web analytics
Mengintip Peluang Penggunaan Bitcoin di Indonesia
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada Dec 07, 2017 | 15:17 WIB
Mengintip Peluang Penggunaan Bitcoin di Indonesia
Bitcoin.(Reuters)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM—Masih terasa hangat diingatan ketika pelaku teror dunia maya menculik data komputer dengan mengirim virus Ransomware Wannacry ke sekitar 150 negara salah satunya Indonesia. Pemerintah dunia resah dan sang hacker lantas meminta tebusan uang dalam bentuk bitcoin.

Apa itu bitcoin? Bitcoin merupakan mata uang virtual alias cryptocurrency yang dapat ditukarkan dengan barang atau uang sesuai kesepakatan harga untuk tiap kepingnya.

Namun, peredaran bitcoin sangat sulit dilacak karena pengguna tidak harus menyertakan identitas pribadi. Alasan yang membuat para hacker gemar menggunakan bitcoin.

Bitcoin bukan seperti jaringan pembayaran tradisional semisal Visa karena tidak terdapat perusahaan atau individual yang menjalankan fungsinya. Lebih tepatnya bitcoin merupakan desentralisasi jaringan komputer mirip dengan server internet. Artinya tidak ada jaringan pusat yang menjalankan Bitcoin untuk sekadar meminta identitas pengguna.

Kini penggunaan bitcoin mengalami pelarangan di beberapa negara seperti China dan Rusia. Namun tidak dengan Jepang yang justru menghalalkan transaksi bitcoin. Bagaimana dengan Indonesia?

Pelarangan terhadap gangguan arus teknologi merupakan langkah favorit yang kerap diambil Pemerintah Indonesia. Sebelumnya hal serupa pernah terjadi pada aplikasi telegram dan transportasi online. Terkait bitcoin, jalan serupa nampaknya akan dipilih pemerintah Indonesia.

Kebijakan dan imbauan tersebut diinisiasi oleh Bank Indonesia melalui penyusunan peraturan baru yang kini tengah dipelajari agar dapat menghentikan transaksi mata uang virtual tersebut.

Karena menurut undang-undang satu-satunya sistem pembayaran yang sah adalah dengan menggunakan rupiah. Upaya tersebut dilakukan Bank Indonesia semata untuk mencegah kasus pencucian uang, transaski prostitusi, dan obat terlarang serta pendanaan tindakan teroris yang melawan hukum.

Namun persoalan kemudian hadir karena jumlah pengguna Bitcoin di Indonesia terus bertambah di setiap harinya. Sejak masuk ke tanah air pada tahun 2013 silam, pengguna bitcoin telah mencapai angka 500.000.

Terbilang kecil memang jika dibandingkan dengan pengguna internet di Indonesia yang mencapai 132 juta. Namun tidak dengan jumlah transaksinya karena saat ini nilai transaksi harian bitcoin cukup besar yakni mencapai angka US$10 juta.

Terlebih harga bitcoin bersifat fluktuatif layaknya saham dan emas. Namun kini harga bitcoin terus merangkak naik bahkan pada November 2017 lalu sempat menembus angka Rp130 juta.

Seperti dikutip dari Vice Indonesia, pendiri situs trading mata uang virtual kriptologi.com Dimaz Wijaya mengatakan mustahil bagi pemerintah untuk memblokir ekosistem bitcoin. Namun yang bisa dilakukan pemerintah hanya memblokir situs jual beli dan melarang pengembangan platform pembayaran bitcoin untuk pembelanjaan.

Namun Dimaz menambahkan jika hal tersebut hanya akan berujung pada upaya yang sia-sia lantaran pengguna Bitcoin akan selalu menemukan jalan keluar. Justru dengan melarang bitcoin maka Bank Indonesia akan merugi karena aliran transaksi akan lari ke luar negeri.

Dikhawatirkan Dimaz jika Indonesia akan bernasib sama dengan China yang melarang bitcoin pada November 2017 lalu. Setelah China menyatakan larangannya tentu berdampak pada nilai tukar bitcoin yang menurun. Berselang beberapa jam, nilai tukar bitcoin kembali naik ke angka paling tinggi. Hingga kini nyatanya transaksi bitcoin di China tidak terganggu. 

Editor : Adi Ginanjar Maulana
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600