web analytics
Sepakbola Italia Sedang Membusuk!
pada Nov 14, 2017 | 11:53 WIB
Sepakbola Italia Sedang Membusuk!
Ekspresi pemain Italia saat gagal ke Piala Dunia 2018. (Reuters)

MILAN, AYOBANDUNG.COM -- Sepakbola Italia sedang membusuk! Begitulah ungkapan yang pas untuk menggambarkan kegagalan Italia melaju ke putaran final Piala Dunia 2018. 

Selasa (14/11) dini hari, ratusan juta pasang mata di seluruh dunia menjadi saksi bagaimana Italia bermain membosankan hingga tak mampu menjebol gawang Swedia yang berada 10 peringkat di bawahnya. Italia gagal lolos setelah kalah 1-0 di leg pertama dan bermain imbang tanpa gol di leg kedua. 

Kegagalan ini merupakan yang kedua bagi Italia, pertama tahun 1958, dalam sejarah keikutsertaannya di Piala Dunia sejak 1930. Kegagalan dini hari tadi juga menjadi kenangan paling memalukan dalam sejarah sepakbola Italia.

Siapa yang paling bertanggung jawab dalam kegagalan ini. Jawabannya sudah pasti sang pelatih Giampiero Ventura.

Di bawah Ventura, Italia kehilangan kedalaman dalam segi permainan, taktik, dan pemilihan komposisi pemain. Ventura juga mengkerdilkan talenta para pemainnya. Ujung-ujungnya menjadikan mental pemain lembek. Tak ada pemain setangguh Paolo Maldini atau Gennaro Gattuso yang bisa mengobarkan mental bertanding. Atau pemain berotak cerdas macam Andrea Pirlo yang bisa memecah kebuntuan.

Namun pertanyaan mengapa Ventura - pria tua yang tidak memiliki kualifikasi terbaik - justru ditempatkan sebagai pelatih Italia. 

Padahal Italia terkenal menghasilkan pelatih kawakan dan paling berinovasi dibandingkan negara Eropa lainnya. 

Buktinya, musim lalu dari tiga benua yang menjadi ajang lima liga sepakbola paling prestisius dunia dimenangkan oleh pelatih asal Italia. Fakta lainnya, empat pelatih berbeda asal negeri Pizza ini memenangkan trofi Liga Utama Inggris dalam tujuh musim terakhir.

Tapi Federasi Sepakbola Italia (FIGC) malah memilih pria yang sudah berumur 70 tahun dan tidak pernah menukangi tim besar sepanjang karirnya yang sudah mencapai empat dasawarsa. Ventura tercatat hanya sekali memenangkan trofi di Serie C dan dua kali di Serie D.

Ventura adalah pelatih pelatih "kelas dua" yang dipilih FIGC bukan karena kualitasnya tapi karena memiliki hubungan dekat dengan ketua FIGC Carlo Tavecchio. Sebenarnya kedua pria tua ini, Tavecchio (74), yang paling bertanggung jawab atas membusuknya sepakbola Italia dalam waktu belakangan ini.

Tavecchio merupakan pria "peninggalan" zaman purba yang beruntung memiliki umur panjang. Ia adalah seorang rasis yang pernah secara tersirat mengatai pemain tengah Lazio asal Kamerun Joseph Minala seorang kera. 

Sikap rasisnya ini bertentangan dengan semangat FIFA khususnya UEFA yang menentang isu rasisme. Namun Tavecchio bukan pria sembarangan. Ia bisa membungkam semua pihak yang mengangkat isu rasis dalam pemilihan Ketua FIGC 2014 hingga ia terpilih menjadi orang paling berkuasa di federasi sepakbola Italia.

Orang-orang pendukung Tavecchio ternyata sama-sama pria tua yang masih memiliki pengaruh kuat dalam sepakbola dan pemerintahan. Sebut saja CEO AC Milan Adriano Galliani dan mantan petinggi Milan serta PM Italia Silvio Berlusconi. Keduanya menjadi pengikut setia Tavecchio. Di sisi lain, tak heran jika Milan sekarang tampil jeblok tanpa kharisma.

Seorang anggota parlemen Italia di era Berlusconi, Franco Carraro, mengatakan tak ada kritikan atau langkah apapun saat Tavecchio bertingkah rasis. Bahkan oposannya pun semua diam.

Sepakbola Italia menanti orang-orang muda berjiwa revolusi untuk membangkitkan kembali kejayaan Azzuri. "Fosil-fosil" semacam Tavecchio dan Galliani sudah waktunya mangkat. Kepentingan politik dalam sepakbola sudah waktunya diputus.    

Banyak hal yang perlu diperbaiki dari hulu hingga hilir. 

Mulai dari urusan menurunnya animo pubik menyaksikan sepakbola secara langsung di stadion, sikap rasis yang tak pernah dihukum, dan keangkuhan sejumlah klub yang enggan mengembangkan bisnisnya. 

Sementara di dalam lapangan, sudah jelas kuantitas dan kualitas sepakbola Italia sedang terjun bebas. Peringkat lima besar Serie A saat ini hanya jagoan kandang. Napoli pemuncak klasemen tak berkutik saat dilibas Manchester City dua kali berturut-turut di Liga Champions. Begitu juga saat Roma menahan imbang Chelsea 3-3, saat itu Roma tanpa pemain berkebangsaan Italia satupun!.  

Bahkan Si Nyonya Besar Juventus yang bermain imbang 1-1 saat melawan Sporting Lisabon hanya diperkuat tiga pemain Italia. Itupun pemain veteran macam Gianluigi Buffon (39), Andrea Barzagli (36), dan Giorgio Chiellini (33).

Sementara Inter Milan dan Lazio yang tampil baik musim ini, rata-rata hanya diperkuat tiga pemain Italia setiap minggunya.   

Data-data ini sudah jelas menunjukkan Italia sedang bermasalah dalam kaderisasi pemainnya. 

Publik Italia pernah nyinyir dengan mengatakan Liga Utama Inggris saat ini rusak akibat masuknya pemain asing dengan harga selangit. Hal itu berimbas pada penampilan Three Lions. Namun kondisi Italia sekarang ini justru lebih rusak. Inggris masih bisa lolos ke Piala Dunia bahkan menjadi juara grup. 

Saat sepakbola Italia mulai menebar bau sengak, Inggris justru sedang bangit. Tim junior Three Lions U-17 dan U-20 berhasil memenangkan Piala Dunia di kelasnya masing-masing.  

Ketika Italia lolos ke Piala Dunia 1998, Azzuri berlimpah pemain kelas wahid. Kala itu sang pelatih Cesare Maldini membawa empat ujung tombak yaitu Roberto Baggio, Alessandro Del Piero, Christian Vieri, Filippo Inzaghi, dan Enrico Chiesa. Sementara striker lainnya yang tidak dibawa adalah pemain sekelas Gianfranco Zola, Roberto Mancini, Francesco Totti, Giuseppe Signori, Fabrizio Ravanelli, Vincenzo Montella, Pierluigi Casiraghi, dan Paolo Di Canio. 

20 tahun kemudian, Italia miskin striker berkelas dunia. Di lini depan Italia hanya punya Ciro Immobile. Cadangannya pun hanya pemain kelas dua semacam Eder dan Manolo Gabbiadini. Sementara dalam 12 bulan terakhir pemain bernama Leonardo Pavoletti, Gianluca Lapadula, Roberto Inglese, dan Nicola Sansone silih berganti mengisi kekosongan sebagai juru gedor. Tak ada komposisi yang konsisten. 

Catatan lainnya, tim-tim Serie A tak pernah memenangkan trofi Liga Champions sejak 2010. Meski ada Inter Milan yang juara tahun 2010 dengan menumbangkan Bayern Muenchen 2-0, tapi tak satupun pemain asal Italia dalam skuat kemenangan tersebut. Bahkan pelatihnya asal Portugal, Jose Mourinho.    

Begitu juga dalam ajang pemilihan Pemain Terbaik Dunia, Ballon d’Or, Italia tak pernah menang.  

Tentu semua fakta-fakta ini bukan kebetulan. Jika sepakbola Italia dan tim nasionalnya ingin bangkit maka sistemnya perlu diperbaiki secara total dari hulu ke hilir. Dimulai dengan "menendang" pria-pria tua minim prestasi seperti Tavecchio and Ventura.

Source: Goal

Editor : Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600