Yamaha Aerox

Kenapa Gerobak Mie Ayam Berwarna Biru?

  Senin, 08 Januari 2018   Arfian Jamul Jawaami
Gerobak mie ayam. (Arfian Jamul J/ayobandung)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Diameternya lebih besar dari kebanyakan jenis mie di Indonesia. Memiliki tekstur super lembut dan terasa kenyal saat dikunyah. Alasan yang buat mie ayam jadi begitu paripurna untuk sajian menu alternatif makan siang.

Popularitas mie ayam luar biasa booming di tanah air. Gerobak mie ayam hadir di segala penjuru kota dan memiliki nilai proximity di hati masyatakat. Begitu dekat namun menyimpan satu misteri massal.

Loh misteri macam apa? Sadar tidak sadar, mayoritas gerobak mie ayam di Indonesia memilih biru sebagai warna utama. Walau misteri tersibak namun hingga kini belum ada jawaban pasti mengenai alasan di balik pemilihan warna biru.

Padahal, warna biru dipercaya dapat menurunkan selera makan. Artinya, tidak baik digunakan untuk citra bisnis makanan. Biru lebih identik dengan kesegaran dan serasi jika digunakan sebagai colour image perusahaan air mineral. 

"Tidak ada pilihan lain. Kalau ingin dilihat menjual mie ayam maka harus memilih warna biru. Saya hanya mengikuti tradisi massal," ujar Yulianto, pedagang mie ayam di kawasan Setiabudi Bandung.

Ketika berbicara tentang tradisi, maka tidak dapat dilepaskan dari fakta sejarah yang melatarbelakanginya. Tentu pendekatan sejarah digunakan agar dapat menjawab misteri mie ayam dan warna biru. 

Beberapa literatur menjelaskan, mie ayam dibawa oleh para imigran Cina Selatan yang berasal dari pelabuhan Fujian dan Guandong. Sejak saat itu, mulai berkembang Vreemde Oosterlingen atau berarti pemukiman masyarakat Timur di Hindia Belanda (kini Indonesia).  

Kehadiran para imigran tentu melahirkan tabiat dan preferensi selera makan berbeda dengan yang sebelumnya berkembang di masyarakat pribumi. Alhasil, mie ayam lahir sebagai keturunan asli dari makanan khas Tiongkok yaitu bakmi.

Layaknya mie ayam, bakmi juga terbuat dari tepung terigu namun disajikan dengan kuah terpisah. Tidak lupa taburan daging babi selalu menyertai sebagai lauk pilihan.

Ketika hijrah ke Indonesia, adaptasi dilakukan dengan mengganti babi menjadi daging ayam semur kecap dan kuah tidak dibuat terpisah. Dilakukan sebagai upaya penyesuaian adat dan lidah lokal. 

Walau keturunan Tiongkok, tidak kemudian membuat gerobak mie ayam menjadi berwana merah. Padahal warna merah identik dengan kebudayaan Tiongkok. Artinya, alasan pemilihan biru sebagai warna gerobak tidak menggunakan pendekatan sejarah.

"Kalau merujuk pada budaya Tiongkok yang identik dengan warna merah, maka biru tidak mewakili itu," ujar praktisi hotel, Hafil Ramadhan pada ayobandung.

Di tanah air, mie ayam tidak dapat dilepaskan dari Kabupaten Wonogiri. Mirip seperti kisah pemangkas rambut yang mayoritas berasal dari Garut atau pecel lele asli Lamongan, Wonogiri jadi kawasan penghasil pedagang mie ayam.

Aliran mie ayam khas Wonogiri banyak diadopsi oleh para pedagang di Kota Bandung. Cirinya dapat dilihat dari penataan posisi lauk pauk seperti potongan ayam dan sawi rebus yang diletakan pada bagian atas mie. Soal racikan bumbu, pedagang asal Wonogiri juga memiliki citra khusus karena menggunakan minyak sayur dan lada.

"Kami para pedagang mie ayam percaya kalau warna biru pertama kali digunakan di Wonogiri. Soalnya mewakili identitas ningrat darah biru," ujar Badrul Adzani, pedagang mie ayam di kawasan Gegerkalong Bandung.

Lain cerita jika menggunakan pendekatan fungsi, maka pemilihan warna biru dipandang sebagai solusi yang bijak. Secara ilmiah biru merupakan salah satu dari tiga warna primer additif selain merah dan kuning. Berada diantara warna sian dan nila. 

Selain itu, warna biru memiliki panjang gelombang yang pendek sekitar 450 sampai 490 nanometer. Artinya, warna biru memiliki kemampuan untuk meminimalisir partikel angin dan debu sehingga tidak mudah kotor.

Hingga kini ayobandung masih terus mencari fakta di balik warna biru pada gerobak mie ayam. Kini, biarkan itu tetap menjadi misteri massal yang entah apa jawabnya.

 

 

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar