Yamaha Aerox

Empat Brand Kopi Legendaris Khas Bandung

  Selasa, 27 Maret 2018   Arfian Jamul Jawaami

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM--Kekinian kopi hadir sebagai gaya hidup masyarakat urban. Ragam coffe shop bergaya modern hadir memenuhi etalase kota. Pekerjaan barista juga mendadak tren untuk kalangan anak muda milenial.

Arus tersebut tidak kemudian membuat para pemain lama dapat dikalahkan. Perjalanan durasi waktu dan pengalaman menjadi jawaban atas kualitas yang diberikan para pelaku bisnis kopi berusia senja. 

Kota Bandung sendiri jadi salah satu destinasi wisata kopi sedari lama, bahkan sejak zaman penjajahan Belanda. Para pelakunya masih dapat bertahan hingga kini di tengah revolusi kopi.

Mereka dapat bertahan di tengah terjangan ekonomi nasional yang tidak stabil. Seperti pascakrisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998 yang membuat harga kopi naik turun tidak menentu. 

Fenomena tersebut membuat beberapa produsen kopi tutup teratur dan memilih bisnis lain. Namun krisis tersebut tidak berlaku bagi empat brand kopi asal Bandung berikut. 

Keempatnya telah berdiri sejak sebelum kemerdekaan dan masih memiliki pelanggan setia hingga kini. Untuk itu ayobandung merangkum empat brand kopi legendaris asal Bandung yang masih bertahan hingga kini. Berikut daftarnya.

1. Kopi Kapal Selam
Kapal Selam hadir sebagai salah satu brand kopi paling tua di Kota Bandung lantaran berdiri sekitar tahun 1930. Pendirinya merupakan seorang imigran Tiongkok yang mulai menjalankan bisnis kopi di kawasan pecinan di belakang Pasar Baru Bandung.

Kopi robusta dari Lampung serta aroma arabika hasil pertanian di tanah Gayo dan Toraja jadi pilihan utama sajian Kapal Selam sejak dulu hingga sekarang. Keaslian tersebut ditunjang oleh mesin grinder klasik yang dimiliki Kopi Kapal Selam.

Bahkan hingga kini Kopi Kapal Selam masih menggunakan pengolahan konvensional dengan mempertahankan tradisi gilingan kasar. Alasannya agar kopi terasa lebih asam. Berbeda ketika kopi digiling halus maka rasa yang dihasilkan cenderung akan pahit.

Namun sejak awal didirikan hingga kini, Kopi Kapal Selam tidak pernah menyertakan banner atau tulisan pertanda di depan toko yang berada di Jalan Pasar Barat 42 Bandung. Alih-alih sepi pelanggan, Kopi Kapal Selam justru tetap memiliki pembeli setia. 

"Biarkan hidung yang berbicara. Ada pelanggan setia dan kedai kopi yang sudah lama berlangganan," ujar Yuanto Chandra selaku pemilik Kopi Kapal Selam generasi ketiga kepada ayobandung beberapa waktu lalu.

Soal harga kopi yang ditawarkan berkisar antara Rp60.000 hingga Rp300.000. Kopi Kalam Selam sendiri buka sejak pukul 07.00 WIB hingga 16.00 WIB. Lokasinya tidak jauh dari toko obat legendaris Babah Kuya.

Nuansa lawas juga terlihat dari penggunaan bahasa dalam kemasan Kopi Kapal Selam yang bertuliskan "Kopi Asli Kapal Selam Kwalitet yang Terbaik Paling Harum dan Sedap Rasanya".

2. Kopi Aroma
Lewat mesin roasting tua manual berusia 82 tahun buatan Jerman, kopi legendaris Aroma dicipta. Keterbatasan mesin tersebut bukan sebuah ketidakmampuan tapi merupakan sebuah cara mempertahankan orisinalitas.

Benar adanya ketika kopi kekinian melupakan kualitas lantaran lebih mementingkan kuantitas dengan proses pembuatan instan. Sementara Kopi Aroma bertahan dengan proses pembuatan kopi berjam lamanya agar kualitas tetap terjaga.

Adalah Tan Houw Sian yang mendirikan Pabrik Kopi Aroma pada tahun 1930 silam. Kini toko Kopi Aroma yang beralamat di Jalan Banceuy 51 Bandung dikelola oleh anak semata wayang Tan Houw Sian bernama Widyapratama.

