web analytics
Setiap Pria Berpotensi Gay. Bisakah Berubah Menjadi Heteroseksual?
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada Nov 08, 2017 | 05:55 WIB
Setiap Pria Berpotensi Gay. Bisakah Berubah Menjadi Heteroseksual?
Ilustrasi -- Seorang pria mengibarkan bendera LGBTQ. (REUTERS/Mark Blinch)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Gay dipandang tabu karena secara normatif masyarakat dunia hanya menerima perilaku heteroseksual atau aktivitas hubungan badan antara lawan jenis. 

Beberapa pendapat mengemuka mengenai penyebab dari perilaku homoseksual. Diantaranya menyebutkan jika homoseksual dapat terjadi berkat faktor lingkungan sosial. Namun pendapat lain menyatakan jika perilaku homoseksual sangat dipengaruhi oleh faktor fisik, hormonal dan genetika secara pendekatan biologis. Artinya, orientasi homoseksual dapat hadir sebagai bawaan lahir.

Pendapat tersebut dikemukakan oleh seorang ilmuwan asal Universitas California di Amerika Serikat bernama Tuck Ngun yang melakukan tes DNA pada 47 pria kembar identik. 

Hasil penelitian tersebut menyatakan jika dari 37 pasangan kembar, masing-masing diisi oleh satu individu gay dan normal. Sementara 10 pasangan kembar lain dinyatakan positif homoseksual.

Dalam ilmu psikologi analitik, dikenal teori anima animus yang menggambarkan orientasi seks berlawanan. Anima merupakan sifat feminim kewanitaan yang tersebunyi dalam diri pria. Sementara animus sebaliknya, yakni sifat maskulin yang berada dalam diri wanita.

Berarti, jika merujuk pada hasil penelitian Tuck Ngun dan keberadaan dari teori anima animus, maka dapat disimpulkan bahwa setiap pria memiliki potensi untuk menjadi gay sejak lahir.

"Orientasi seksual merupakan bagian fundamental dalam kehidupan. Hal tersebut masih bersifat misterius jika dilihat menurut sudut pandang genetika," ujar Tuck Ngun seperti dikutip dari Daily Mail.

Artinya, meski setiap pria berpotensi menjadi gay sejak lahir, namun gejolak tersebut dapat ditahan melalui pendekatan sosial lingkungan. Salah satunya melalui metode pembelajaran seperti gaya hidup dan sugesti sosial.

"Dari hasil berbagai penelitian menyatakan jika pendekatan lingkungan lebih dapat dibuktikan (sebagai penyebab homoseksual). Sedangkan pendekatan biologis masih bersifat kontroversi dan belum terbukti ilmiah, terutama jika membahas gen," ujar Psikolog Universitas Islam Bandung, Stephani Reihana pada AyoBandung.

Lalu pertanyaan mendasar mengemuka mengenai apakah gay dapat disembuhkan? Pasalnya jika merujuk pada pendekatan lingkungan, maka hal tersebut sepatutnya dapat disembuhkan. Berbeda jika melihat dari sudut pandang biologis yang dinilai lebih permanen. 

"Pendekatan lingkungan menjawab iya (bisa disembuhkan). Jika seseorang bisa dibentuk oleh lingkungan untuk menjadi LGBT, maka lingkungan juga bisa membentuk sebaliknya," jelas Stephani.

Upaya penyembuhan perilaku homoseksual sebenarnya telah terjadi sejak dulu. Pada tahun 1920 seorang pendiri aliran psikoanalisis bernama Sigmund Freud pernah menolak mengobati seorang homoseksual. Freud beralasan jika homoseksual bukan merupakan kecacatan mental sehingga tidak dapat dikatakan sebagai sebuah penyakit.

Pada dekade tersebut metode penyembuhan homoseksual dilakukan melalui penyiksaan. Seperti memberikan tegangan listrik tinggi sembari menunjukan gambar pasangan sesama jenis ketika sedang berhubungan badan. Tujuannya agar dapat mengaitkan antara rasa sakit dan trauma dengan perilaku homoseksual.

Namun metode konservatif tersebut tidak dilakukan di Indonesia. Proses pembentukan heteroseksual sebenarnya dapat dibentuk melalui terapi reorientasi seksual melalui pendekatan agama.

"Tapi secara prinsip terapi perilaku hanya dapat berhasil jika individunya ingin berubah dan sembuh. Maka terapi reorientasi seksual ini tidak bisa diterapkan pada anggota LGBT yang tidak merasa ingin berubah," tutup Stephani.

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600