Yamaha Aerox

Kental Nuansa Orba, Apakah Partai Berkarya Masih Laku?

  Rabu, 14 Maret 2018   Arfian Jamul Jawaami
Partai Berkarya. (wikipedia)

HEGARMANAH, AYOBANDUNG.COM -- "Piye kabare? Enak zamanku toh?" Bayang mural wajah Soeharto sekejap melintas dipikiran ketika membaca kutipan tersebut. Seakan menebar rindu juga romantisme orde baru melalui literatur dengan membandingkan kondisi dulu dan kini ketika demokrasi jadi keyakinan bangsa Indonesia.

Belum lama ini, masyarakat Indonesia baru saja memeringati hari Supersemar atau Surat Perintah Sebelas Maret yang ke 52 tahun. Berkat Supersemar, Soeharto kemudian naik podium dan menjadi Presiden Indonesia lebih dari tiga dekade.

Entah kebetulan atau tidak, di hari yang sama, putra Soeharto yakni Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto dikukuhkan sebagai Ketua Umum Partai Berkarya di Solo. 

Partai Berkarya merupakan penyatuan dari dua partai politik yakni Nasional Republik dan Beringin Karya. Pada pemilu tahun 2019, Partai Berkarya akan menggunakan nomor urut tujuh sesuai ketetapan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Terlepas dari konteks visi dan misi politik, Partai Berkarya hadir layaknya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Perberdaannya, jika PDIP menggunakan gagasan Soekarno dan menyasar segmen loyalis orde lama. Sementara Partai Berkarya lahir sebagai penawar rindu bagi kalangan simpatisan Soeharto pada zaman orde baru.

"Simpatisan orde baru dan pemilih tradisional di zaman Soeharto menjadi segmen dari Partai Berkarya. Selain itu juga oleh masyarakat yang merindukan sembako dan pendidikan murah layaknya zaman orde baru dulu," ujar pengamat politik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung, Asep Warlan kepada ayobandung, Rabu (14/3/2018).

Setidaknya kini keluarga Cendana memiliki kendaraan politik yang sah untuk dapat kembali melanggengkan romantisme orde baru. Dalam konsep demokrasi, ideologi serta ekspresi tersebut sangat mungkin dan wajar terjadi.  

Setidaknya terdapat dua alasan yang melekatkan antara Partai Berkarya dengan zaman orde baru. Pertama adalah lambang dan warna yang digunakan oleh Partai Berkarya begitu mengidentikan diri dengan partai penguasa orde baru, Golkar. 

Layaknya Golkar, lambang pohon beringin dan warna kuning dipilih Partai Berkarya. Asep menilai bahwa hal tersebut bukan sebagai upaya untuk memecah suara pemilih Golkar, tapi lebih pada mengidentikan diri dengan citra orde baru.

"Memecah suara Golkar? Tidak. Karena sekarang Golkar sudah pecah. Ada Wiranto di Hanura dan Surya Paloh di Nasdem. (Lewat lambang tersebut) Partai Berkarya terlihat menyasar kalangan bawah seperti petani, nelayan dan buruh," ujar Asep

Tidak mengherankan jika Asep menilai kalangan petani dan nelayan menjadi segmen utama Partai Berkarya. Bisa dikatakan beberapa kalangan tertentu masih gagal move on dari orde baru. 

Apalagi, Partai Berkarya memiliki gaya dan pendekatan semiotika yang konvensional. Hal tersebut menegaskan segmentasi Partai Berkarya yang justru tidak menyasar kalangan muda. 

"Segmen muda tidak disasar oleh Partai Berkarya. Karena segmen tersebut sudah digarap oleh partai yang sekarang seperti PKS atau yang terbaru ada PSI," ujar Asep.

Alasan kedua adalah pengukuhan Tommy sebagai ketua umum yang semakin merepresentasikan citra orde baru. Terlebih beberapa program yang diusung Partai Berkarya dinilai memiliki rasa orde baru dengan fokus pada hal pokok di masyarakat.  

"Program Partai Berkarya pasti menyentuh hal yang paling pokok di masyarakat seperti sembako murah, pendidikan terjangkau, akseptabilitas kesehatan dan stabilitas keamanan. Mungkin bukan tawaran program besar seperti perbaikan infrastruktur, tapi itu lebih menyentuh dan sederhana," tutup Asep. 

 

 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar