Yamaha Aerox

Nama Bayi Persib Satu Sembilan Tiga Tiga Tuai Pro dan Kontra

  Sabtu, 07 April 2018   Hengky Sulaksono
Kartu Keluarga milik pasangan Asep Kuswandi dan Lilis Sumiati, warga Desa Cikadu, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. (Hengky Sulaksono/AyoMedia)

CISAYONG, AYOBANDUNG.COM--Kemunculan bayi bernama Persib Satu Sembilan Tiga Tiga menghebohkan ruang pubik dan menjadi bahan perbincangan. Foto akta kelahiran bayi pasangan Asep Kuswandi (35) dan Lilis Sumiati (27) ini viral dan mengundang bermacam reaksi.

Persib langsung dikenal luas di jagat persilatan para bobotoh. Para pendukung kesebelasan Pangeran Biru ini saling berlomba memberi respons positif terhadap langkah yang ditempuh Asep. Tindakan unik Asep dengan menamai buah hatinya sesuai klub kebanggannya banyak mendapat pujian. 

Para bobotoh, tentu saja, salut dengan keberanian Asep. Pasalnya, tak semua di antara mereka yang mendaku fans berat Maung Bandung sanggup melakukan hal-hal serupa atau bahkan mirip. Jumlah bobotoh yang sampai rela menyematkan embel-embel Persib untuk menamai buah hatinya bisa dihitung jari. Selain Asep, contoh masyhur lainnya ialah mendiang Ayi Beutik. Ayi menamai anaknya Jayalah Persibku.

Orang tua Asep yang merupakan bobotoh kawakan, tentu saja mendukung penuh langkah Asep. Dia juga mengklaim jika mertuanya merestui sang cucu dinamai identik dengan klub sepak bola asal Bandung ini. Penamaan Persib juga merupakan hasil kesepakatan antara Asep dan Lilis. 

Tapi, nyatanya tak semua orang bisa menerima fakta keberadaan bayi bernama Persib, sekaligus berlapang dada menahan diri tak mencampuri urusan domestik orang lain. Sejumlah reaksi negatif, baik implisit maupun eksplisit, ikut berdatangan menyambut kelahiran bayi Persib.

Ditemui di kediamannya di Desa Cikadu, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (7/4/2018) siang, Asep mengaku sempat mendapat respons kurang hangat terkait penamaan bayi Persib. Salah satunya datang dari kerabat dekat yang sempat menanyakan alasan Asep memberikan nama tak lazim kepada buah cinta keduanya tersebut.

"Ada saudara dari Bandung, sempat bertanya kenapa dikasih nama Persib. Kenapa enggak pakai nama lain saja, singkatan misalnya, tapi yang masih ada unsur Persib-nya," kata Asep sembari menirukan ucapan kerabatnya tersebut. 

Terhadap pertanyaan dan saran tersebut, Asep memilih melunak tak terpancing. Tapi dia tetap bersikeras mempertahankan nama Persib yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari sebelum istrinya melahirkan.

Warga lain yang berada di Desa Cikadu juga sempat beberapa kali mempertanyakan penamaan Persib. Warga yang sudah tahu ihwal rencana Asep memberikan nama Persib pada anaknya sejak Lilis hamil, beberapa kali mempertanyakan keseriusan Asep. 

Warga, ujar Asep, lebih sering menanggapi rencana Asep sebagai candaan belaka. Saat bayi mereka lahir dan nama Persib Satu Sembilan Tiga Tiga tercantum di akta kelahiran, mereka masih sulit memercayainya.

Hujatan lebih pedas datang dari warganet. Asep mengatakan jika dirinya sempat dibuat gedek dan panas lantararan komentar-komentar yang dilayangkan via media sosial Facebook dan Instagram tersebut. Bukan apa-apa, nada komentar yang dilontarkan para warganet ini amat menyudutkan.

Dia berpandangan jika nama seseorang tidaklah harus memiliki arti spesifik. Baginya, nama yang diberikan setiap orang tua sudah merupakan sebuah doa yang tentu saja punya konotasi positif. 

"Nama itu enggak harus ada artinya. Coba tanya orang tua yang ngasih nama anaknya Eem, Ijem, apa artinya. Enggak akan tahu karena memang enggak ada artinya," katanya. 

"Saya sempat balas komentar-komentar mereka. Komentar-komentarnya itu pedas-pedas, bikin hati panas. Sekarang saya udah enggak menanggapi lagi. Untung kalau komentar-komentarnya bisa diterima. Banyak yang kelewatan," kata dia.

Terhadap pro dan kontra yang terjadi, Asep memaklumi hal tersebut. Menurutnya kondisi ini tak bisa dihindarkan sebagai konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi. Namun dia berharap agar warganet lebih bijak dan bisa belajar menerima perbedaan pandangan tanpa melakukan penghujatan membabi-buta.

"Kalau mau berpendapat, berkomentar, silakan saja. Asalkan harus menggunakan etika. Setiap orang punya pandangan masing-masing. Harusnya bisa saling menghormati. Sampai kapan pun, nama Persib tidak akan pernah diganti," kata dia.

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar