Yamaha Aerox

Cegah Kerugian Petani, Kementan Bentuk Tim Sergap

  Rabu, 07 Februari 2018   Adi Ginanjar Maulana
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menggelar panen raya padi di hamparan lahan seluas 764 hektare dari total 2.400 hektare di Desa Mancagahar, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (6/2).

GARUT, AYOBANDUNG.COM—Kementerian Pertanian membentuk tim sergap untuk menyerap sebanyak 2,2 juta ton beras petani, setara 4,4 juta ton gabah.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan tim serga ditargetkan menyerap beras hingga Juni 2018. "Ini sudah menjadi keputusan," katanya seusai panen raya di Kabupaten Garut, Selasa (6/2/2018), seperti dilansir situs Kementerian Pertanian.

Di telah menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) terkait. 

Amran menjelaskan, ada empat skema harga pembelian gabah tersebut yang terdiri dari kualitas, harga pembelian pemerintah (HPP), fleksibilitas, dan komersil. 

"Harga di luar kualitas. Maksudnya, kadar air tinggi, Bulog tidak bisa serap. Kami langsung memasang 30%. Permentan sudah kami keluarkan. Kalau kadar airnya tinggi, kami langsung beli," terangnya.

Apabila fleksibilitas, nilainya 10% di atas HPP. Sedangkan komersil, harganya tergantung hasil diskusi Bulog dengan tim sergap dan petani. "Jadi tidak ada celah petani dirugikan," terangnya.

Tak sekadar itu, Amran juga langsung bersinergi dengan sejumlah instansi terkait yaitu Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), TNI, dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).

"Semua pihak kita ajak bersinergi untuk menyerap beras petani. Kami tidak boleh biarkan petani merugi, karena mereka adalah ujung tombak produksi," tegas Amran yang didampingi Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf, Kasdam III/Siliwangi Brigjen TNI Yosua Pandit Sembiring, Bupati Garut Rudy Gunawan, serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemprov Jabar dan Pemkab Garut.

Sedangkan Ketua KPPU Syarkawi Rauf menerangkan, gejolak harga pangan di Indonesia terjadi akibat masalah kelola distribusi. "Kalau didukung manajemen distribusi bagus, tidak perlu ada persoalan di tingkat end user (konsumen) terkait harga dan pasokan.

Dirinya lantas membandingkan dengan Jepang. Di "Negeri Matahari Terbit", surplus beras cuma 1 juta ton yang berasal dari total produksi dikurangi jumlah konsumsi nasional. "Dan tidak ada masalah harga di konsumen, karena manajemen logistik," ungkapnya.

Ke depan, pihaknya akan turut membenahi manajemen logistik dan rantai pasok pangan, agar tidak ada lagi gejolak harga. "Jangan ada yang ganggu beras yang dihasilkan petan," katanya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar