Yamaha NMax

Toni Kanwa: Seni Memiliki Energi

  Selasa, 13 Maret 2018   Arfian Jamul Jawaami
Toni Kanwa. (Arfian Jamul/ayobandung)

DAGO, AYOBANDUNG.COM -- Toni Kanwa Adikusumah bahkan tidak menyelesaikan studinya di Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung. Toni malah memilih mengelilingi Nusantara guna mempelajari pembuatan keris dan seni memahat patung.

Sebanyak 413 tempat mulai dari Nias, Papua, Sumbawa, Yogyakarta hingga Kalimantan dijelajahi pria kelahiran Tasikmalaya tersebut. Bukan semata perihal teknis, Toni juga mempelajari ritual tradisi budaya yang memberinya pemahaman kuat terkait tatanan fisik dan batin dalam seni.

Serangkaian perjalanan tersebut menyadarkan Toni bahwa nilai dari benda seni bukan hanya diukur dari keindahan bentuk yang sarat abstraksi. Karya seni sepatutnya memiliki nilai fungsi dan filosofi seraya menghadirkan energi spiritual bersifat transidental. Alhasil, patung manusia karya Toni memiliki gaya yang primitif.

Kekuatan tersebut dibuktikan dalam gelaran Solo Exhibition of Toni Kanwa Adikusumah "The Power from Nature" di Bale Handap Selasar Sunaryo Art Space Bandung pada Selasa (13/3/2018).

Salah seorang wisatawan asal Belgia bersedia menjadi peraga. Sembari mengangkat tangan, pria Belgia tersebut diminta untuk fokus melihat patung berukuran kecil karya Toni yang tersimpan di atas meja. Kemudian, beberapa orang berusaha menurunkan tangan pria Belgia tersebut, tapi tidak bergeming.

Selanjutnya, pria yang sama diminta untuk melihat dua buah tempat sampah yang berada di ujung bale. Usaha serupa dilakukan beberapa orang untuk dapat menurunkan tangan pria tersebut. Apa yang terjadi? Itu sangat mudah untuk dilakukan.

"Ini bukan kekuatan mistis. Begitu sederhana dan benda seni memberikan energi pada manusia," ujar Sunaryo, seorang maestro seni Indonesia saat membuka gelaran tersebut.

Kembali ke Toni. Nama Toni mulai dikenal dunia melalui karya patungnya yang berukuran sangat kecil sebesar jarum atau korek api. Bahkan di antaranya hanya dapat terlihat jelas jika menggunakan kaca pembesar. 

Mayoritas karya Toni justru dapat dinikmati di luar Indonesia. Sebanyak 2000 patung mini berbentuk manusia dan spiral karya Toni telah menjadi koleksi di Singapore Art Contemporary Museum dan ditampilkan di beberapa galeri seni Eropa.

Bahkan di Belgia, karya Toni rutin dipamerkan sebanyak empat kali dalam satu tahun. Tidak heran jika sejak 17 tahun lalu, Toni bersama keluarganya memilih untuk menetap di Belgia. 

Alasannya, karena warga Barat ternyata lebih menghargai hasil karya seniman Indonesia. Padahal perlu diketahui bahwa karya patung Toni begitu kental dengan unsur kebudayaan Indonesia.

"Seniman Indonesia pada umumnya melihat dan belajar dari Barat. Seni kontemporer di Indonesia memang berasal dari Barat. Namun justru orang Barat lebih respect pada akar tradisi Indonesia," ujar Toni di tempat dan waktu yang sama.

Eksplorasi karya Toni selalu menghadirkan pemahaman mendalam terkait budaya asli tradisional Indonesia. Toni tidak hanya mengamati dari luar, tapi terlibat langsung dalam proses kehidupan masyarakat adat.

Maka tidak heran jika Toni kerap melakukan ritual khusus dalam berkesenian seperti berdialog dengan bahan yang digunakan. Toni percaya bahwa setiap materi memiliki karakternya sendiri. 

Serangkaian perjalanan seni dan spiritual Toni bermula dari sebuah kegelisahan. Puluhan tahun Toni mengalami keresahan dalam mencari ketenangan jiwa. Hal tersebut membuatnya sempat mempelajari berbagai sumber kepercayaan dan keagamaan. 

Namun pencarian tersebut tidak kemudian membuat Toni menemukan yang dicari. Hingga akhirnya Toni berkesempatan menemui beberapa akademisi dan pelaku seni rupa di ITB. 

Pertemuan tersebut menyadarkan Toni bahwa patung dapat menjadi media perantara yang membuat manusia memahami keberadaan diri di tengah alam semesta. Toni kemudian sadar bahwa alam memberikan dampak kepada mahluk hidup. Lalu manusia, memberikan penghormatannya kepada alam melalui kesenian. 

"Sejak kecil saya selalu gelisah. Lalu saya mengolah jiwa untuk sabar dan tawakal melalui seni. Saya mempelajari seni pahat sejak zaman SMA. Belajar dari banyak empu di berbagai daerah. Semua dilakukan untuk kedamaian," ujar Toni. 

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar