web analytics
Dia yang Pertama Kali Membikin Karya Fotografi di Bumi
Oleh Asri Wuni Wulandari, pada Nov 22, 2017 | 14:01 WIB
Dia yang Pertama Kali Membikin Karya Fotografi di Bumi
Ilustrasi Joseph-Nicephore Niepce. (AyoBandung/Fathin Arif)

AYOBANDUNG.COM – Dalam dunia fotografi, Louis Daguerre dengan setia tampil sebagai salah satu bapak tertuanya. Proses fotografi yang dipatenkannya, daguerrotype, digunakan secara luas selama hampir dua puluh tahun di awal abad ke-19. Berbagai gambar tokoh-tokoh dunia termasuk Abraham Lincoln dan Edgar Allan Poe sempat terbingkai dalam bidikannya.

Pepatah Cina mengatakan jika akan selalu ada orang hebat di balik orang hebat. Siapa yang nyana jika daguerreotype sesungguhnya merupakan perpanjangan tangan dari sebuah karya ilmiah hebat yang dihasilkan dari tangan orang lain?

Adalah tangan milik Joseph-Nicephore Niepce yang “membantu” Daguerre menjadi seorang bapak fotografi.

Jika saja pergolakan massa gila-gilaan tak terjadi di Prancis kala itu, barangkali Niepce tak pernah punya pikiran untuk mencari kehidupan yang anyar. Transformasi sosial politik dalam Revolusi Prancis yang dimulai sejak 1789 itu membuka mata si pria muda. Ia mengubah tujuannya.

Niepce lahir Charlon-sur-Saone, Prancis pada 7 Maret 1765. Ayahnya adalah seorang pengacara kaya raya, yang kemudian membuat keluarganya harus melarikan dari Revolusi Prancis, menuju sebuah pengasingan.

Perubahan kehidupan Niepce bermula pada pengembangan sebuah mesin pembakaran internal yang digunakan di kapal air. Penemuan itu, disebut-sebut pula sebagai yang pertama di dunia. Perlahan, sistem mesin pembakaran itu kian berkembang dengan inovasi-inovasi anyarnya.

Semakin berkembang sistem yang pernah digagasnya, barangkali saja, Niepce semakin bosan. Tak butuh waktu lama akhirnya bagi pria yang pernah bekerja sebagai pegawai administrasi militer Prancis ini untuk mengalihkan perhatiannya pada litografi.

Litografi adalah sebuah teknik mencetak gambar di atas permukaan licin. Pertama kali ditemukan oleh seorang aktor cum penulis Jerman, Alois Senefelder pada tahun 1798. Meski metode ini terbilang rumit, namun litografi berhasil bikin entrepreneur-entrepreneur di awal abad ke-19 kepincut. Mary Warmer Warien dalam Photography : A Cultural History menulis jika pada masanya, para entrepreneur ini melihat jika litografi punya kabisa untuk mengungguli metode-metode kuno pembuatan ilustrasi.

Kurangnya kemampuan untuk menggambar di atas bidang licin tak membikin Niepce patah arang. Ia justru mulai melakukan eksperimennya pada tahun 1916. Kala itu, ia menggambar dengan menggunakan cahaya melalui sebuah alat kuno yang dikenal dengan camera obscura. Hasilnya, kabur.

Eksperimen pertama, Niepce gagal. Cahaya matahari yang tak bisa disetop membuat warna yang dihadirkan malah terbalik. Objek terang menjadi gelap, dan sebaliknya, objek gelap menjadi terang. Ini pula yang kemudian kita kenal dengan istilah film negatif.

Lagi-lagi, Niepte tak patah arang. Ia terus mencoba, meski tanpa kesuksesan. Lantas, ia menggunakan negatif – seperti yang kita gunakan sekarang – yang dicetak untuk membuat gambar positif. Dengan begitu, warna berbalik ulang.

Setelah serangkaian trial and error, pada tahun 1822, Niepce mengembangkan proses fotografinya sendiri, yang ia sebut dengan heliografi. Ia mencoba menggabungkan kata “helios” dan “graph” dalam bahasa Yunani yang artinya “menulis matahari”.

Menukil Open Culture, Niepce memulainya dengan mencampur bahan kimia pada piring timah datar, lalu meletakkannya di dalam kamera. Setelah memaparkan piring dengan cahaya hingga terang selama delapan jam, ia kemudian mencuci dan mengeringkannya.

Lantas, yang tersisa adalah sebuah gambar buram – seperti yang kita lihat di atas. Foto itu berjudul "View from the Window at Le Gras" yang diambil dari tempatnya bekerja, sebuah perkebunan negara milik Prancis.

Foto itu dibuat pada tahun 1826. Dan foto ini pula yang disebut-sebut sebagai cetakan foto pertama di dunia.

Di tahun 1827, Niepce menemui Claude di London, Inggris, saudara kandungnya sekaligus partner-nya saat membuat mesin pembakar untuk kapal air. Namun tak dinyana, kondisi sang saudara kandung tak seperti yang diharapkannya. Kondisi kesehatan ditambah pula dengan kondisi ekonomi Claude membikinnya berkecil hati. Ia kemudian berpikir keras untuk mencari pendukung atawa pendonor dari penemuan ilmiah soal heliografinya.

Niepce menemui ahli botani Inggris, Francis Bauer. Ia mempresentasikan makalah tentang penemuan terbarunya itu kepada jajaran anggota Royal Society.

Lalu, apa lacur. Usahanya ke Inggris sia-sia. Temuannya ditolak lantaran ia tak mau untuk membuka secara rinci teknik yang ia temukan, dengan harapan dapat memperoleh keuntungan ekonomi dengan metode yang dimilikinya.

Terpaksa, Niepce harus kembali ke Prancis dengan gigit jari.

Dalam perjalanannya, Niepce bertemu dengan seorang pelukis cum penata artistik panggung teater, Daguerre. Untuk melengkapi artistiknya, Daguerre kerap menggunakan camera obscura.

Setelah perjalanan mengecewakannya ke Inggris, bersamaan pula dengan kematian saudaranya, Claude, pada tahun 1828, semangat Niepce kian terbakar. Ia memutuskan untuk bekerja sama dengan Daguerre demi mengembangkan proses “menulis matahari”-nya. Niepce mengubah piringan timah dengan piringan tembaga berlapis perak sebagai medium gambarnya.

Sejarawan fotografi, Alison dan Helmut Gernsheim pernah berkata jika Daguerre tak bisa memproduksi sebuah karya fotografi tanpa mengenalkan Niepce.

Dalam kontrak yang ditandatangani pada 14 Desember 1829, Daguerre berjanji untuk memberikan Niepce sebuah camera obscura yang lebih baik. Sementara Niepce berjanji untuk menunjukkan pada Daguerre teknik mendetail dari “menulis cahaya” dengan menggunakan camera obscura-nya, sebagaimana yang ia temukan saat di perkebunannya.

Namun nahas. Setelah kerja sama dilakukan, Daguerre mengaku jika camera obscura yang diberikannya pada Niepce adalah tak ubahnya kamera usang yang jelek dan tidak cukup baik untuk menghasilkan gambar yang bersih.

Dan, ketika Niepce meninggal pada tahun 1833, Daguerre mengambil alih hasil penelitian ilmiah Niepce. Membuat nama Daguerre hingga kini tercatat dalam sejarah fotografi dunia.

Daguerre boleh saja menerima banyak pujian. Tapi tetap saja, apa yang diperkenalkannya pada dunia, hanyalah perpanjangan dari mahakarya seorang teman, Niepce dan heliografinya.

 

Sumber foto : Harry Ransom Center

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600