Yamaha Aerox

Mengenal Bayongbong, Kampung Batu Akik

  Selasa, 27 Maret 2018   Arfian Jamul Jawaami
Pedagang batu akik di kawasan Kebon Kalapa, Kota Bandung. (Arfian Jamul/ayobandung)

KEBON KALAPA, AYOBANDUNG.COM -- "Garut itu kecil tapi seperti cabai. Ada daerah Banyuresmi yang jadi kampung pangkas rambut. Ada Karangpawitan tempatnya sol sepatu. Kalau pedagang batu akik ada di Bayongbong," ujar Ajat Sudrajat, pedagang batu akik di Jalan Otista, Kota Bandung kepada ayobandung, Selasa (27/3/2018).

Ajat adalah satu dari sekian banyak pedagang batu akik yang berasal dari Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut. Tidak ada catatan resmi mengenai jumlah pedagang batu akik di Bayongbong. Namun daerah yang memiliki luas 4.763 hektare tersebut, telah sejak lama dikenal sebagai kampung batu akik. 

Bahkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut telah mendukung pembentukan desa wisata batu akik di Paguyuban Seni Pahat Patung Batu Akik Rumaos Janten Kawula di Bayongbong. Dukungan tersebut diberikan ketika euforia tren batu akik tengah viral sekitar tahun 2014 hingga 2015.

"Kalau saya perkirakan sekitar 75 persen masyarakat Bayongbong bekerja sebagai pedagang batu akik. Itu sudah terjadi turun menurun. Sisanya bertani atau bekerja sebagai pegawai," ujar Ajat.

Mayoritas para pedagang batu akik asal Bayongbong melakukan perantauan ke beberapa kota seperti Jakarta dan Bandung untuk berjualan. Di Bandung, kawasan Kebon Kalapa jadi daerah paling sentral karena telah sejak lama dikenal sebagai destinasi penjualan batu akik.

Para pedagang biasa menjajakan ratusan cincin atau kalung batu akik di trotoar jalan. Kebiasaan tersebut dilakukan bahkan sebelum tren batu akik menghebohkan jagat Indonesia. Namun ketika hari Jumat, beberapa pedagang memilih berjualan di masjid setelah menunaikan ibadah salat Jumat.

Kembali ke Bayongbong, tidak ada pelatihan atau tradisi khusus yang mengharuskan para penduduk pria Bayongbong untuk pergi merantau menjual batu akik. Kebiasaan tersebut terjadi alami dengan sendirinya.

Kasusnya mirip seperti kampung pemangkas rambut di Banyuresmi atau pengusaha jasa photo copy di Nagari Atar, Sumatera Barat. Faktor finansial menjadi alasan utama dibalik stereotype tersebut.

Kisah bermula ketika salah satu warga pergi merantau untuk berniaga. Lantaran dianggap berhasil maka sang perantau kembali pulang ke kampung halaman dan kemudian mengajak sanak saudara untuk melakukan hal yang sama.

"Sudah dari leluhur seperti ini. Kadang walau sekolah tinggi tapi tetap saja akhirnya terjun ke batu akik. Semua belajar otodidak tanpa pelatihan. Buat kami batu akik bukan musiman," ujar Ajat.

Ajat percaya bahwa sebuah tren dapat menjadi simbol politik dari penguasa negeri yang tengah memimpin. Menurut Ajat, batu akik merupakan simbol dari kekuatan dan tingginya jabatan. 

"Sejak lama batu akik disimbolkan sebagai alam negara. Tren batu akik meningkat saat Susilo Bambang Yudhoyono lengser dari presiden. Itu menjadi simbol kekuatan SBY," ujar Ajat.

Lebih lanjut Ajat menambahkan bahwa setelah batu akik meredup, muncul tren baru yakni koleksi burung kecil bernama kacamata. Menurutnya itu menandakan Joko Widodo yang naik menjadi presiden.

"Dulu kembang gelombang cinta pernah tren. Kembang itu menandakan banyak artis yang naik ke dewan. Lalu pohon bonsai juga pernah tren sebagai simbol lengsernya Soeharto," ujar Ajat.

Pedagang batu akik lain yang juga berasal dari Bayongbong, Ade Botak pernah mendengar cerita tersebut di kampung halamannya. Namun Ade lebih semata memaknai sebuah tren batu akik sebagai rezeki luar biasa yang tidak akan pernah terulang lagi.

"Kemarin waktu tren itu seperti mimpi. Pendapatan bersih meningkat sampai 75 persen. Banyak yang mendadak jualan batu akik. Itu rezeki buat kampung kami karena mendadak tenar dan sejahtera," ujar Ade tersenyum. 

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar