Demi Bahasa, Negara Ini Pecah

  Rabu, 21 Februari 2018   Mildan Abdalloh

BUAHBATU, AYOBANDUNG.COM -- Lewat Sumpah Pemuda, Bahasa Indonesia dideklarasikan sebagai bahasa pemersatu. Namun di belahan negara lain, deklarasi suatu bahasa yang dimaksudkan untuk mempersatukan bangsa justru malah memecah belah.

Negara tersebut adalah Pakistan yang mempunyai sejumlah bahasa yang digunakan oleh puluhan sukunya.

Awal mula perpecahan Pakistan terjadi pada 21 Maret 1948, ketika Gubernur Jendral Pakistan Mohammed Ali Jinnah mendeklarasikan Bahasa Urdu sebagai bahasa resmi negara tersebut.

Namun deklarasi itu ditolak oleh warga Pakistan Timur yang kebanyakan menggunakan Bahasa Bengla.

Pada 21 Februari 1952 para mahasiswa di Pakistan Timur melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran menolak keputusan Jinnah tersebut. Aksi demonstrasi itu direpson secara reprsif oleh polisi Pakistan dengan menggunakan senjata. Akibatnya sejumlah mahasiswa terbunuh dalam unjuk rasa tersebut.

Gerakan aksi demonstrasi berdarah tersebut memicu pemberontakan yang memakan korban dari kedua belah pihak, baik pakistan yang berbahasa Urdu maupun warga Pakistan Timur yang menggunakan Bahasa Bangla. Hingga pada akhirnya Pakistan timur memisahkan diri dan membentuk negara baru pada 1971 yang diberi nama Bangladesh.

Peristiwa aksi demonstrasi mahasiswa berdarah tersebut kemudian diusulkan kepada PBB yang pada saat itu dipimpin oleh Kofi Anan sebagai Sekjen untuk dijadikan sebagai bahasa ibu internasional. Usulan yang dilayangkan pada 9 Januari 1998 tersebut dilakukan oleh Rafiqul Islam yang merupakan salah seorang kerabat korban.

Dia menyerukan agar PBB mengambil langkah untuk melestarikan semua bahasa di dunia dari kemungkinan kepunahan. Cara yang diusulkannya adalah dengan mendeklarasikan Hari Bahasa Ibu Internasional pada tanggal 21 Februari (mengacu pada peristiwa 21 Februari 1952).

Usulan itu kemudian disampaikan kepada UNESCO. Usulan itu nyaris gagal karena pengajuan usulan pada tanggal 16 November 1999 tak bisa diajukan akibat kurang dukungan.

Namun keesokan harinya, 17 November 1999, usulan itu disetujui oleh 188 negara, termasuk Pakistan. Sejak saat itu tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional.
 

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar