Yamaha NMax

Sepotong Cerita di Balik Dapur Ikhlas

  Kamis, 08 Maret 2018   Fathia Uqim
Garnama Adam dan usahanya Dapur Ikhlas. (Fathia Uqim/ayobandung)

CIHAPIT, AYOBANDUNG.COM -- Meski mengalami kegagalan sebanyak 10 kali dalam berbisnis, hal itu tak membuat Garnama Adam patah arang. Banting setir soal mindset, ia mengubah pikirannya bahwa dunia sejauh apapun tidak akan tercapai. "Buat apa?" katanya. Justru melelahkan diri. 

Dapur Ikhlas menjadi jalannya untuk berbisnis. Setelah membaca sebuah buku mengenai Rasulullah, ia pun akhirnya berjualan tanpa mematok harga. Ia terima berapapun uang yang pembeli berikan pada dagangannya. 

Sebelum Adam memiliki gerai seperti saat ini, setiap hari ia berkeliling Kampus ITB. Usahanya ia rintis pada Februari 2017.  Tanpa malu-malu ia menenteng 30 kotak nasi di pagi hari dan 70 kotak di sore hari. Ia berkeliling ke berbagai unit kampus. Tempat jualan langganannya yaitu ke Kampus ITB. Di sana ia sudah dikenal para mahasiswa sebagai penjual ikhlas. 

"Setelah akhirnya banyak pro kontra dari keluarga, saya memberanikan diri membuka dapur ikhlas ini. Lokasinya di Jalan Cihapit no 7," kata Garnama Adam kepada ayobandung, Selasa (6/3/2018). 

Dapur Ikhlasnya ini menyuguhkan berbagai menu makanan. Seperti kentang, sosis, otak-otak, spaghetti, hingga minuman seperti susu coklat, teh manis atau cappucino. Setelah para pembeli memesan, Dapur Ikhlas akan mengantarkan pesanan sembari menyodorkan celengan berbentuk doraemon. Di atas celengannya terdapat bacaan "Donasi Berbagi Nasi" atau "Bayar Makan dan Minum".

"Justru dengan sistem seperti ini, bisnis itu berjalan," kata lelaki 23 tahun itu. 

Adam mengaku ia tidak pernah tahu berapa jumlah spesifik mereka memasukkan uangnya ke celengan. Tetapi pernah suatu hari Adam menemukan pelanggan yang entah maksudnya apa, mereka memesan makanan yang cukup banyak dan memperlihatkan koin seratus rupiah ke hadapannya.

"Tapi kalau dirata-rata, orang-orang bayar itu tergantung makanannya. Kalau makanan berat mereka sama bayarnya seperti di tempat lain, hanya berkurang lebih sedikit jumlahnya. Ada juga orang yang pernah bayar langsung lima ratus ribu. Sehingga orang yang bayarnya sedikit, tertutupi dengan yang membayarnya cukup besar," lanjutnya.

Meski menggunakan sistem ikhlas, tentu Adam tidak semena-mena membiarkan dapurnya begitu saja. Ia tetap menghitung pendapatannya dan memiliki strategi supaya makanannya dapat terjual. Hingga saat ini Dapur Ikhlas membuka pesanan antar. Mereka pun aktif di laman instagramnya, @dapurikhlas.
 

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar