Menengok Produksi Comring, Keripik Singkong Asli Padalarang

  Rabu, 14 Maret 2018   Fathia Uqim
Produksi keripik Comring Padalarang. (Fathia Uqim/ayobandung)

PADALARANG, AYOBANDUNG.COM -- Dalam sebuah ruangan yang memanjang, puluhan warga dari  Campakamekar, Padalarang sibuk mencetak comring supaya bulat sempurna. Lebih dari sepuluh orang mereka mencetak secara manual memakai cetakan bulat lalu ditekan dengan kayu supaya rata. Bulatan comring yang siap digoreng itu ditata sedemikian rupa di tempat bak triplek kayu.

Kebanyakan dari mereka adalah anak muda. Usia-usia produktif untuk bersekolah SD hingga SMA. Mereka memutuskan sekolahnya demi mencari penghasilan. Menjadi pegawai penghasil comring adalah jalannya.

Tiga wajan besar mengepulkan asap panas dari gejolak minyak sayur yang siap mengeringkan comring-comring itu. Mereka tenggelam di lautan minyak, meliuk dan mengering hingga asapnya mengepul ke udara. Sang penggoreng menatap lekat, mengaduk, dan merasakan comringnya apakah sudah siap diangkat atau belum.

Comring tersebut disatukan ke dalam tampah. Seorang bapak membawa tampah penuh comring di bahunya, atau di kepalanya. Lalu ia tumpahkan comring ke ruangan tempat pengepakan.

Di ruang pengepakan berisi ribuan comring dan para wanita yang memasukkan comring tersebut ke dalam plastik kecil. Seorang ibu lima puluhan itu berselonjor menghadap lilin untuk merekatkan plastik comring satu sama lain. Penutupan plastik comring setelah dikemas memang benar-benar masih memakai lilin.

Nanta, pria yang sibuk memasukkan comring ke dalam wajan itu menyempatkan berbicara pada saya. Ia mengatakan, usaha yang telah dirintis sejak 1993 ini menghasilkan lapangan kerja bagi 50 warga di sekitarnya. Ada yang bertugas sablón kemasan, mencetak, memarut singkong, menggoreng dan mengepaknya hingga siap diantar ke pasar.

“Kami memproduksi tujuh sampai delapan kwintal singkong per hari,” ujar Nanta, Manajer Usaha Comring ini, Selasa (14/3/2018).

Dari ibu-ibu yang tidak ada kerjaan, hingga anak-anak yang putus sekolah menjadi pegawai pembuat comring. Dari pertama pencarian singkong hingga pemasarannya, semua dikerjakan oleh masyarakat yang berada di Kecamatan Campakamekar.

Nanta memasukkan hasil olahan singkongnya ke grosiran yang berada di Bandung dan Cimahi. Namun, Bandung memiliki permintaan yang cukup banyak lantaran pembelinya yang beragam dan dari pelancong yang menyambangi Kota Kembang.

Sejak tahun 1993 hingga kini 2018 tentu ada perbedaan yang signifikan, jelas dari permintaan pasar dan produksi. Tahun awal merintis, Nanta  hanya memproduksi satu kwintal singkong saja. Beranjak tahun ke tahun, kini 7 kwintal singkong sudah habis diproses oleh timnya.

“Tapi tidak melulu naik. Kalau musim panas, permintaan turun 30%. Kalau musim hujan, permintaan pasar saja bahkan tidak bisa tertutup. Ya bagaimana kan kita manual, jadi produksi belum bisa ditingkatkan,” ujarnya.

Proses pembuatannya, setelah singkong diambil dari kebun, singkong dikuliti dan dibersihkan. Kemudian, singkong yang sudah dicuci dimasukkan ke mesin pemarut. Setelah singkong menjadi butiran-butiran, singkong direndam alias difermentasi dalam semalam supaya rasanya tidak pahit.

“Setelah itu dicetak di sini. Kemudian digoreng dan dikemas. Lalu dibawa ke pasar untuk dijual,” tuturnya.

Setiap hari usahanya ini mendistribusikan 700 pak comring ke kota. Satu pak comring berisi 25 bungkus. Satu bungkusnya ada empat buah bungkus comring. Harga satu paknya dibanderol Rp 8.000-Rp 9.600. Kalau harga eceran pasar, satu bungkusan kecil comring berharga lima ratus perak saja.

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar