Kang Sunatra yang Saya Kenal

  Rabu, 28 Februari 2018   Andri Ridwan Fauzi
Almarhum Dr.Sunatra, SH.,M.Si. (Istimewa)

Untuk memastikan kabar itu benar, diperlukan cross check dan berhenti bergerak sejenak. Kenapa tidak, kabar meninggalnya Kang Sunatra begitu mengejutkan dan menyedihkan. Secara umum saya termasuk yang tidak banyak bersentuhan dengan Kang Sunatra. Walaupun memiliki kesamaan profesi sebagai dosen, almarhum terlampau senior dan beda kampus.

Hampir tidak pernah bersama dalam forum-forum terkait dengan profesi dosen, kecuali diskusi kecil tentang pendidikan, ilmu yang sangat dikuasainya. Selebihnya, saya mengenal Kang Sunatra sebagai sosok politisi senior.

Awalnya di tahun 2009, seorang teman (Nunung Sanusi) sering kali menyebut-nyebut seniornya di Golkar yang sangat dikaguninya. Perjumpaan pun seringkali terjadi secara tidak sengaja, yang salah satu tempat bertemu yang masih ingat adalah di Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Awal perjumpaan  membuat pikiran melayang, ini politisi atau guru?

Sebenarnya kedua profesi ini ada dalam diri Kang Sunatra. Tetapi sosok politisinya hampir tidak tampak. Pembawaan yang humoris, rendah hati, dan tidak canggung ngobrol dengan orang jauh lebih muda dan baru dikenalnya. Tidak banyak momen yang bisa mempertemukan saya dengan politisi senior Golkar yang sudah malang melintang di dunia politik, baik di tingkat provinsi (DPRD) maupun pusat (DPR RI). Tetapi pertemuan sesekali itu selalu meninggalkan kesan.

Mengakhiri karir politik di Golkar, almarhum menyampaikan pernyataannya di GIM (bukan hotel berbintang) dengan liputan media cukup luas. Di situ, saya kembali belajar, menjadi politisi memang harus punya sikap yang tegas, walaupun Kang Sunatra tidak memutuskan silaturahim dengan rekan-rekannya di Golkar.

Setelah Pemilu 2009, saya lama tidak bertemu Kang Sunatra. Rupanya almarhum konsen di kampus sebagai pengajar dan kesibukan lainnya. Pertemuan yang hanya sekilas tidak mengubah kesan almarhum yang tetap ramah, santun, dan menghargai orang yang lebih muda.

Keuletan dalam berpolitik, menghantarkannya menjadi salah seorang jajaran teras Partai Gerindra Jawa Barat. Kehadiran Kang Sunatra di Partai besutan Prabowo Subianto ini, telah melambungkan nama Gerindra dalam berbagai pemberitaan media. Gerindra menjadi buah bibir. Kang Sunatra tahu cara menciptakan konten-konten yang "seksi" bagi media.

Selain proses seleksi calon Gubernur di tahun 2014 yang mencuri perhatian banyak pihak, Kang Sunatra mengeluarkan statement yang sangat mengejutkan publik. Tanpa tendeng aling-aling, Kang Sunatra menyampaikan ke media massa untuk menjadi Gubernur harus memiliki dana mininal Rp 300 miliar. Ini pun disebutnya sebagai paket hemat.

Sontak saja, pernyataan itu menimbulkan perdebatan yang cukup keras di masyarakat, akademisi, termasuk di kalangan politisi. Tetapi Kang Sunatra merasa yang disampaikannya merupakan sebuah kejujuran, ketimbang pura-pura menutupi kebutuhan biaya politik, lebih baik dibuka sebagai bentuk pendidikan politik.

Di pilkada serentak 2018 ini, sebelumnya diawali perdebatan berbagai kalangan tentang mahar politik dan biaya politik. Artinya, tanpa harus ditutup-tutupi, sistem demokrasi kita membutuhkan dana yang sangat besar. Jika masyarakat baru paham sekarang, dan sebagian politisi baru mau menyampaikannya walaupun malu-malu, Kang Sunatra sudah membukanya beberapa tahun ke belakang.

Dengan modal pengalaman dan jaringan yang dimiliki, tahun 2014 Kang Sunatra terpilih menjadi anggota DPRD Jawa Barat dari Jabar I (Kota Bandung dan Kota Cimahi). Menjadi wakil rakyat, Kang Sunatra tidak pernah berubah.

Satu tahun pascadilantik jadi wakil rakyat, saya kembali bertemu. Sikap, cara menyapa, gaya bicara, semuanya tidak ada yang berubah: tetaplah Kang Sunatra yang selalu tersenyum, rendah hati, dan tidak menggurui. Bahkan sebaliknya, Kang Sunatra adalah orang yang mau mendengar, menyimak, dan menanggapi orang lain termasuk orang yang lebih muda.

Singkat kata, bersama Kang Nunung dan Kang Bono, saya diajak untuk membantu Kang Sunatra setiap kali acara reses. Kegiatan yang rutin ini selalu saya ikuti, baik dari perencanaan maupun hingga pelaksanaan di lapangan. Saat reses seringkali saya belajar cara Kang Sunatra menyapa warga, gaya humornya, dan cara menyampaikan gagasan-gagasannya. Namun yang khas dari Kang Sunatra, dia pun saat reses lebih suka mendengar aspirasi ketimbang menggurui masyarakat.

Pada saat reses itulah saya seringkali belajar cara Kang Sunatra membahagiakan warganya. Di sana ada senyum warga yang mengembang, ada gelak tawa, ada ceria, dan optimisme. Kang Sunatra orang yang ingin melaksanakan tugas dengan baik.

Setiap kali reses selalu memiliki tim dengan perencanaan yang cukup matang. Sejak awal saya terlibat, sebagai orang yang sangat berpengalaman di dunia politik dan kemasyarakatan, Kang Sunatra selalu mendengarkan dan meminta saran kepada tim; daerah mana saja yang harus didatangi, dan materi apa yang harus disampaikan.

Kang Sunatra selalu mengikuti apa yang direncanakan tim, walaupun mungkin  belum punya pengalaman lapangan yang matang. Tetapi kepercayaan Kang Sunatra kepada tim, dari mulai pengelolaan anggaran reses hingga isu yang diangkat, benar-benar terbuka.

Hingga suatu saat pascareses di daerah Cikutra, di tengah guyuran hujan lebat Kang Sunatra menghampiri tim yang selalu setia menunggu acara sampai selesai. Tidak disangka dia mengajukan pertanyaan: "Kumaha tadi akang, leres teu nyarios? Bilih aya nu lepat. Cik naon nu kedah diperbaiki?"

Kang Alex yang saat itu masih bagian dari tim reses Kang Sunatra memberikan koreksi terhadap materi pembicaraan. Kemudian memberikan masukan juga untuk hal-hal yang perlu disentuh ketika bertemu dengan masyarakat dengan karakteristik tertentu.

Sambil menunggu hujan reda, kami ngobrol dan saling memberikan masukan. Dalam kondisi seperti itu Kang Sunatra benar-benar mendengarkan dan menyimak hal yang dibicarakan. Sampai akhirnya setiap kali bertemu dengan warga selalu dilakukan penyempurnaan-penyempurnaan.

Bagi saya yang awam politik, menjadi politisi sekelas Kang Sunatra sudah tidak perlu lagi belajar pada kami yang sebenarnya lebih banyak tidak tahunya. Tetapi itulah Kang Sunatra yang tidak bosan belajar, kepada siapa saja tanpa harus gengsi. Kang Sunatra juga termasuk orang yang "tidak enakan".

Dia tidak kuasa menolak jika ada orang yang meminta bantuan, tidak enak jika tidak menghadiri undangan, walaupun acaranya kecil dan jauh sekalipun. Dalam beberapa hal, ketidak enakkan Kang Sunatra ini memberikan pelajaran, dia tidak mau sampai membuat orang tersinggung, tidak ingin membuat orang merasa disepelekan, tidak mau orang lain sakit hati karena dirinya.

Kesan penting saya, ketika merasakan dan mengalami sebuah kesederhanaan dan tidak gengsi dengan ruang-ruang rakyat kecil berada. Kang Sunatra tidak menolak jika diajak ngobrol di tempat-tempat umum, bukan tempat mewah dan hotel berbintang. Ketika makan, hampir tidak pernah menunjukkan kemewahan, mulai tempat sampai menu.

Bahkan suatu saat, saya dan Kang Nunung diajak makan mie kocok, tempatnya di roda biasa yang mangkal di Stadion Persib depan Disdik Kota Bandung. Orang besar mau berjejal dengan orang biasa hanya untuk jajan mie kocok dalam kondisi hujan dan becek.

Dan paling mengesankan khususnya bagi saya adalah ketika seorang politisi senior yang ramah ini konsisten dengan tradisi menulisnya. Hampir setiap reses, Kang Sunatra selalu membuat tulisan, difotokopi kemudian dibagikan. Bahkan kehadiran saya dalam aktivitas politiknya, khusus memproduksi berita untuk media, yang sebenarnya bahan mentahnya sudah disiapkan Kang Sunatra sendiri - selain wawancara dan mengambil dari statement-statement ketika bertemu warga.

Tradisi menulis ini kemudian dapat dibuktikan lagi dengan lahirnya beberapa buku yang cukup penting, baik terkait dengan berit-berita di media sampai buku-buku tentang demokrasi. Produk buah tangannya ini tentu saja menjadi warisan sangat berharga, melengkapi kesanselama ini yang rajin, rendah hati, sopan, dan selalu belajar.

Kelengkapan warisannya ini akan memberikan pelajaran kepada siapa saja, baik politisi, akademisi dan aktivis sekaligus - sebab almarhum pun adalah aktivis AMS, sebuah almamater yang dicintainya.

Penulis: Roni Tabroni

(Dosen Ilmu Komunikasi USB YPKP Bandung dan Aktivis Muhammadiyah)

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar