web analytics
Irlandia Jadi Negara Paling Islami, Kenapa Indonesia Tidak?
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada Nov 14, 2017 | 09:33 WIB
Irlandia Jadi Negara Paling Islami, Kenapa Indonesia Tidak?
Ilustrasi. (REUTERS)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Irlandia dan Selandia Baru dinobatkan sebagai negara paling Islami di dunia, karena dinilai dapat menerapkan ajaran Islam secara nyata sesuai pedoman Alquran dan Hadis. Indonesia? Masih jauh.

Predikat tersebut diraih Selandia Baru pada tahun 2010 lalu yang kemudian diikuti oleh beberapa negara Eropa seperti Belgia Luksemburg, Denmark, Swedia, Finlandia, dan Norwegia. Sementara pada tahun 2014 predikat serupa diraih oleh Irlandia dan berturut diikuti oleh negara non-Muslim lainnya seperti Kanada, Inggris, Australia bahkan Amerika Serikat.

Lalu di mana posisi negara Islam dengan populasi penduduk mayoritas Muslim? Menyedihkan. Pasalnya tidak ada satupun negara Islam yang menempati posisi 30 besar. Hanya Malaysia yang mampu berada pada posisi ke-33. 

Sedangkan negara Timur Tengah diwakili oleh Kuwait di peringkat 48 dan Arab Saudi pada posisi ke-91. Indonesia? Meski menjadi negara dengan populasi Muslim terbesar dunia, namun nyatanya Tanah Air hanya berada pada peringkat 140.

Daftar peringkat tersebut tidak lantas ditemukan sekejap mata. Setidaknya seorang guru besar politik dan bisnis internasional dari Universitas George Washington bernama Hossein Askari melakukan riset penelitian tersebut dengan melibatkan 208 negara. 

Menurut Askari, status negara Islam belum tentu dapat mencerminkan nilai yang terkandung dalam Alquran dan Hadis. Bahkan sebagian negara Islam justru menggunakan kekuatan agama sebagai instrumen untuk mengendalikan pemerintahan dan masyarakat.

"Banyak negara yang mengaku Islam namun justru berbuat tidak adil, korupsi dan terbelakang. Artinya negara tersebut sama sekali tidak Islami," ujar Askari seperti dikutip dari The Telegraph

Realita yang terjadi di Indonesia saat ini sedikit banyak dapat dijadikan acuan. Hal tersebut terlihat ketika antara sesama umat Islam memperlihatkan adanya jarak. Hasilnya, ujaran kebencian mengudara yang mengikis toleransi kemajemukan. 

Namun, bukan berarti kemudian praktik ibadah umat Islam di Indonesia perlu diragukan. Hanya saja, praktik ritual keagamaan tidak dapat berdiri sendiri lantaran perlu dibarengi dengan implementasi keislaman secara sosial. Satu dari sekian ragam alasan yang membuat Indonesia tidak berada dalam peringkat 100 besar.

Alasan berikutnya adalah karena sikap intoleran terhadap identitas keagamaan yang tumbuh ekstrim di Tanah Air. Catatan yang dirilis oleh Setara Institute menyatakan jika pada tahun 2016 lalu angka intoleransi berujung kekerasan di Indonesia meningkat dari periode sebelumnya. 

Setidaknya 208 peristiwa kekerasan terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan terjadi di Indonesia yang dibarengi dengan 270 tindakan nyata. Sementara pada tahun 2015 gejala tersebut tidak lebih baik karena tercatat terdapat 197 peristiwa intoleran dan 236 tindakan.

"Intoleransi di Indonesia membuat kita harus lebih prihatin dan waspada karena berada pada level masyarakat. Jadi basis sosial kita memang belakangan rapuh," ujar Peneliti Setara Institute, Halili pada AyoBandung.

Secara teoritis, Setara Institute menjabarkan dua fenomena intoleransi keagamaan yang terjadi di Indonesia dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Fenomena pertama terkait penebalan identitas tanpa dibarengi dengan penguatan pada situs keagamaan itu sendiri. Sedangkan fenomena kedua berkaitan dengan pengerasan resistensi atas identitas keagamaan yang berbeda. Artinya hadir sikap fanatisme yang berlebih sehingga mencuatkan isu kekerasan terhadap perbedaan yang sebenarnya tidak sensitif. 

"Tentu hal tersebut menjadi ancaman bagi keberlangsungan kebhinekaan kita. Namun itulah yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir," ujar Halili.

Potret serupa nyatanya tidak terjadi di Irlandia meski ternyata pemeluk Islam hanya berjumlah 49.000 jiwa atau sekitar 1% dari total populasi penduduk. Artinya meski memiliki jumlah yang teramat kecil, namun Islam menjadi agama terbesar ketiga di Irlandia.

Hingga kini toleransi terjalin harmonis antara minoritas umat Islam dan mayoritas masyarakat non-Muslim di Irlandia. Keduanya dapat hidup saling berdampingan karena merasa memiliki latar belakang sejarah yang sama. 

Pada abad 17, ketika Irlandia masih dijajah oleh Kerajaan Inggris, beragam tindak kekerasan diskriminasi rasial dan terorisme kerap diasosiasikan pada masyarakat pribumi. Keadaan yang kini dialami oleh sebagian besar masyarakat Muslim Eropa.

Padahal sebenarnya Indonesia memiliki jejak tradisi keislaman yang moderat. Terlebih Indonesia merupakan negara penganut paham demokrasi terbesar ketiga setelah India dan Amerika Serikat. Dua fakta yang semestinya dapat menjadi alasan untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban dan kebangkitan Islam.

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600