web analytics
"Aku Bukan Manusia, Tapi Cyborg"
Oleh Asri Wuni Wulandari, pada Nov 12, 2017 | 10:13 WIB
Neil Harbisson. (Pinterest)

AYOBANDUNG.COM – Terlalu klise ketika kita bicara bahwa teknologi akan mengubah segalanya. Terutama di zaman now. Perubahan akibat teknologi itu telah diperlihatkan selama lebih dari satu dekade terakhir berkat film-film sci-fi yang berhasil memincut hati khalayak. Dan kini, apa yang ada dalam kisah fiktif itu pelan-pelan jadi kenyataan.

Seniman cum aktivis Neil Habisson adalah salah satu bukti untuk fakta ini.

Premis utamanya adalah perjuangan untuk meligitimasi identitas. Seperti yang dilakukan oleh kaum LGBTQ yang berjuang untuk diperlakukan sama, Harbisson berjuang untuk melegitimasi identitasnya sebagai cyborg. Yup, cyborg! Sosok yang dalam film-film sci-fi kita kenal sebagai manusia robot. Atau, sosok yang disebut pria kelahiran Inggris ini sebagai : “trans-species”.

Sebagai co-founder dari Cyborg Arts, Harbisson telah menjadi sosok untuk menggabungkan manusia dengan teknologi.

Mulanya adalah warna yang tak mampu ditangkap oleh mata Harbisson. Dalam wawancara bersama Unilad, pria yang terlahir dengan buta warna ini mengatakan jika konsep warna adalah sesuatu yang sulit dimengerti dan menjadi misteri baginya. “Saya tidak pernah tertarik untuk mengubah penglihatan saya, karena saya selalu memiliki penglihatan yang sempurna. Tapi saya tertarik dengan warna.”

Minatnya terhadap warna, murni berdasarkan persepsi. Dan, di sinilah antena bedah implan Harbisson – atau yang disebutnya sebagai “salah satu bagian tubuh lainnya” – ikut bermain. Tengoklah Harbisson. Di atas kepalanya, tampak sebuah antena berdiri melengkung. Ia tertanam di dalam kepalanya.

Antena bedah implan itu bertindak sebagai alat sensorik yang mengirimkan sinyal ke otak dan tulang untuk mengindentifikasi spektrum-spektrum yang berbeda.

Teori di balik antena Harbisson bukanlah hal yang baru. Sebenarnya teori itu didasarkan pada teori klasik Issac Newton antara warna dan suara pada abad ke-17. Karena teknologi yang belum memadai semasa itu, maka gagasan itu hanya menjadi teori. Namun hari ini, teori itu dibuktikan dan dipraktikkan oleh seorang Harbisson.

Harbisson memulai proyeknya di perguruan tinggi seni pada tahun 2003 silam, bersama Adam Montandon. Tujuan mereka adalah untuk mempraktikkan teori Newton. Tugas pertama adalah membuat perangkat lunak yang memungkinkan Harbisson mendengar frekuensi suara pada spektrum visual. Lantas, mereka menambahkan spektrum tak terlihat sehingga Harbisson dan Montandon bisa melampaui warna visual.

Harbisson dengan tegas menyatakan jika antenanya bukanlah sebuah gadget atau perangkat lain. Tapi, itu adalah bagian tubuhnya.

“Tujuan awalnya adalah untuk menciptakan sebuah sistem yang membuat saya bisa merasakan warna. Tapi saya merasa tidak praktis menggunakannya di tangan saya. Jadi saya ingin ini menjadi bagian tubuh yang baru bagi saya.”

Harbisson mencoba berbagai cara untuk bisa melekatkannya secara permanen ke tubuhnya sendiri. Pada tahun 2004, akhirnya antena itu disekrupkan ke kepalanya, ditanam di bawah kulitnya. Akhirnya, antena itu terintegrasi di dalam tulang. “Seperti implan,” kata Harbisson. “Jadi saya tidak memakai antena, tapi saya memiliki antena.”

Menyesuaikan diri dengan bagian tubuh yang anyar bukan pekerjaan mudah bagi Harbisson. Ia tidak hanya kudu terbiasa dengan indera baru di otaknya, tapi ia juga harus berurusan dengan aspek fisik.

Tak sedikit pula kerabat yang kerap menertawakannya dan mengatakan jika Harbisson membodohi dirinya sendiri lantaran beraktivitas di luaran dengan antena yang tertancap di kepalanya. “Mereka tidak mengerti begitu pentingnya merasakan warna bagi saya,” kata Harbisson.

Sebagai seorang seniman, antena Harbisson sama pentingnya dengan kuas cat dan kanas. Antena, bagi seorang cyborg sepertinya, adalah kuas dan tubuhnya adalah kanvas.

Harbisson tak lagi mendefinisikan dirinya sebagai manusia. Ia mengidentifikasikan dirinya sebagai “trans-species”. “Definisi manusia tidak sepenuhnya menggambarkan saya,” katanya. "Aku mungkin adalah cyborg".

Salah satu otoritas yang masih berkesulitan menerima dirinya sebagai “trans-species” adalah kantor imigrasi. Pengajuan untuk memperbaharui paspornya ditolak lantaran persyaratan foto pada tahun 2014 lalu. Ia berharap, saat dirinya mengajukan pembaharuan paspor di tahun 2024 kelak, tak ada lagi kesulitan serupa harus dihadapi.

“Saya pikir kita akan melihat banyak orang memiliki lebih banyak indera dan lebih banyak organisme yang secara tradisional bukan manusia pada 2024 nanti. Mungkin nanti istilah ‘trans-species’ ini bisa lebih diterima.”

Harbisson tak sendiri. Sejumlah nama juga telah memproklamirkan dirinya sebagai “trans-species” atau “transhuman”.

Jauh sebelumnya, Wakil Rektor Coventry University, Profesor Kevin Warwick adalah orang pertama yang memasang transponder chip silikon di bawah kulitnya pada tahun 1998 silam. Alat itu memungkinkannya untuk membuka pintu dan menyalakan lampu secara otomatis. Ia juga menyatakan dirikan sebagai cyborg.

Empat tahun kemudian, Warwick juga mempelopori sistem “braingate”, yang melibatkan ratusan elektroda memasuki sistem sarafnya dan mentransfer sinyal ke jaringan internet. Pertama untuk mengendalikan gerakan tangan bionik yang membuatnya terhubung langsung dan “berkomunikasi” dengan istrinya, yang juga memiliki sistem “braingate” di dalam dirinya.

Menukil The Guardian, sistem “braingate” itu tengah dieksplorasi di Amerika Serika untuk membantu beberapa pasien penderita kelumpuhan. Namun karya Warwick ini belum banyak diambil oleh dunia kedokteran arus utama, akademisi, atau perusahaan teknologi komersial.

Kisah serupa juga terjadi pada James Young, yang kehilangan lengan dan kakinya dalam sebuah kecelakaan kereta api di London, Inggris pada 2012 lalu. Ia kemudian menciptakan lengan bionik untuk dirinya sendiri.

Lantas, si eyeborg Rob Spence. Hampir selama satu dekade, ia mengganti matanya yang hilang dalam kecelakaan masa kecil dengan kamera video yang bisa ia gunakan untuk merekam dan mengirimkan momen real-time dari apa yang ia lihat.

Namun, tentu cara berpikir anyar ini menumbangkan norma gender dalam pikiran para konservatif. Tak aneh jika apa yang digagaskan Harbisson dan orang-orang pendahulunya ini dianggap sebagai sesuatu yang keji.

Harbisson sendiri dianggap melawan Tuhan. Pikiran Harbisson yang brutal membuatnya harus berhadapan dengan ancaman pembunuhan sekalipun.

Tingkat kemajuan teknologi akan terasa menakutkan. Rangkaian ini kini tengah menjadi pedang bermata dua.

Nyatanya, dunia tengah menghadapi kenyataan itu. Harbisson yakin jika masyarakat dunia akan segera membuka gagasan-gagasan itu, atas nama kepraktisan. Dan, apakah hal itu salah?

Itulah pertanyaan yang bakal diajukan masyarakat saat teknologi terus berlanjut. Neil Harbisson menjadi yang pertama dari banyak jawaban.

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600