Yamaha NMax

Susur Bandung : Mengintip Warna-Warni di Kampung Cibunut

  Sabtu, 13 Januari 2018   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Seorang warga berfoto di salah satu dinding Kampung Cibunut, Bandung, Sabtu (13/1/2018). (ayobandung/Eneng Reni)

SUMURBANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Kota Bandung dikenal memiliki ribuan gang. Gang-gang ini notabene menjadi pembeda permukiman dengan kompleks perumahan, tak terkecuali di kawasan Cibunut.

Hampir tidak ada gang yang bisa meloloskan satu mobil. Hanya kendaraan layaknya motor dan sepeda yang leluasa keluar masuk gang. Istilah gang senggol pun muncul untuk menyebut gang ini.  Soalnya di gang ini hanya bisa dilalui oleh satu atau dua badan saja, sehingga kita acap bersenggolan dengan pejalan lainnya. 

Menyusuri gang-gang di kota Bandung bisa juga disamakan dengan memasuki labirin. Bagaimana tidak? Bagi yang tak biasa, gang-gang di permukiman padat penduduk di kota kembang ini bagai tak jelas ujung pangkalnya. Tak jarang orang kerap tersesat di gang. Ungkapan ini pun bisa jadi cocok dengan istilah ”bisa masuk enggak bisa keluar".  

”Ini, kan, sebetulnya sebuah masalah karena di Kampung Cibunut banyak sekali gang. Salah satu solusi, dibuat penanda pada rumah, dengan dicat,” ujar Herman Sukmana, Ketua RW 07 Kampung Cibunut saat berbincang dengan ayobandung, Sabtu (13/1/2018).

Menyebut Cibunut di Kota Bandung, kita tertuju pada RW 7 Kelurahan Kebon Pisang, Kecamatan Sumur Bandung. Kampung seluas 31.478 meter persegi ini berada di antara dua jalan, yakni Jalan Veteran dan Jalan Baranangsiang.

Batas wilayah selatan dan timur Kampung Cibunut adalah aliran Sungai Cibunut. Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil meresmikan Kampung Cibunut sebagai kampung kreatif pada 27 November 2017 lalu. Semua itu berkat program Cibunut Berwarna.

The Power of Collaboration”. Kalimat itu tertera di salah satu dinding rumah warga RT 5, Kampung Cibunut. Berbentuk mural, kalimat itu menunjukkan kekuatan kolaborasi yang mewujudkan Cibunut Berwarna. Wajar, sebab ini terbentuk berkat kolaborasi warga kampung yang terjun langsung mewarnai dinding-dinding rumah mereka. Satu hal yang membedakan Cibunut Berwarna dengan kampung-kampung serupa di daerah lain.

Ada sembilan warna yang dipakai untuk menandai rumah warga. Sembilan warna itu menjadi ciri khas untuk sembilan RT. Melalui warna, diharapkan tidak ada lagi pengunjung yang tersesat atau kebingungan mencari alamat.

Peta besar kampung tertempel di dinding Sekretariat Karang Taruna yang terletak di gang utama Kampung Cibunut. Untuk menuju Cibunut, kamu bisa masuk dari gang utama yang terdapat di Jalan Sunda, tak jauh dari perempatan Jalan Veteran-Sunda.

Siapa saja yang melewati gapura Gang Cibunut akan disambut dengan warna-warna cerah dan ceria. Tak perlu khawatir dengan jalan menurun yang cukup curam di gang utama tersebut. Sebab disediakan undakan-undakan anak tangga beraneka warna lengkap dengan pegangan besi.

Saat pertama masuk, kamu bakal disambut warna oranye di sisi kiri dan biru muda di sisi. Itu adalah rumah-rumah warga RT 9 (oranye) dan RT 7 (biru muda). Berbelok ke kiri, kamu akan menemui deretan dinding berwarna ungu yang merupakan rumah warga RT 8 serta hijau muda yang dihuni warga RT 1.

Berdekatan dengan RT 1, ada area RT 2 dengan dinding bercat biru tua yang diteruskan dengan rumah-rumah berdinding merah muda yang menjadi ciri kawasan RT 3.

Dari gang utama, jika berbelok ke kanan, kamu akan disapa oleh dinding hijau tua yang dihuni oleh warga RT 6. Semakin ke dalam, deretan dinding kuning menyala menandakan kamu tiba di RT 4.

Paling dalam dan paling ujung adalah kawasan RT 5 dengan tanda dinding merah menyala. Di RT 5 ini, nyaris seluruh pusat kegiatan tertumpu. Itu karena hanya di RT 5 terdapat area yang cukup luas untuk menggelar acara dan pertemuan.

Selain menjadi identitas alamat, konsep satu RT satu warna juga memberikan pesan tidak ada kesenjangan atau perbedaan satu rumah dengan tetangganya. ”Harapannya, hubungan antarmasyarakat bisa semakin erat,” kata pria yang kerap disapa Om Ibo itu. 

Satukan pemuda

Keinginan warga untuk mewarnai kampung sebetulnya telah terlontak sejak 2,5 tahun yang lalu. Saat itu, sekumpulan anak muda di Kampung Cibunut bermimpi kalau kampungnya penuh warna. Namun, mereka tak menemukan solusinya.

“Apalagi anak muda (karang taruna) di sini belum bersatu. Proses panjang menyatukan pemuda akhirnya bisa terjadi meski butuh bertahun-tahun. Salah satu hasilnya, ya, program mewarnai kampung ini,” ujar Harto Sugianto (21), salah seorang pemuda Kampung Cibunut.

Setelah terkumpul lebih dari 70 pemuda sebagai anggota karang taruna, mereka mulai serius menata kampung itu. Anak muda Cibunut pun ingin unjuk gigi dengan kreativitasnya. 

Menamakan diri Cibunut Finest, para pemuda berupaya mencari solusi untuk setiap persoalan di kampung mereka. Tahun 2016, mereka dilibatkan dalam pembuatan mural di Jalan Siliwangi, Kota Bandung.

Momen itu jadi gerbang pembuka untuk pemuda Cibunut berkenalan dengan banyak relasi, salah satunya PT ICI Paints Indonesia sebagai produsen cat. Mereka kemudian berpartisipasi mengirimkan ribuan kaleng cat untuk mendukung Kampung Cibunut jadi berwarna.

Edukasi Masyarakat

“Kami ingin bukan sembarang mural, tapi harus ada edukasinya,” kata Harto. Edukasi itu dibagi warga  ke dalam lima zona mural di Kampung Cibunut dengan temanya masing-masing. Mulai dari urusan lingkungan hidup hingga budaya.

Pertama adalah zona “perdamaian” di RT 7 dan RT 9. Pada zona ini, seniman membikin desain yang bercerita tentang perdamaian, baik dalam skala kecil dan personal.

Zona kedua adalah “world insight” yang bertema pengetahuan. Pada zona ini, banyak desain yang menggambarkan informasi seputar pengetahuan umum seperti peta dunia dengan nama kota dan negara, infografis tentang pelajaran sains, atau keterangan organ tubuh manusia. Zona dengan mural bertema pengetahuan ini bisa ditemui di rumah-rumah warga RT 4.

Ketiga adalah zona “local genius” di kawasan RT 8 dan 3. Dalam zona ini, Bandung adalah salah satu sumber inspirasinya. “Banyak yang bisa diangkat dari kebiasaan di kota Bandung,” kata Herman.

Selanjutnya, zona keempat bertema “environment” di RT 6 dan 5. Isu lingkungan merupakan induk tema pada zona ini. Seniman mural mendesain gambar tentang zero waste, pemilahan sampah, 3R (reduce, reuse, recycle), dan lain-lain. Berhubung penduduk di zona ini banyak memiliki anak kecil, mural dituangkan dalam bentuk permainan seperti ular tangga, mencari perbedaan, dan teka teki silang.

Terakhir adalah zona “local culture” di wilayah RT 1 dan 2 yang mengangkat isu kearifan ranah budaya Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke. Di zona ini, mural yang dibuat memiliki kekuatan komunikasi yang diharapkan bisa membangun rasa cinta terhadap kearifan kebudayaan lokal.

Misi Cibunut ini sebenarnya belum rampung 100%. Paling-paling baru terwujud sekitar 80%. Itu karena mereka mengandalkan inisiatif dan kepedulian warga untuk turun langsung mendandani kampungnya. Lantas, wajar saja jika pro dan kontra bermunculan. “Misal, ada masyarakat yang tidak mau disamakan warna catnya, ya tidak apa dilewat saja. Yang penting ada usaha membangun daerah,” kata Herman.

Lagipula, sejak awal Herman menetapkan prinsip ngeureuyeuh (tekun-red). Yang penting, misi warga Kampung Cibunut untuk “menebar keceriaan di tengah sempitnya permukiman kota” setidaknya membuahkan hasil.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar