Yamaha Lexi

Keren, Altet Atletik Kursi Roda Ini Ternyata Seorang Bobotoh

  Selasa, 06 Maret 2018   Anggun Nindita Kenanga Putri
Pepep Mustafa. (ayobandung/Anggun Nindita)

PAJAJARAN, AYOBANDUNG.COM -- Tidak ada batasan untuk menjadi seorang bobotoh atau suporter Persib. Baik pria, wanita, tua, muda, yang tinggal di kota maupun di daerah semua bisa menjadi bobotoh.

Bahkan menjadi seorang bobotoh tidak memandang fisik. Seperti yang dirasakan oleh Pepep Mustafa. Dirinya memang berbeda secara fisik dengan orang-orang kebanyakan. Akibat kecelakaan yang dialaminya, ia sekarang harus kehilangan dua kakinya dan duduk di kursi roda.

"Saya suka Persib sejak dulu. Saat masih muda, saya sudah ngikutin Persib," katanya saat ditemui di Lapangan Pajajaran, Bandung, Selasa (6/3/2018).

Menonton Persib, menurutnya, bukan hanya sebuah hiburan, tapi juga semangat. Meski belum pernah sekalipun menonton langsung tim Maung Bandung ke lapangan, ia selalu mengikuti perkembangan Persib. "Saya lihat Persib, saya lihat bobotoh, terasa sekali semangatnya," ujarnya.

Beberapa pemain Persib menjadi sumber inspirasinya, salah satunya salah kapten Persib, Atep. Baginya Atep adalah putra asli Jawa Barat yang memiliki semangat yang positif.

Pepep juga mengaku ngefans dengan sosok pelatih Persib musim ini, Mario Gomez. Pelatih asal Argentina itu menurutnya adalah sosok yang tegas dan dapat membuat Persib tampil lebih baik lagi.

Melihat para pemain Persib yang tak kenal lelah di lapangan, mendorongnya untuk menjadi seorang yang lebih berprestasi. Kini, Pepep adalah seorang atlet di cabang atletik kursi roda. Ia mengambil kelas sprint 800 meter. 

Awalnya, ia melihat teman-temannya sesama difabel yang berlaga di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 2016. Dari situ ia tertarik untuk menjajal bakatnya di bidang olahraga atletik.

Berkat rutin latihan selama tiga kali sepekan, ditambah dengan latihan kebugaran selama satu kali sepekan, Pepep bisa mendapat gelar juara kedua dalam Kejuaraan Nasional Atletik untuk difabel di tahun 2017.

"Latihan itu seminggu tiga kali. Setiap Senin, Rabu, dan Jumat. Selain itu untuk penguatan otot kami juga latihan gymnastik," ucapnya.

Olahraga atletik kursi roda, sebut Pepep, menjadi ramai diikuti oleh para difabel semenjak dua tahun belakangan ini. Ia menyambut positif akan hal ini, pasalnya olahraga menjadi salah satu media bagi para difabel untuk bisa berprestasi.

Dirinya juga tidak lantas berpuas diri. Setelah mengikuti kejurnas, ia juga masih berencana mengikuti serangkaian perlombaan olahraga untuk difabel demi mengasah potensinya. "Masih banyak rencana kejuaraan yang ingin saya ikuti. Untuk itu saya tidak akan menyerah," tuturnya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar