web analytics
Komunitas 1.000 Kebun, Solusi Berkebun di Tengah Kota
Oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil, pada 25 Dec , 2017 | 15:48 WIB
Komunitas 1.000 Kebun, Solusi Berkebun di Tengah Kota
Koordinator Komunitas 1.000 Kebun Sri Putrianti bersama anggota komunitasnya. (AyoBandung/Eneng Reni)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Dewasa ini, kegiatan berkebun tak hanya dilakukan oleh masyarakat pedesaan, tapi juga perkotaan. Urban framing, istilahnya. Kegiatan bercocok tanam yang mulai merambah minat orang-orang kota.

Kegiatan ini kerap dilakukan dengan menanam aneka buah dan sayur-mayur di lahan-lahan kosong di sekitar permukiman penduduk, atau bahkan di halaman rumah masing-masing.

Kalau penasaran, tengok saja Komunitas 1.000 Kebun. Dibentuk pada Juni 2015, komunitas ini jadi salah satu kelompok di Bandung yang menggagas gerakan berkebun organik. Visinya untuk mengedukasi masyarakat agar tertarik bertanam tanpa menggunakan pestisida dan zat-zat kimia berbahaya lainnya.

"Komunitas ini ingin mengedukasi masyarakat untuk bergaya hidup sehat melalui makanan. Caranya dengan menanam sendiri di rumah," ujar Koordinator Komunitas 1.000 Kebun, Sri Putrianti saat berbicang dengan AyoBandung, belum lama ini. "Komunitas kami juga memang konsen untuk tidak ingin merusak struktur tanah. Kita ingin berkebun kemudian makan makanan sehat juga.”

Awalnya sepele. Sri, sebagai seorang inisiator, melihat lahan kosong yang tepat berada di depan rumahnya di kawasan Arcamanik. Lalu ia punya inisiatif untuk memanfaatkan lahan kosong itu untuk bercocok tanam. Kondisi yang tandus membuat Sri berinisiatif untuk merekondisi lahan dengan pemberian pupuk, sekam, dan membuat tanahnya gembur.

Ada beragam jenis buah dan sayur yang ditanam. Sebut saja anggur, mangga, nanas, bayam, pakcoy, selada, terong, wortel, dan lain sebagainya.

"Untuk sayuran ada yang dapat langsung dipanen dalam waktu singkat, ada juga yang dipanen 3 bulan. Untuk sayuran seperti pakcoy dapat langsung dipanen dalam jangka waktu 40 hari. Sementara untuk bayam dapat dipanen dalam jangka waktu 3 bulan," kata Sri memaparkan. 

Seiring berjalannya waktu, kegiatan berkebun itu pun mulai banyak diikuti oleh warga sekitar. Selain menggelar kegiatan berkebun bersama, komunitas ini juga rutin menggelar pertemuan setiap pekannnya untuk sekadar berkumpul, berbagi, dan membahas program kegiatan. 

Selain itu, setiap satu bulan sekali, mereka juga mengundang narasumber yang berkecimpumg lama di dunia berkebun untuk berbagi informasi dengan para anggota komunitas.

Tak hanya itu, komunitas ini juga sering menggelar helatan. Helatan yang dinamakan Pasar Sehat tersebut menjadi tempat bertemunya para penjual dan pembeli untuk memasarkan produk sayuran dan buah organik.

Tanggal 25 Desember 2017, Komunitas Berkebun melakukan peluncuran Warung 1000 Kebun. Acara itu menjadi wadah bagi anggota komunitas untuk menjual hasil dari kebunnya kepada masyarakat.

"Namun di acara ini juga ada Pasar Sehat. Bukan hanya stan-stan berjualan saja, tetapi kita ada workshop-nya juga. Misalnya bagaimana cara menanam sendiri rumah secara organik. Jadi masyarakat mendapatkan ilmu yang bisa diterapkan di rumah," kata Sri. 

Saat ini, anggota Komunitas 1.000 Kebun telah berjumlah sekitar 256 orang. Mereka datang dari berbagai kalangan. Mulai dari ibu rumah tangga, pensiunan, hingga anak-anak muda. "Anggota yang datang tak hanya dari warga Kota Bandung saja, tetapi juga berasal dari seluruh Indonesia," ujar Sri. 

Nah, kalau kamu ingin tahu lebih banyak soal kegiatan Komunitas 1.000 Kebun, tengok saja akun-akun media sosialnya, sebab mereka cukup aktif di sana. Tak hanya berbagi tips bercocok tanah, tapi juga berbagi informasi-informasi teranyar soal kegiatan mereka. Atau jika penasaran ingin melihat langsung, silakan datang ke markas mereka di Perumahan Arcamanik Endah Perluasan, Kecamatan Arcamanik, Bandung.

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Aerox Socmed Ayo Bandung 160x600