web analytics
Evolusi Jenggot
Oleh Asri Wuni Wulandari, pada Dec 06, 2017 | 15:33 WIB
Evolusi Jenggot
Ilustrasi. (Pexels)

AYOBANDUNG.COM – Johnny Depp adalah sosok pria yang sempurna. Rupawan, badan tegap, dan tubuh penuh tato yang membuat aura seksinya paripurna. Tapi ada satu hal yang tak ia miliki : ia tak bisa menumbuhkan janggutnya.

Untung saja Depp tak galau lantaran janggut yang tak juga tumbuh menjalar. Ia tak perlu iri pada Leonardo Di Caprio, misalnya, yang berhasil membuat janggutnya melebat. Membuat hati perempuan di sekitarnya klepek-klepek.

Atau ia juga tak perlu merasa tidak beruntung jika melihat pelatih klub sepak bola Chelsea, Antonio Conte, yang kini berhasil tampil berjanggut. Alasan Conte berjanggut tak terlalu aneh didengar : karena disuruh istri.

Janggut kini telah menjadi sebuah pernyataan fesyen. Membuat seorang pria tampak lebih macho, gagah, matang, dan penuh wibawa. Sebagaimana dituliskan oleh Esquire, sebuah studi yang dilakukan oleh Northumbeia University, Inggris, mencatat jika alasan pria menumbuhkan janggut adalah setidaknya untuk membuat posisinya lebih tinggi di antara pria lain. Dengan kata lain, agar terlihat keren.

“Biar kelihatan gagah aja, sih,” ujar Yulius Aranto (32), pemuda Bandung yang menumbuhkan janggutnya. Selain tumbuh secara alami, pertumbuhan bulu-bulu gemas yang ada di sekitar dagunya itu juga didorong oleh pulasan krim-krim tertentu. “Nemu, beli di online, haha,” akunya malu-malu.

Itu dilakukan Yulius semata-semata berhasil tampil brewokan di depan lingkungan sosialnya. Apalagi sang kekasih rupanya senang betul dengan janggut yang dimilikinya. Betapa janggut kini telah berevolusi menjadi satu pernyataan fesyen seorang pria yang ingin dinilai gagah.

Tapi, seperti ditulis oleh Christopher Oldstone-Moore dalam Of Beards and Men : The Revealing History of Facial Hair (2015) , jika kebiasaan menumbuhkan janggut tak semata-mata sebuah pernyataan fesyen. Lebih dari itu, janggut memberi tahu kita tentang sejarah dan budaya umat manusia secara keseluruhan. Sejarah manusia, menurutnya, tertulis dalam lebatnya bulu janggut.

Sejak awal janggut berada, janggut merupakan sebuah kebutuhan untuk manusia prasejarah. Melihat teksturnya yang tebal, geli, dan menggumul, janggut punya kegunaan untuk menghangatkan diri dari udara dingin. Janggut mulanya difungsikan untuk melindungi manusia dari unsur-unsur eksternal yang mengerikan.

Selanjutnya, peradaban Mesopotamia sangat memperhatikan eksistensi janggut. Orang pada masa itu, meminyaki janggutnya dengan hati-hati. Lantas mereka buatlah si janggut itu berbentuk melengkung dan menjepitnya. Itu dilakukan semata-mata untuk membuat bentuk janggut yang ikal dengan pola yang rumit.

Gerakan janggut ini dipercaya pertama kali muncul dari seorang Kaisar Romawi Hadrian pada abad ke-2 SM. Ia adalah seorang pengikut aliran filsafat stoik, dan ia percaya jika janggut adalah simbol kebijaksanaan.

Lantas, janggut kembali populer di abad ke-20 melalui sebuah counter culture. Adalah para Beatnik – sebutan bagi mereka yang tergabung dengan Beat Generation – di tahun 1950an. Tengok saja janggut eksentrik yang tumbuh di wajah Allen Ginsberg, seorang penyair mbeling cum salah satu penggagas Beat Generation.

Dan, sebagaimana peran Beat Generation yang punya pengaruh besar terhadap generasi-generasi subkultur selanjutnya, tradisi janggut eksentrik ala Ginsberg menular pada era hippies atau flower generation di tahun 1960-an. Utamanya, janggut kala ini dipopulerkan pula oleh musisi-musisi sekaliber The Beatles. Coba kau ingat-ingat betapa gemasnya kau pada janggut John Lennon yang dikombinasikan dengan kacamata bundar.

Dan, saat ini, mengutip Bustle, 55% pria memiliki janggut di wajahnya. Apa alasannya? Jelas untuk tampil lebih menarik.

Semakin banyak penelitian yang menunjukkan jika janggut menyimpan pesan sosial yang dalam dan dapat memainkan peran penting dalam kehidupan cinta seorang pria.

Menukil The New York Times, para periset dari University of Queensland di Australia pada tahun 2015 lalu mengeksplorasi peran janggut untuk seorang pria. Hasilnya, janggut memang memainkan peran dalam daya tarik seksual, maskulinitas, hingga kelanggengan sebuah hubungan asmara.

Secara keseluruhan, mayoritas dari 8.520 perempuan mengatakan jika pria seksi adalah pria yang gemar berolahraga, disusul oleh kepemilikan janggut yang tidak terlalu banyak.

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600