Widyapratama yang sejatinya merupakan sarjana ekonomi lulusan Universitas Padjadjaran membiarkan tangannya terluka bara karena selalu melibatkan diri dalam proses pembuatan kopi sebagai roaster

Ia merasa jika pabriknya adalah sebuah amanah sehingga proses pembuatan yang orisinal harus dipertahankan. "Ini adalah bentuk rasa bersyukur. Saya bahagia atas titipan ini," ujar Widyapratama kepada ayobandung.

Dalam prosesnya, Widyapratama hanya menggunakan kopi dari biji merah pilihan yang dijemur menggunakan energi matahari. Sebelum dipanggang dan ditumbuk, kopi robusta dan arabika terlebih dulu disimpan selama lima hingga delapan tahun.

Lamanya waktu penyimpanan merupakan upaya agar dapat mengurangi kadar keasaman, sehingga kopi lebih sehat dan nikmat. Jadi ketika kopi diminum tidak mengakibatkan perut kembung dan mual.

Soal kemasan, Kopi Aroma masih mempertahankan ejaan lama bertuliskan bahasa Belanda.

Harga untuk satu bungkus kopi robusta senilai Rp20.000 dan Rp25.000 untuk arabika.

3. Kopi Malabar
Berbeda dengan toko lainnya karena Kopi Malabar yang berada di antara deretan ruko di Jalan Gardujati terkesan begitu sepi dan tertutup. Tepat berada di depan SMA Negeri 4 Bandung terdapat bangunan putih dengan jendela besar yang minim perawatan.  

Selayaknya tamu karena pelanggan harus mengetuk pintu besi berwarna coklat terlebih dahulu untuk dapat membeli Kopi Malabar. Namun meski miskin publikasi ternyata Kopi Malabar masih tetap beroperasi.

Ketika dipersilakan masuk, tidak ada tanda dari penjual kopi karena toko tersebut dipenuhi oleh tumpukan koran dan beberapa meja besar. Namun aroma kopi mulai terasa menyengat ketika pintu terbuka.

Keistimewaan dari Kopi Malabar adalah karena pengelola hanya akan menggiling kopi ketika ada pelanggan yang datang memesan. Artinya kopi yang disajikan begitu hangat dan fresh. Sehingga pembeli dapat mengatur tingkat kehalusan kopi yang diinginkan. 

Selayaknya toko kopi lawas, timbangan dan mesin penggiling yang digunakan terlihat begitu kuno tapi masih beroperasi dengan baik. Kertas coklat tanpa tulisan apapun digunakan sebagai kemasan penyimpan kopi.

4. Kopi Javaco
Sebuah buku telepon Jawa dan Madura terbitan tahun 1930 dan Telefoongids Bandoeng 1936 jadi bukti bahwa Javaco merupakan salah satu brand kopi tertua di Kota Bandung. Berdiri pada tahun 1928 oleh perantau asal Malang bernama Liem Kiem Gwan.

Hingga kini, Kopi Javaco tetap menempati sebuah bangunan klasik dua lantai bergaya arsitektur art nouveau di Jalan Kebonjati 69 Bandung. Walau tua tapi kondisi bangunan masih sangat terjaga dengan dominasi warna putih dan kombinasi hijau pada bagian jendela dan kusen pintu. 

Citra klasik juga terlihat dari lima mesin penggiling kopi buatan tahun 1930 yang dipajang rapi menemani sebuah motor vespa berwarna biru muda. Beberapa lukisan dan hiasan lawas lainnya juga terlihat rapi dipajang.

Soal pengolahan kopi, Javaco masih mempertahankan metode lama yang dijalankan turun menurun. Biji kopi yang didatangkan dari Jawa Timur diolah dengan menggunakan metode wet indische bereiding dan ost indische bereiding

Kualitas kopi semakin terjaga maksimal melalui pilihan kertas berwarna coklat sebagai bahan dari kemasan kopi. Alasannya, agar aroma dan tingkat keharuman kopi tetap terjaga dengan baik sehingga tidak digunakan lapisan pertama berbahan plastik. 

Terdapat tiga varian kopi yang dijual di Javaco yakni robusta, arabika, dan tiptop. Pelanggan dapat membeli Kopi Javaco di ragam supermarket atau datang langsung ke toko selain hari Minggu pada pukul 09.00 WIB hingga 14.00 WIB. 
 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar