Viral Video Bu Dendy vs Pelakor sebagai Gambaran Krisis Etika

  Rabu, 21 Februari 2018   Arfian Jamul Jawaami
Video viral Bu Dendy di Twitter.

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM – Ketika seorang suami berselingkuh dengan seorang wanita simpanan, maka siapa objek yang paling bisa disalahkan? Apakah suami? Atau wanita simpanan?

Lantas, ketika perselingkuhan itu tersebar luas di media sosial, bisakah kita menjadikan media sosial sebagai salah satu terdakwa? Tergantung, setiap orang pasti punya jawaban masing-masing.

Tapi kenapa wanita simpanan justru disapa dengan sebutan “pelakor” atau “perebut laki orang”? Sebuah kata yang bermakna bahwa wanita simpanan adalah terdakwa tunggal. Sementara suami yang berselingkuh, justru seakan menjadi korban.

Pemahaman tersebut sedikit merefleksikan fenomena dari video Bu Dendy yang viral sejak Senin (19/1/2018) malam hingga Selasa (20/2/2018). Video tersebut dibicarakan banyak orang, bahkan mengalahkan topik dugaan keterlibatan Fahri Hamzah dalam salah satu kasus korupsi.

Dalam video, terlihat seorang wanita berjilbab tengah duduk menunduk di sofa seraya menerima kemarahan dari wanita lain yang diduga sebagai Bu Dendy. Bu Dendy yang tidak terlihat dalam video kemudian melempar banyak uang pecahan Rp100.000 pada wanita tersebut yang diduga berselingkuh dengan Pak Dendy, sang suami.

Kemudian, video berbahasa Jawa tersebut mendadak viral di jagat linimasa setelah unggahannya disebar ribuan kali oleh banyak akun media sosial. Beragam komentar hadir. Ada yang marah, sekadar melucu, hingga merasa empati seraya memberi dukungan pada terduga pelakor lantaran menganggap perlakuan Bu Dendy terlalu berlebihan. 

Seperti komentar yang hadir di akun Instagram terduga pelakor @nylla_nylala. Salah satunya dari @chintyapay yang bertuliskan "semoga diberikan banyak kesabaran untuk pean (kamu) mbak". Mayoritas komentar juga menghujat terduga pelakor melalui cara-cara yang beragam. Seperti komentar @sorayalibi3 di akun Instagram @parodypelakor bertuliskan "harusnya dilempar batu jangan uang".

Sosiolog Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Sunyoto Usman turut berkomentar atas hal tersebut. Ia mengatakan bahwa hal tersebut merupakan bukti dari adanya pergeseran fungsi dari media sosial sebagai sarana informasi dan hiburan.

"Dulu media sosial dominan dengan informasi. Lalu perkembangannya menuju interaksi. Karena ada respon, maka sekarang sudah menjadi bagian dari kepentingan transaksi. Artinya, media sosial hadir sebagai bagian dari memperoleh atau mencari benefit," ujar Sunyoto pada ayobandung, Selasa (20/2/2018).

Maksud dari benefit di sini adalah keuntungan yang didapat Bu Dendy berupa kepuasan pribadi atas sanksi sosial yang saat ini diterima oleh terduga pelakor.

"Jadi kalau ada persoalan selingkuh dilempar ke media sosial, maka orang yang melempar isu tersebut telah mendapat benefit berupa sanksi pada korban. Sanksi tidak harus berupa hukuman atau denda bisa juga sosial," ujar Sunyoto. 

Terlepas dari siapa yang benar dan salah, Sunyoto berpendapat bahwa video tersebut merupakan gambaran adanya krisis etika. "Permasalahan saat ini adalah rujukan etika dan keteladanan. Manusia punya problem besar dengan etika. Rasanya sudah sulit mencari orang yang bisa diteladani," ujar Sunyoto.

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar