Yamaha Aerox

Menikmati Keindahan Ombak Laut di Atas Uluwatu

  Senin, 26 Maret 2018   Arditya Pramono
Objek wisata Uluwatu di Bali

ULUWATU, AYOBANDUNG.COM – Uluwatu. Itulah nama sebuah objek wisata Pura Luhur di Desa Pecatu, Kabupaten Badung, Provinsi Bali.

Secara geografis, Uluwatu terletak di ujung barat Pulau Dewata di atas bukit karang yang terjal setinggi 97 meter yang menjorok ke arah laut.

Dengan ketinggian yang menjulang, Anda dapat menyaksikan secara puas hamparan laut khas Samudara Hindia dengan deburan ombak yang tinggi dan menggulung dengan cepat. Tak hanya itu, hamparan pantai Pecatu persis di bawah Uluwatu, juga tak kalah menarik untuk disaksikan. 

Selain menawarkan pemandangan laut dan pantai yang memesona, ada hal yang tak kalah menariknya saat berkunjung ke Uluwatu.

Hal tersebut adalah pengalaman mengesankan bertatap muka langsung dengan hewan primata monyet.

Menurut keterangan seorang tour guide bernama Wayan, monyet tersebut memang dibiarkan hidup di hutan kecil bernama Kekeran. 

"Hutan Kekeran merupakan hutan yang berfungsi sebagai penjaga kesucian Pura Uluwatu. Nah, monyet-monyet yang hidup di hutan memang tidak diusir. Kami orang Bali tidak mengusir hewan yang memang hidup di sekitar pura tempat ibadah," ucap Wayan dalam logat Bali yang kental. 

Meskipun terlihat jinak, kawanan monyet yang hidup di hutan Kekeran terkenal usil dan suka menjahili wisatawan dengan cara mengambil barang mereka terutama kacamata.

Hal itulah yang menyebabkan, Anda harus berhati-hati dengan barang bawaan ketika memasuki area objek wisata Uluwatu. Meski harus lebig waspada, namun ada sejumlah penjaga yang akan membujuk sang monyet untuk mengembalikan barang bawaan pengunjung.

"Nanti penjaganya ngasih kacang ke monyet. Kaya barter, kita ngasih makanan, monyet nanti ngembaliin barang wisatawan," jelasnya. 

Beralih dari pemandangan laut, kawanan monyet dan hutan Kekeran yang masih asri terjaga, tentu suguhan utama wisata ke Uluwatu adalah Pura Uluwatu itu sendiri.

Pura ini dikenal sebagai Pura Sad Kayangan yang oleh masyarakat Hindu Bali dianggap sebagai penyangga sembilan mata angin. Itulah sebabnya wisatawan harus menghormati Uluwatu sebagai tempat suci.

Wisatawan yang mengenakan celana atau rok pendek harus ditutupi oleh kain panjang bewarna ungu dengan ikat berwarna jingga

Jika dirunut sejarahnya, Pura Uluwatu merupakan lokasi pemujaan seorang pendeta suci dari abad ke-11 bernama Empu Kuturan. Hal itu kemudian dilanjutkan oleh Dang Hyang Nirartha, yang akhirnya moksa di Uluwatu. 

Tedapat dua pintu masuk ke komplek pura, satu terletak di sebelah utara dan satu lagi di sebelah selatan. Pintu masuk tersebut berbentuk gapura bentar yang terbuat dari batu. 
Di depan gapura terdapat sepasang arca berbentuk mirip manusia namun berkepala gajah berada dalam posisi berdiri. Sementara itu dinding depan gapura dihiasi pahatan bermotif daun dan bunga.

Masuk ke dalam gapura, terdapat lorong berlantai batu berundak, menuju ke pelataran dalam. Tak perlu khawatir dengan terik matahari menyengat,  lorong terbuka ditutup dengan rimbunya pepohonan yang ditanam di sepanjang sisi kiri dan kanan lorong.

Kemudian memasuki wilayah pelataran, Anda akan menginjakan kaki di lantai pelataran yang tertutup oleh susunan rapi lantai batu. Di atas ambang terdapat pahatan kepala raksasa. Puncak gapura tersebut berbentuk seperti mahkota dan dihiasi dengan berbagai motif pahatan. 

Di sebelah selatan terdapat pelataran kecil berbentuk memanjang dan menjorok ke arah laut. Di ujung pelataran terdapat sebuah bangunan kayu yang tampak seperti tempat dimana orang sedang duduk-duduk sambil memandang lautan. 

Itulah keseluruhan daya tarik Uluwatu. Uluwatu memang indah, Uluwatu mengajarkan bahwa alam, binatang dan manusia saling hidup berdampingan dan sanggup mengagumi serta menghormati keindahan masing-masing ciptaan Tuhan.

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar