Yamaha Aerox

Petani Kopi Berdikari di Bawah Binaan Qahwah Black Coffee

  Minggu, 18 Februari 2018   Fathia Uqimul Haq
Petani binaan Qahwah Black Coffee. (Fathia Uqim/ayobandung)

CILEUNYI, AYOBANDUNG.COM -- Empat tahun yang lalu Hadipras membuat gerakan untuk mengedukasi petani kopi dari hulu hingga hilir. Sejatinya, kita mengetahui biji kopi dari petani dijual murah lantas di kedai kopi sudah menjadi barangnya yang mewah, alias mahal. 

Hadipras berujar, itu semua adalah sebab dari ketidaktahuan petani kopi dan kebutuhan uang yang cepat. Ketika kopi masih dalam biji, petani ingin segera menjualnya ke tengkulak. Karena untuk memroses biji tersebut menjadi kopi masih perlu waktu. 

“Petani ingin cepat dapat uang, kan,” kata Hadipras saat dihubungi ayobandung, Minggu (18/2/2017).

Tengkulak datang membawa mobil Fortuner. Petani tetaplah petani. Bahkan mereka tidak pernah mencoba kopi hasil dari kebunnya sendiri. Sayang seribu sayang, padahal biji kopinya adalah minuman yang terenak di hamparan tanah Indonesia. 

“Petani kita ya minum kopi instan, sudah bercampur kimiawi dan hanya sampahnya. Mereka menjual yang terbaik, tetapi mereka minum kopi sampah,” ucap lelaki 38 tahun itu.

Hadipras membuktikan, kopi yang ditanam para petani itu sungguh nikmat. Lantas Hadipras membawa segelas kopi di hadapan petani. Mereka terbelalak. 

“Ini kopinya enak, beneran kopi hasil kami? Ya iyalah mereka tidak pernah meminum biji kopi yang mereka tanam. Lalu saya proses dan saya berikan pada mereka. Mereka enggak percaya,” Hadipras bercerita.

Harga biji kopi yang belum diproses lebih lanjut tentu dijual murah. Petani tidak sadar, biji kopi yang sudah diproses memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Hadipras tergerak untuk mengedukasi petani kopi dari pertama menanam biji kopi hingga strategi penjualan.  Sebelumnya ia hanya melatih petani hingga bijinya selesai menjaid biji kopi. 

“Akhirnya kita buat produk sendiri setelah dua tahun menjelang. Namanya Qahwah Black Coffee,” kata lelaki asli Bandung itu.

Saat ditanya apa itu Qahwah, Hadipras menjelaskan, nama itu diambil dari Bahasa Arab. Sejarahnya, Qahwah dibawa oleh para sufí yang datang ke Indonesia untuk menyebarkan ajaran Islam. Mereka suka meminum qahwah alias kopi itu sendiri. Lantas Hadipras menamai produknya dengan nama “Qahwah”.

Kini, dia telah mengedukasi 30 petani kopi di daerah Cibeusi. Bukan cuma melatih petani menjadi berdikari, melainkan penyelamatan bumi. Hadipras menyebutnya Buruan Manglayang. 

Di kaki Gunung Manglayang-lah para petani kopi itu menyemai biji. Tentu bukan persoalan mudah. Sosialisasi kepada para petani kopi di pedesaan Manglayang menjadi strategi awal supaya petani yang mau bisa ia bina. 

“Kita bergaul dengan mereka, dan kita buktikan,” ungkap sang pemilik Qahwah Black Coffee.

 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar