Yamaha Aerox

Tiga Foto Ini Mampu Mengubah Sejarah Dunia

  Sabtu, 13 Januari 2018   Arfian Jamul Jawaami
Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

KEBONJATI, AYOBANDUNG.COM -- Beberapa orang percaya bahwa foto memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan, walau sekecil apapun. Biarkan fakta yang bicara karena lisan tidak selalu tentang kejujuran.

Setidaknya tiga jurnalis foto berikut mampu mengubah wajah dan sejarah dunia. Tanpa harus bicara maupun berperang mengangkat senjata, karyanya mampu mengubah persepsi publik dan melahirkan gerakan kemanusiaan.

Untuk itu ayobandung merangkum tiga foto yang mampu mengubah sejarah dunia. Berikut daftarnya:

 

Eddie Adams 

Perang Vietnam yang melibatkan dua negara adi kuasa ketika itu yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet bisa jadi salah satu pertumpahan saudara terbesar sepanjang sejarah manusia. Dua ideologi besar bertabrakan yang diwakili oleh Vietnam Utara dan Vietnam Selatan.

Namun dunia masih bergeming hingga sebuah foto karya fotografer Associated Press bernama Eddie Adams menghiasi halaman pemberitaan media. Dalam foto terlihat Kepala Kepolisian Vietnam Selatan bernama Jenderal Nguyen Ngoc Loan bersiap menarik pelatuk pistol ke arah kepala seorang gerilyawan vietkong di Saigon Street.

Seperti dikutip dari New York Times, foto yang diambil tahun 1968 tersebut tidak hanya berhasil membawa Eddie sebagai peraih Pulitzer atau penghargaan jurnalisme tertinggi. Namun juga dapat mengubah opini masyarakat Amerika mengenai Perang Vietnam.

Opini yang kemudian melahirkan banyak gerakan anti-perang dari masyarakat Amerika. Serangkaian penolakan dilakukan melalui aksi demonstrasi besar, hingga lahirlah Flower Generation dengan simbol damai yang sangat ikonik hingga kini. Protes atas Perang Vietnam juga hadir melalui lirik lagu. Setidaknya John Lennon, Bob Dylan hingga Black Sabbath.

Sumber Foto: New York Times

Kevin Carter

Pernah menonton film The Bang Bang Club karya sutradara Steven Silver? Kevin Carter adalah bagian dari kuartet fotografer yang dengan berani mengabadikan masa apartheid di Afrika Selatan. Namun pada tahun 1993, Kevin memilih pergi ke Sudan sendirian untuk merekam tragedi pemberontakan.

Sesampainya di Sudan, Kevin mendapatkan potret seorang balita bertubuh kurus kering tengah merangkak kelaparan. Balita tersebut sedang berusaha berjalan menuju pusat pembagian makanan di kamp pengungsian. 

Namun, sisi yang paling menyedihkan adalah ketika di belakang balita tersebut terlihat seekor burung bangkai tengah berjaga, seakan sedang menunggu ajal menjemput si balita seraya kemudian memakannya.

Foto tersebut akhirnya dijual ke New York Times dan dipublikasikan pada Maret 1993. Berkat foto Kevin, dunia melihat Afrika sebagai objek yang perlu mendapat perhatian khusus dan bantuan kemanusiaan. Lalu pada tahun 1994, Kevin berhasil meraih Pulitzer untuk kategori Feature Photography.

Namun, foto tersebut menjadi kontroversi lantaran banyak pertanyaan mengenai nasib si balita kelaparan. Kevin tersudut karena dianggap tidak menolong balita tersebut. 

Padahal seorang fotografer disarankan untuk tidak menyentuh siapa saja karena dikhawatirkan terkena penyakit menular. Terlebih jurnalis tidak diperkenankan ikut campur dalam konflik. Sebenarnya Kevin sempat mengusir burung bangkai tersebut kemudian berdiam cukup lama di dekat pohon untuk merokok dan menangis. 

Beberapa bulan kemudian, Kevin ditemukan meninggal dunia dan diduga bunuh diri. Kevin meninggalkan sebuah catatan berupa penyesalan karena tidak dapat menolong balita tersebut. Terlebih sahabatnya yang juga tergabung dalam Bang Bang Club dikabarkan tewas. 

Terlepas dari apapun kontroversi yang menyertainya, namun foto Kevin merupakan salah satu karya jurnalistik paling berpengaruh sepanjang sejarah dunia. 

Sumber Foto: New York Times

Robert Capa

Wartawan foto kelahiran Hungaria tahun 1913 tersebut merupakan seorang fotografer spesialisasi perang. Capa terkenal berani karena selalu merekam gambar perang melalui jarak dekat, satu hal yang dianggap gila ketika itu. Terlebih ketika itu foto jurnalisme belum begitu dihargai seperti hari ini.

Menurutnya, seperti dikutip dari BBC, kamera memiliki kekuatan untuk merekam kebenaran yang sesungguhnya. Kutipannya yang paling legendaris adalah: "Jika foto anda tidak cukup baik berarti anda tidak cukup dekat (dengan objek)."

Begitu banyak rekam jejak perang yang didokumentasikan Capa. Mulai dari Perang Dunia Kedua, Afrika Utara hingga Sisilia di Italia. Namun, karya Capa yang paling berpengaruh adalah pendaratan Normandia di Prancis selama Perang Dunia Kedua.

Seperti dikutip dari Time, Capa berada di tengah hujan peluru antara Sekutu dan Jerman. Tanpa senjata api dan hanya memegang kamera foto. Lensa yang digunakan terbilang pendek yakni 50 milimeter maka hanya memungkinkan memotret dari jarak dekat. Serangan tersebut merupakan awal dari kekalahan besar Adolf Hitler dan Nazi.

Sumber Foto: Magnum Photos: International Center of Photography

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar