web analytics
Gen Z: Enggan Bekerja, tapi Calon Penguasa Dunia
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada Nov 07, 2017 | 06:10 WIB
Gen Z: Enggan Bekerja, tapi Calon Penguasa Dunia
Ilustrasi Gen Z

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM--Para milenial patut merasa berhati-hati soalnya angkatan pertama dari generasi post millennials atau biasa dikenal dengan sebutan Gen Z yang kini berusia 22 tahun mulai memasuki dunia kerja profesional. 

Indikasi ancaman Gen Z paling kentara adalah ketika klub sepak bola Barcelona membeli bocah belia asal Prancis berusia 20 tahun yakni Ousmane Dembele dengan mahar fantastis senilai Rp1,66 triliun.
Angka tersebut menjadikan Dembele sebagai pemain sepak bola termahal kedua setelah Neymar. Bahkan berada di atas seniornya Paul Pogba.

Lalu kenapa Gen Z dianggap begitu mengancam para pendahulunya? Alasannya beragam. Pertama karena Gen Z memiliki rata-rata tingkat pendidikan yang lebih tinggi jika dibandingkan para pendahulunya. 

Kedua, Gen Z adalah penduduk asli dari dunia digital. Lahir dan tumbuh dengan teknologi smartphone dan media sosial. Bahkan ketika Steve Jobs merilis iPhone edisi pertama pada tahun 2007 silam, angkatan tertua dari Gen Z baru berusia 12 tahun. Berbeda dengan sebagian Gen Y yang hidup dewasa di tengah perkembangan teknologi informasi.

Maka tidak mengherankan jika kemudian Gen Z dikenal sebagai generasi merunduk lantaran terlalu fokus pada layar smartphone. Gen z menilai jika luasnya dunia dapat dijelajahi hanya melalui akses internet. Alasan yang membuatnya begitu terbuka dan kaya akan informasi.

Namun teknologi juga menjadi penyebab karakteristik Gen Z yang pemalas dan individual. Menginginkan segala sesuatu dapat diraih dengan cepat dan instan tanpa basa-basi. Karakter yang kemudian memengaruhi sikap Gen Z di dunia kerja yakni hanya ingin menjadi tuan bagi diri sendiri. 

Pernyataan tersebut selaras dengan hasil riset yang dilakukan oleh Universum di 47 negara pada tahun 2015 silam. Soalnya seperti dikutip dari Forbes jika 55% dari 47.000 koresponden Gen Z menyatakan lebih tertarik untuk membangun usaha sendiri, bukan bekerja seperti para generasi pendahulu. 

"Gen Z adalah generasi short cut yang ingin segala sesuatu dapat diraih serba mudah dan cepat. Akhirnya tidak mau bekerja selain dari berwirausaha. Mereka ingin bekerja sendiri dan tidak berada di bawah perintah orang lain," ujar Psikolog Universitas Indonesia Ratih Zulhaqqi pada AyoBandung.

Bahkan menurut hasil survei Monster Worldwide seperti dikutip dari PR Newswire yang dilakukan di Amerika Serikat menyatakan jika 49% remaja Gen Z memilih untuk membangun bisnis sendiri. Padahal keinginan berwirausaha bagi semua generasi pendahulunya hanya sebesar 32%.

"Jadi sebenarnya yang melatarbelakangi (keinginan Gen Z untuk berwirausaha) adalah untuk mendapatkan sesuatu dengan cepat. Kalau bekerja tentu harus menunggu karir yang begitu lama. Berbeda dengan generasi pendahulu yang lebih menginginkan bekerja sebagai pegawai negeri," ujar Ratih Zulhaqqi.

Alasan lain yang melatarbelakangi kenapa Gen Z lebih tertarik untuk berbisnis adalah karena uang. Kekayaan informasi yang menjadi kelebihan para Gen Z membuatnya memiliki beragam keinginan seperti travelling maupun membeli suatu barang. Namun untuk dapat melakukan hal tersebut tentu diperlukan sejumlah uang.

Selain itu Gen Z dinilai lebih mandiri dan kompetitif daripada Gen Y atau milenial. Alasannya karena rata-rata Gen Z lahir dari orang tua Gen X yang memiliki kepribadian kuat dan penuh semangat. Para orang tua Gen X senantiasa mengajarkan jika kehidupan sangatlah keras layaknya hutan liar. 

Hasilnya Gen Z tumbuh dengan sikap siap bersaing sendirian tanpa partisipatif dan tim. Berbeda dengan Gen Y yang lahir dari perut seorang Baby Boomers. Penuh kebijaksanaan dan mengajarkan jika bersama jauh lebih baik daripada berdiri sendiri. Alhasil Gen Y tumbuh dalam kelompok yang kolaboratif dan merasa kurang percaya diri jika sendiri. 

"Kalau aku melihatnya sikap kompetitif lahir karena adanya kecemburuan sosial berkat social climber. Jadi status atau hal yang dipakai harus sama," ujar Ratih Zulhaqqi.

Sikap mandiri dan ketertarikan pada dunia bisnis tidak kemudian serta merta membuat Gen Y enggan bekerja dalam perusahaan. Karakter multitasking lantaran terbiasa menggunakan berbagai aplikasi gawai dalam satu waktu membuat Gen Z sangat dibutuhkan dunia kerja.

Akan tetapi 75% Gen Z hanya ingin bekerja dengan profesi yang sesuai hobi dan gaya hidup. Artinya bekerja sesuai hobi bukanlah sekadar pendapatan tambahan melainkan jadi yang utama. Akhirnya banyak dari para Gen Z yang tidak bertahan lama dalam satu pekerjaan.

Tidak dapat dipungkiri jika Gen Z lahir dengan kemampuan untuk mengubah sistem dan tatanan konservatif. Pasalnya gen Z hidup diantara peralihan dua zaman sehingga memungkinkannya untuk memodifikasi dunia. 

Terlebih menurut rilis data dari Badan Pusat Statistik pada 2016 silam menyatakan jika populasi penduduk di Jawa Barat didominasi oleh Gen Z. Fakta yang menguatkan jika Gen Z adalah calon penguasa.

Redaksi akan mengulas lebih dalam soal Generasi Z. Simak terus laporannya dari berbagai lini untuk memudahkan pembaca atau stakeholder lainnya memahami segala sesuatu mengenai Generasi Z hingga transisi ke Generasi Alfa.

Editor : Adi Ginanjar Maulana
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600