hari ini hari bebas dari media sosial" sembari mengunggah sebuah foto bertuliskan "oops not available! Im doing a Faceblock because facebook can do better! I wont be using facebook today".

Namun lagi-lagi seruan diunggah @r3win_ynwa pada 12 jam lalu atau sekitar pukul 5.00 WIB. Terlepas dari keberadaan pemilik akun yang mungkin terpaut perbedaan jarak dan waktu, tapi di Indonesia durasi tersebut telah menunjukan tanggal 11 April 2018.

Faceblock sendiri diinisiasi pertama kali oleh warganet yang berdomisili di Amerika Serikat, Irlandia, Belgia, Denmark, Malta, Meksiko dan Inggris. Skandal Cambridge Analytica menunjukkan rapuhnya pengamanan data dan demokrasi digital.

Sebanyak 87 juta data pengguna Facebook bocor. Kebocoran tersebut melibatkan sejumlah negara selain di Eropa dan Amerika, diantaranya India, Australia, dan Indonesia. 

Seperti dikutip dari Time, Cambridge Analytica ternyata terafiliasi dengan Donald Trump. Cambridge Analytica diduga menggunakan data pengguna Facebook untuk memengaruhi strategi kampanye terkait Pemilu Presiden Amerika pada tahun 2016 lalu. 
 

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar