web analytics
Pilgub Jabar Hadirkan Intoleransi Beragama?
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada Nov 14, 2017 | 09:47 WIB
Pilgub Jabar Hadirkan Intoleransi Beragama?
Ilustrasi Pilkada 2018. (AyoBandung/Satrio Iman)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Agama dan politik seakan enggan dipisahkan dari kehidupan sosial masyarakat Jawa Barat. Tak dapat dipungkiri jika keduanya menjalin simpul kuat yang saling berhubungan satu sama lain.

Setidaknya terdapat tiga isu sensitif yang telah sejak lama melekat erat dalam pembahasan politik di Jabar. Yakni menyoal komunis, non-Muslim dan penistaan agama. Tiga isu yang kemudian kerap dijadikan bahan strategi kampanye hitam dari lawan politik bersangkutan.

"Seseorang yang punya potensi besar untuk menang (pemilu) namun dihajar oleh isu agama maka selesai sudah di Jawa Barat. Ini menghawatirkan," ujar Pengamat Politik Universitas Padjajaran, Muradi beberapa waktu lalu.

Artinya, bukan tidak mungkin jika kemudian agama dijadikan sebuah senjata utama menggantikan rencana program kerja terkait kepentingan untuk memenangkan kontestasi kekuasaan, baik pada level nasional maupun daerah.

Pasalnya, menurut Direktur Filosofi Politika, Bubun Bunyamin, jumlah pemilih yang menggunakan sisi emosional berdasarkan kedekatan agama dan suku di Jabar dinilai masih lebih banyak jika dibandingkan dengan pemilih yang berpikir rasional.

"Sekelas pemilih dalam Pilgub Jakarta yang masyarakatnya lebih rasional saja masih seperti itu. Apalagi di Jawa Barat," ujar Bubun beberapa waktu lalu.

Jelas anggapan tersebut memberikan rasa khawatir pada keberlangsungan toleransi beragama di Jabar yang memang berada pada level kritis. Apalagi jika mengingat Jabar memangku predikat sebagai provinsi paling intoleran di Indonesia.

Menurut catatan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) jika selama tahun 2016 lalu di Jabar terlampir sebanyak 21 pengaduan terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan hadir menghiasi meja kerja.

Terlebih Komnas HAM mencatat jika Jabar dinilai masih memiliki 46 kebijakan yang diduga bersifat diskriminatif serta melanggar hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan. 

19 kebijakan diantaranya terbit di tiga kabupaten, yakni Tasikmalaya, Cianjur dan Kuningan. Lebih parah lagi, 27 kebijakan terbit di tiga kota yakni Bogor, Bekasi dan Bandung.

Rapuhnya regulasi tersebut diperparah dengan fakta yang mengatakan jika sikap intoleransi di Indonesia sebagian besar berada pada level paling bawah, yakni masyarakat. Artinya basis sosial di Indonesia memang dinilai rapuh.

Terlebih pada periode akhir 2017 hingga tahun 2018 mendatang masyarakat Jabar akan dihadapkan pada rangkaian agenda politik berupa Pilkada serentak. Sehingga fenomena intoleran dikhawatirkan akan semakin memperkeruh kehidupan sosial.

"Jadi politisasi agama sebenarnya mudah untuk diminimalisasi daya resapnya jika basis sosial kuat. Masalahnya basis sosial kita sangat rapuh sekali," ujar Peneliti Setara Institute, Halili pada AyoBandung.

Lebih lanjut, Halili mengungkapkan jika sebenarnya terdapat dua fenomena terkait sikap intoleran. Yakni penebalan identitas serta pengerasan resistensi atas identitas keagamaan yang berbeda. 

Jika dua aspek tersebut bertemu dalam satu titik tentu akan menghadirkan dampak yang negatif. Namun tidak demikian jika penebalan identitas tersebut disertai dengan penguatan situs keagamaan.

Namun pada kenyataannya, menurut catatan Setara Institute, dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir justru penebalan identitas tersebut kerap dibarengi dengan penolakan atas identitas keagamaan yang berbeda.

"Cerita pada Pilgub Jakarta menjelaskan betapa basis sosial sangat rapuh. Lalu elit dengan agenda politiknya justru hadir memperburuk situasi. Dengan cara politisasi identitas keagamaan untuk kepentingan mengumpulkan suara," ujar Halili.

Adapun modus dan alasan yang kerap digunakan cukup beragam seperti melakukan aksi demonstrasi, intimidasi secara tidak langsung berupa melalui penggalangan opini publik hingga tindak kekerasan. 

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600