web analytics
Pertumbuhan Pusat Perbelanjaan di Jabar Meningkat
Oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil, pada Dec 31, 2017 | 12:25 WIB
Pertumbuhan Pusat Perbelanjaan di Jabar Meningkat
Beberapa pengunjung sedang berada di 23 Paskal Shopping Centre, Kamis (18/5/2017).(Anggun/AyoBandung)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM—Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia atau APPBI Jawa Barat mencatat pertumbuhan pusat perbelanjaan di provinsi tersebut meningkat.

APPBI menyebutkan saat ini terdapat 60 pusat perbelanjaan yang ada di Jabar.

Ketua APPBI Jabar Didie S. Markibah mengatakan sebanyak 25 pusat perbelanjaan terdapat di Kota Bandung. Adapun jumlah pusat perbelanjaan tersebut belum termasuk factory outlet.

Ia menjelaskan, hingga saat ini ruang untuk mendirikan mall di Jabar masih terbuka lebar mengingat tingkat pertumbuhan ekonomi tergolong tinggi.

“Sebagian besar pusat perbelanjaan di Bandung terkonsentrasi di wilayah tengah. Sementara, daerah timur dan selatan kota jumlahnya sangat terbatas serta dipandang tidak sebanding dengan potensi ekonomi yang ada,” ujarnya kepada ayobandung, Minggu (31/12/2017).

Di luar Bandung, sebut dia, Cirebon, dan Tasikmalaya sebagai daerah potensial untuk pengembangan pusat perbelanjaan.

Ia menjelaskan, Tasikmalaya memiliki kelompok industri kreatif yang potensial dan Cirebon kuliner serta fesyen.

"Kalau buat saya sih Cirebon bagus. Sekarang terbukti ada tiga atau empat mall di sana. Juga daerah Tasikmalaya. Tapi, memang untuk daerah yang kurang, masih Kuningan dan Majalengka. Mungkin disebabkan populasinya juga relatif lebih sedikit," turur Didie.

Sayangnya, meski dicap sebagai daerah wisata belanja, rupanya masih membuat Bandung dan Jabar rentan terhadap peredaran barang palsu. Di sisi lain, implementasi Pasar Bebas Asean mendatangkan lebih banyak wisatawan asing ke Indonesia.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan ekonomi pada triwulan III/2017 di Jabar mencapai 5,19%.

Penjualan Barang Turun

Meski demikian di lapangan angka tersebut justru menekan pendapatan para pengelola pusat perbelanjaan.

Bila biasanya pelaku usaha menikmati kenaikan penjualan di kisaran 5%-6%, maka pada tahun ini menyusut ke level 2%-3%.

Kondisi tersebut terlihat di dua pusat perbelanjaan yakni Bandung Indah Plaza (BIP)  dan Istana Plaza (IP).

"Kalau 2016 menuju 2017 itu peningkatannya bisa 5%. Sekarang cuma sekitar 2%-3%. Saya tidak tahu alasan yang memengaruhinya secara pasti,” katanya.

Didie memprediksi sektor fesyen dipengaruhi perubahan gaya berbelanja masyarakat.

"Pertumbuhan sektor fesyen sebenarnya masih bagus cuma tidak sebagus tahun lalu. Sudah banyak e-commerce atau platform online jadi mungkin sebagian lari ke sana,” ujarnya.

Didie pun kembali melihat adanya perubahan pola gaya berbelanja pula khususnya bagi generasi milenial yang terkenal dengan generasi yang melek internet.

"Sekarang gaya dan pola berbelanjanya generasi milenial cenderung tidak mau pusing. Tinggal buka hp dan langsung order produk,” katanya.

Permintaan Ritel

Berbagai tenant di pusat perbelanjaan belum mampu memenuhi permintaan dari para retailer yang ingin berekspansi.

“Permintaan besar terutama untuk tenant makanan dan minuman. Buktinya di IP tahun ini buka tenant baru delapan, sedangkan BIP ada tiga tenant baru,” ujarnya.

Selain itu, Didie menambahkan, sebagian besar pusat perbelanjaan di Bandung terkonsentrasi di wilayah tengah. Sementara, daerah timur dan selatan kota jumlahnya sangat terbatas serta dipandang tidak sebanding dengan potensi ekonomi yang ada.

Di luar Bandung, Cirebon, dan Tasikmalaya pun disebut-asebut sebagai daerah yang prospektif untuk pengembangan pusat perbelanjaan. Tasikmalaya disebut mempunyai kelompok industri kreatif yang potensial dan Cirebon mulai berfokus mempromosikan berbagai sektor wisata terutama kuliner dan fesyen.

"Kalau buat saya sih Cirebon bagus. Sekarang terbukti ada tiga atau empat mall di sana. Juga daerah Tasikmalaya dan Garut. Tapi, memang untuk daerah yang kurang, masih Kuningan dan Majalengka. Mungkin disebabkan populasinya juga relatif lebih sedikit," turur Didie.

Sayangnya, meski dicap sebagai daerah wisata belanja, rupanya masih membuat Bandung dan Jabar rentan terhadap peredaran barang palsu. Di sisi lain, implementasi Pasar Bebas Asean mendatangkan lebih banyak wisatawan asing ke Indonesia.

Editor : Adi Ginanjar Maulana
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Mio S Socmed Ayo Bandung 160x600