web analytics
Bosan dengan Daging Ayam? Yuk, Coba Olahan Burung Puyuh di Warung Ini
Oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil, pada Nov 13, 2017 | 14:17 WIB
Bosan dengan Daging Ayam? Yuk, Coba Olahan Burung Puyuh di Warung Ini

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Jika Anda bosan dengan olahan daging ayam atau bebek, kini cobalah manjakan lidah dengan empuknya daging burung puyuh di  Warung Sangrai. Cita rasa lokal Indonesia sangat kental di warung ini karena sajian puyuh mudanya dilengkapi dengan 16 pilihan sambal yang dijamin bakal bikin kamu ketagihan.

Warung yang resmi berdiri sejak 2011 ini menyatakan diri sebagai pelopor hidangan burung kecil yang tidak bisa terbang ini. Beragam menu puyuh tersebut pada dasarnya diolah dari dua jenis burung puyuh, yaitu puyuh lokal dan puyuh Perancis.

Puyuh lokal dipasok dari unggas puyuh yang memang asli Indonesia, sedangkan puyuh Perancis konon merupakan persilangan antara puyuh lokal dan puyuh asing. Memang puyuh jenis Perancis ini memiliki ukuran tubuh yang terbilang besar ketimbang puyuh biasa. Bayangkan, satu ekor puyuh Perancis dengan berat 120 gram mampu menutup satu piring berdiameter 30 sentimeter.

Dari segi tampilan puyuh Perancis memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan puyuh lokal. Namun, soal rasa burung puyuh lokal lebih gurih dari si puyuh bule itu. Eits, tapi jangan salah meski jenisnya lokal dan asing, kedua sajian olahan puyuh ini tetap sama-sama memiliki cita rasa yang empuk, gurih, dan rasanya yang khas. 

Foto Ayofoto.

Menu unggulan yang seringkali dipesan di tempat ini adalah puyuh Original yang tak lain merupakan olahan puyuh goreng yang bisa disantap dengan lalapan dan sambal. 

Dari segi rasa, olahan daging puyuh ini layak menjadi pilihan bagi konsumen yang bosan hanya dengan olahan daging ayam atau bebek. 

Bukan hanya nikmat, dibandingkan dengan ayam atau bebek, daging puyuh memang cenderung lebih tipis. Namun, justru sensasi bersantap puyuh menjadi terasa mengasyikkan ketika gigitan daging bertemu dengan gurih tulang muda. Hebatnya lagi, daging puyuh juga sudah terbukti lebih sehat karena rendah kolesterol. Hal ini berdasarkan data laporan hasil uji daging puyuh dari Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pun dipajang dengan label tulisan ”Terbukti Rendah Kolesterol”. 

Dari hasil pengujian tertanggal Januari 2016 tersebut, tampak diagram yang membandingkan sampel ayam, bebek, dan puyuh. Dari hasil analisis kandungan protein pada puyuh pun terbukti lebih tinggi dibandingkan ayam dan bebek dengan persentase kolesterol pada puyuh yang lebih rendah dibandingkan ayam atau bebek sekalipun. 

Warung Sangrai tak serta merta dikenal sebagai restoran yang menjual menu andalan burung puyuh. Apalagi ketika awal berdiri, daging burung puyuh masih dirasa asing bagi banyak orang di Bandung. Tak jarang, ada pembeli yang mengira mereka berjualan telur puyuh. Bahkan dulu ada juga yang merasa aneh dengan ukuran burung puyuh yang kecil dan menganggap dagingnya berkolesterol tinggi.

”Kalau bicara puyuh, konsumen asumsinya pasti telur puyuh yang kolesterolnya tinggi padahal dagingnya rendah. Tugas kami, Sangrai adalah bagaimana mengedukasi masyarakat secara umum tentang adanya alternatif pilihan daging yang sebetulnya kandungan gizinya lebih baik, kalau memang bosan ayam atau bebek,” kata Asep Ishak Wiranta, General Manager Warung Sangrai saat ditemui ayobandung di gerainya, Senin (13/11/2017).

Untuk menjaga kualitas puyuh, Ishak pun menyebutkan Warung Sangrai sudah memiliki pemasok puyuh tetap. Puyuh yang diolah pun hanyalah puyuh muda  berusia sekitar 3 minggu agar daging yang diolah tidak memiliki tekstur alot. 

Setelah diterima dari pemasok, puyuh kemudian dibumbui dengan resep rahasia di dapur pusat pengolahan sebelum kemudian didistribusikan ke sepuluh gerainya. 

Foto Ayofoto.

"Puyuh ini dikirim dari Kitchen Center kami di Kiara Condong dalam wujud daging beku yang sudah dibumbui, setiap cabang hanya tinggal menggoreng atau membakar daging puyuh sebelum kemudian disajikan," sambung Ishak. 

Namun meski sudah enam tahun berdiri, Warung Sangrai masih mengalami kendala dalam mengenalkan daging puyuh kepada khalayak yang lebih luas. Masyarakat masih lebih cenderung tertarik mengonsumsi daging unggas yang lebih dulu populer, layaknya ayam atau bebek.

”Memang kita masih punya tugas untuk mengedukasi kandungan dari puyuh ini, tapi lambat laun sudah mulai bisa diterima. Di banyak tempat, banyak yang ingin bermitra dengan kita. Dianggap bisnis yang unik, anti-mainstream. Orang yang belum pernah makan, awalnya mungkin memang merasa aneh karena karakter dagingnya beda dan diambil dari jenis burung,” ujar Ishak. 
 

Editor : Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600