web analytics
Susi Pudjiastuti: Negara Tak Boleh Kalah dari Pencuri Ikan
Oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil, pada Nov 14, 2017 | 15:55 WIB
Susi Pudjiastuti: Negara Tak Boleh Kalah dari Pencuri Ikan
Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, setelah memberikan kuliah umum mengenai Potensi Indonesia Bidang Kelautan dan perikanan Bagi Keutuhan NKRI di Universitas Pasundan, Selasa (14/11/2017). (Eneng Reni/AyoBandung)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, mengatakan negara tidak boleh kalah dari para pencuri ikan di perairan Indonesia.

Hal itu ia sampaikan untuk mengomentari kemenangan Indonesia atas kapal asing berbendera Thailand, Silver Sea 2, dalam perkara hukum yang digelar di Pengadilan Negeri Sabang. Menurut Susi hal itu harus diapresiasi karena mampu menunjukkan Indonesia sebagai negara berdaulat dan berintegritas.

"Negara menang melawan mafia pencuri ikan. Itu yang penting karena pemerintah mampu menjaga kedaulatan negaranya," kata Susi saat memberikan kuliah umum mengenai Potensi Indonesia Bidang Kelautan dan perikanan Bagi Keutuhan NKRI di Universitas Pasundan, Selasa (14/11/2017).

Diketahui, kapal Thailand tersebut terbukti melakukan usaha atau kegiatan kejahatan perikanan dengan tidak mengaktifkan alat pemantau kapal perikanan. Tindakan itu melanggar Pasal 100 juncto Pasal 7 Ayat 2 huruf e Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan.

Menurut Susi, Majelis hakim Pengadilan Negeri Sabang menyatakan nakhoda Silver Sea 2, Yotin Kuarabiab, bersalah dalam kasus tersebut. Susi menuturkan Yotin terbukti melakukan usaha atau kegiatan kejahatan perikanan dengan tidak mengaktifkan alat pemantau kapal perikanan.

Sebelumnya, Kapal Silver Sea 2 ditangkap KRI Teuku Umar pada Kamis, 13 Agustus 2015, sekitar 80 mil dari perairan Sabang. Kapal tersebut ditangkap karena mematikan automatic identification system dan vessel monitoring system.

Susi menceritakan, saat itu, KRI Teuku Umar menduga Silver Sea 2 melakukan transshipment ilegal. Saat ditangkap, ada dua kapal kecil di dekat Silver Sea 2. Di dalam kapal ini terdapat 3000 ton ikan. Kapal dan ikan itu pun dijadikan barang bukti oleh pemerintah untuk menjerat sang nakhoda ke meja hijau. 

"Bayangkan di dalam perut kapal tersebut ada 3000 ton ikan. Makanya terdakwa dihukum dengan pidana denda Rp 250 juta dan kapalnya disita menjadi milik negara," kata Susi. 

Sementara ikan yang ditangkap kata Susi, dilelang penyidik pada 19 Juli 2016 berdasarkan Surat Penetapan Persetujuan Lelang dari Pengadilan Negeri Sabang pada 24 Februari 2016.

"Ikannya dilelang menghasilkan uang tunai Rp 21 miliar dan kapalnya diputuskan disita jadi milik negara. Tapi kapalnya rupanya dilelang. Nanti jangan sampai dilelang Rp100 juta bisa lepas lagi kan cilaka 12," kata Susi. 

Negara, kata Susi, tidak boleh kalah dari mafia di perairan Indonesia yang telah menguras sumber daya alamnya. "Kita menunjukkan kedaulatan sebagai bangsa yang tidak bisa dikalahkan oleh mafia," ujarnya.

Meski negara sudah tegas, menurut Susi, masih ada oknum yang "bermain" dengan melobi sejumlah pihak untuk untuk berbuat ilegal di perairan Indonesia.  

"Yang perlu dibangkitkan adalah rasa memiliki dan nasionalisme agar oknum tidak mempunyai kesempatan," ujarnya saat mengomentari soal pencuri ikan tersebut. 
 

Editor : Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600