Yamaha NMax

Bikin Haru, Inilah Sepenggal Cerita dari Jalur Gaza

  Senin, 19 Februari 2018   Anggun Nindita Kenanga Putri
Program

JALAN SULANJANA, AYOBANDUNG.COM -- Seorang pemuda asal Gaza, yakni Hamzah Zamaroh. Dia masih berusia belasan tahun. 

Tapi dia selalu ada di baris terdepan untuk membela kemerdekaan negaranya, Palestina.

Hamzah bersama para pemuda lainnya berani untuk berhadapan langsung dengan tentara Israel. Para tentara Zionis itu, bukan hanya merenggut kemerdekaan bangsanya. Tapi juga masa mudanya.

Namun Hamzah tidak takut. Apapun dia lakukan agar Palestina bisa merdeka dari kekuasaan tentara Zionis.

Sayang, keberanian Hamzah harus dibayar dengan nyawa. Tentara Israel berhasil menangkapnya dan membunuhnya. Kemudian tentara Zionis menyimpan jenazah Hamzah di refrigator.

Tapi akhirnya pada tanggal 17 Februari malam, jenazah Hamzah berhasil dipulangkan. Almarhum Hamzah yang telah berjasa buat Tanah Airnya ini akhirnya dikebumikan.

Itu adalah sepenggal cerita dari Imam Besar Masjid Al Aqsa, Syekh Ekrema, saat ditemui dalam kesempatan launching program 1 Milyar Cinta Palestina di Shafira Sulanjana, Senin (19/2/2018).

Syekh Ekrema banyak menggmabrkan kondisi sesungguhnya di Palestina. Sungguh miris, banyak warga sipil bahkan wanita dan anak-anak yang turut menjadi korban dalam krisis kemanusiaan ini.

"Upaya penjajahan terhadap negara Palestina sudah berlangsung lama. Dari  tahun 1997, mereka (Israel) terus berusaha dengan cara yang sistematis untuk menjajah kami," ujarnya.

Tapi bangsa Palestina bukanlah suatu bangsa yang mudah menyerah. 

Meski harus berhadapan langsung dengan tentara Israel agar bisa merebut kembali kemerdekaannya. Mereka percaya suatu saat tanah airnya akan kembali damai.

Syekh Ekrema pun kembali bercerita. Minggu lalu, perjuangan para pemuda Palestina pun mendapatkan kabar gembira. 

Di sebuah perkampungan di perbatasan Gaza, pasukan Palestina berhasil merebut kembali tanah milik mereka. Hasil pertempuran tersebut mengakibatkan belasan tentara Israel tewas.

Peran Indonesia di Mata Bangsa Palestina

Syekh Ekrema mengaku sangat senang berada di Indonesia. Dikatakannya, Indonesia adalah negara yang paling depan untuk membela kemerdekaan Palestina.

Saat Masjid Al Aqsa ditutup selama dua minggu oleh tentara Israel, Indonesia menjadi negara pertama yang membela Palestina untuk bisa membebaskan Masjid Al Aqsa.

Pun saat kejadian Presiden Amerika Serikat, Donal Trump memberikan pernyataan sepihak bahwa Yerusalem seharusnya menjadi ibukota Israel.

Jelas saja warga Palestina tidak terima akan klaim sepihak itu. Menurut Syekh Ekrema, Indonesia jadi negara yang paling pro aktif menyerukan protes atas klaim tersebut.

"Kami tidak pernah akan menerima klaim sepihak itu. Pernyataan tersebut adalah pernyataan yang zalim," tegasnya.

Bukan cuma secara bantuan diplomatik, Indonesia sendiri sudah banyak mengirim relawan dan bantuan ke jalur Gaza. Bahkan sebut Syekh Ekrema, Indonesia punya sebuah rumah sakit darurat untuk para pengungsi di sana.

"Saya berterimakasih kepada pihak-pihak yang selalu membantu kami. Sesungguhnya apa yang sedang dilakukan ini merupakan suatu bentuk jihad," tuturnya.

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar