web analytics
Persib di Golden Era : Mengawali dengan Mewah Namun Gagal Happy Ending
Oleh Anggun Nindita Kenanga Putri, pada Nov 15, 2017 | 14:33 WIB
Persib di Golden Era : Mengawali dengan Mewah Namun Gagal Happy Ending

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Liga 1 telah berakhir pada Minggu (12/11/2017) lalu. Bhayangkara FC yang sebelumnya bukan tim unggulan justri keluar sebagai juara. 
Sedangkan tim kebanggaan masyarakat Jawa Barat, yaitu Persib Bandung cuma bisa bercokol di peringkat ke-13. Persib hanya mengumpulkan total 41 poin dari total keseluruhan 34 pertandingan.

Hasil tersebut tentu saja mengecewakan bagi tim berjuluk Maung Bandung ini serta pendukungnya. 

Mengawali kompetisi dengan menjanjikan, Persib memiliki target untuk kembali menjadi tim yang masuk kasta tertinggi di kompetisi Liga 1. Seperti yang diketahui, Persib berhasil keluar menjadi juara pertama saat ISL 2014 saat berhasil mengalahkan Persipura lewat adu pinalti.

Persiapan Persib menuju Liga 1 tidaklah main-main. Atep dan kawan-kawan sudah menjalani latihan lebih awal untuk memasuki kompetisi yang sesungguhnya. Perombakan tim pun dilakukan oleh manajemen agar mendapatkan skuat yang terbaik. Persib berhasil ‘memulangkan’ beberapa  pemain andalannya yang sempat hengkang, seperti Ahmad Jufriyanto dan Vladimir Vujovic.

Gebrakan dibikin oleh Persib saat tim Maung Bandung tiba-tiba mendatangkan dua pemain kelas dunia yakni Michael Essien dan Carlton Cole sebagai marquee player.

Foto Ayo Bola.

Kedatangan kedua pemain eks Chelsea ini disambut heboh oleh para bobotoh yang tidak sabar menyaksikan aksi Essien dan Cole merumput bersama Persib. Langkah Persib yang berhasil mendatangkan marquee player ini diikuti juga oleh beberapa tim besar lainnya, seperti Madura United dan PSM Makassar yang juga merekrut pemain kelas dunia untuk timnya.

Sebelum memasuki kompetisi resmi, manajemen Persib mengadakan launching yang digelar di Stadion Siliwangi. Launching Persib juga sekaligus sebagai puncak acara dari ulang tahun Persib yang ke-84. Dalam acara tersebut, Essien dan Cole resmi diperkenalkan kepada publik sebagai bagian dari tim Maung Bandung. Selain itu Persib juga sudah resmi menggandeng Raphael Maitimo, pemain naturalisasi yang pernah memperkuat Timnas Indonesia, sebagai pemain baru Persib dalam musim ini.

Foto Ayo Bola.

Dalam pertandingan-pertandingan pertama di musim awal kompetisi Liga 1, Persib tampil dengan konstan. Melawan beberapa tim besar, seperti Arema FC dan Persipura Jayapura, Persib mampu menahan imbang kedua tim kuat tersebut. Tim asuhan Djajang Nurdjaman kala itu juga sempat memuncaki klasemen sementara di Liga 1.

Tapi memasuki pertengahan musim Persib mulai terlihat menurun performanya. Hasil seri terus dituai Maung Bandung. Beberapa kali pertandingan away pun, Maung Bandung harus terima sukses dibungkam oleh musuhnya.

Apalagi Persib saat itu juga mulai sering tidak diperkuat oleh kedua pemain muda andalannya, yakni Febri Hariyadi dan Gian Zola yang harus ikut pelatihan di Timnas. Febri Hariyadi sendiri menjadi salah satu mesin gol Persib di musim pertama Liga 1.

Ketika Persib bertemu dengan Bhayangkara FC di Stadion Patriot Chandrabaga pada Juni lalu, Maung Bandung harus ditekuk oleh tuan rumah dengan skor akhir 2-0 di pekan kesembilan kompetisi Liga 1. Bobotoh yang semakin tidak puas karena Persib sudah banyak puasa kemenangan akhirnya menyerukan agar pelatih Persib, Djajang Nurdajaman mengundurkan diri. Akhirnya, pelatih kelahiran Majalengka itu pun menyatakan untuk mundur dari kursi kepelatihan.

Pelatih yang menghantarkan Persib menjadi juara ISL 2014 dan Piala Presiden 2015 itu mengundurkan diri lantaran tidak tahan dengan tekanan yang diberikan oleh netizen.

"Iya, pertimbangan utamanya (untuk mundur) adalah keluarga. Mereka tidak rela melihat saya dihina dengan perkataan-perkataan yang tidak etis," ujarnya kala itu.

Djanur pun mengirimkan surat pernyataan pengunduran dirinya kepada manajemen Persib, tapi surat pengunduran diri itu belum direspon oleh manajemen di PT PBB. Sebenarnya manajemen Persib sendiri tidak menyetujui pengunduran diri Djanur. Hingga akhirnya Djanur kembali melatih Persib. Bobotoh yang awalnya banyak menyerukan Djanur untuk mundur pun kembali memohon agar bisa kembali ke Persib.

Foto Ayo Bola.

Akhirnya pada pekan ke-15, saat Persib kalah melawan Mitra Kukar, Djanur benar-benar mengundurkan diri. “Secara pribadi saya juga sudah bicara dengan manajer tadi, dengan manajemen lainnya belum. Tapi insya Allah mereka akan mengizinkan saya untuk kali ini, karena saya tidak bisa mengangkat performa tim yang terus-terusan seperti ini," ungkapnya.

Sepeninggal Djanur, Persib ditangani oleh asisten pelatihnya yaitu Herrie Setyawan. Di bawah kepemimpinan pria yang akrab disapa Jose itu, Persib sempat kembali menunjukan tren yang positif. Hal ini membuat reputasi Jose pun naik di masyarakat.

Namun Persib lagi-lagi harus tercoreng namanya setelah laga panas melawan tim yang menjadi musuh bebuyutannya, Persija Jakarta.

Big match kedua tim itu harus dinodai dengan tewasnya salah seorang bobotoh ditangan para oknum bobotoh yang tidak bertanggungjawab. Adalah Ricko Andrean, pemuda 22 tahun yang harus meregang nyawa akibat dianiaya. Setelah dirawat selama beberapa hari di Rumah Sakit Santo Yusup, Ricko pun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

Meninggalnya Ricko Andrean sempat memunculkan wacana akan perdamaian antar suporter kedua tim, Bobotoh dan The Jak yang memang punya memori panjang soal pertikaian. Saat itu panglima Viking, Yana Umar kerap adakan pertemuan dengan ketua The Jak, Ferry Indrasjarif.

Foto Ayo Bola.

Memasuki musim keduanya, performa Maung Bandung belum memperlihatkan peningkatan yang berarti. Penampilan kedua marquee player yang awalnya diharapkan dapat mendongkrak prestasi tim, nyatanya jauh dari harapan. Carlton Cole akhirnya tidak diperpanjang kontraknya di musim kedua. Lantaran menurut Umuh Muchtar, manajer Persib, Cole mengalami cidera sehingga tidak bisa berkontribusi banyak kepada tim.

“Iya dia (Cole) tidak banyak dimainkan karena mengalami cidera. Jadi kontraknya tidak diperpanjang,” kata Umuh.

Foto Ayo Bola.

Persib akhirnya menemukan pelatih pengganti Djanur, yakni Emral Abus. Pelatih asal Sumatera Barat ini bukanlah sosok yang asing bagi Persib, karena pernah melatih Persib dalam ajang piala AFF tahun 2015 lalu. Di tangan pelatih yang merupakan instruktur pelatih dan juga dosen ini, bobotoh banyak menaruh harapan agar Maung Bandung bisa kembali tunjukan taringnya. Dalam debut pertamanya, Emral sukses membawa Persib menang 4-1 atas tuan rumah Sriwijaya FC.

Foto Ayo Bola.

Tren positif itu tapi tidak bertahan lama. Persib kembali melempem, baik di kandang maupun di tandang, Persib hanya mampu hasilkan skor imbang. Bahkan Persib didapuk menjadi tim dengan hasil seri terbanyak, yakni 14 kali seri.

Padahal Persib didukung oleh banyak pemain bintang, seperti Ahmad Jufriyanto dan Raphael Maitimo yang pernah bermain di Timnas Indonesia. Sederet pemain tengah yang mentereng dengan kemampuan di atas rata-rata, seperti Kim Kurniawan, Dedi Kusnandar, dan Hariono. Juga talenta muda berbakat, yakni Gian Zola, Febri Hariyadi, dan Henhen Herdiana. Tapi tidak juga bisa mendongkrak prestasi Persib agar bisa naik ke papan atas.

Caretaker Herrie Jose sempat menyatakan bahwa timnya sudah berusaha keras di setiap pertandingan. Tapi tingkat kolektivitas dan kerja sama di lapangan yang harus ditingkatkan.

“Komunikasi dan kolektivitas di lapangan lah yang harus dievaluasi,” katanya.

Bobotoh yang lagi tak mentolerir hasil buruk Persib, akhirnya melalukan gerakan Long March dari GOR Saparua hingga ke Graha Persib. Tujuannya adalah menyampaikan kepada manajemen di PT PBB atas kekecewaan mereka terhadap Persib.

Persib sendiri semakin keok saat dikalahkan Perseru Serui di laga akhir Liga 1 yang diselenggarakan di Stadion Si Jalak Harupat pada Minggu (12/11/2017) lalu. Tim Cendrawasih Jingga itu bahkan berhasil pecahkan rekor Persib yang belum pernah kalah di kandang selama tiga tahun. Dengan hasil kekalahannya itu, Persib pun gagal happy ending.

Persib sendiri kini memasuki masa "Golden Era". Era dalam bahasa Sunda artinya "memalukan", di mana pada musim ini Persib gagal mencatat hasil positif dan harus banyak menanggung malu dari serangkaian tren negatifnya.

Editor : Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600