web analytics
Pasang Surut Bisnis Distro di Bandung
Oleh Ananda Muhammad Firdaus, pada Nov 05, 2017 | 20:12 WIB
Pasang Surut Bisnis Distro di Bandung
Sejumlah konsumen memilih produk di Kick Fest Jalan Supratman, Minggu (5/11/2017).(Ananda)
BANDUNG, AYOBANDUNG.COM--Perubahan tren fesyen bagi kaum muda di Bandung seakan tidak pernah berhenti. Mereka terus memburu pakaian-pakaian salah satunya ke distributor outlet alias distro.
 
Pada periode 1996-1998,  distro muncul dan mulai berkembang di pasaran. Sekitar 1996, untuk pertama kali berdiri distro bernama 347 boadrider.co di Jalan Dago Bandung. Kemudian disusul oleh kehadiran Ouval Research, Harder, Aiprplane, Monic, Two Clothes, No Labels, serta lainnya pada tahun berikutnya. 
 
Istilah distro pun dikenal banyak masyarakat seiring waktu, terlebih makin banyaknya brand fesyen lokal keluar dan menyebar di daerah-daerah. Memang perkembangan tersebut meraih simpati yang signifikan, apalagi segmentasi pengusaha yang telah jelas menyasar kalangan muda. 
 
Namun bisnis tersebut dari waktu ke waktu mengalami perlambatan.
 
Ketua Kreative Independent Clothing Kommunity (KICK) Bandung Ade Adriansyah mengatakan tingkat kunjungan distro anjlok 30% hingga 40%.
 
Kondisi ini dipicu maraknya bisnis belanja online, yang mana konsumen lebih memilih membeli produk lewat aplikasi karena dianggap lebih mudah.
 
Di samping itu, persoalan lain karena beralihnya wisatawan lebih memilih tempat berlibur ke daerah lain didorong promo habis-habisan dari agen travel. 
 
Sementara itu, PIC Brand Clothing Row Division Arya Yudanto mengaku perlambatan bisnis distro sudah terjadi tiga tahun terakhir. Pada tahun ini, perlambatan sangat terasa.
 
Arya menjelaskan perlambatan dipicu akibat kurangnya promosi yang dilakukan distro serta persaingan pasar semakin berat.
 
Sejak berdiri pada 2007, pihak manajemen selalu berusaha melihat kebutuhan pasar dengan jeli. Usaha tersebut tergambar dengan membuat situs serta media sosial sebagai sarana promosi.
 
"Rown Division pakai metode online semenjak berdiri 2007. Sekarang juga pemasaran mengandalkan Instagram, Twitter, Facebook, dan lainnya," jelasnya saat Kick Fest 2017 di Jalan Supratman Kota Bandung, Minggu (5/11/2017).
 
Tren fesyen kaum muda yang cenderung mengalami perubahan setiap saat memicu produsen harus memutar otak dengan inovasi sesuai riset pasar. Bila tidak begitu, kata Arya, bisnis distro akan cepat gulung tikar.
 
"Di distro itu harus kreatif, inovasi yang dipertahankan dengan segmen khusus gaya anak muda," jelasnya.
 
PIC dari brand Clothing Cosmic Dede Lutfiyansah menambahkan agar produknya laju di pasaran, pihaknya melakukan endorse atau promo dengan memanfaatkan popularitas artis atau orang yang terkenal. 
 
"Brandnya juga dipromo oleh beberapa artis, karena menarik konsumen lebih banyak lagi," katanya.
 
Di samping itu, katanya, ekspos produk bisa dipengaruhi banyaknya brand clothing mengikuti sejumlah kegiatan. Seperti Kick Fest yang telah berlangsung beberapa kali di sejumlah daerah, termasuk Bandung. 
 
Ia menjelaskan riset pasar menjadi tulang punggung pergolakan bisnis distro, mengingat produk menyasar kaum muda.
 
"Karena pada saat kami mengeluarkan produk tanpa riset percuma, enggak akan jalan," katanya.
 
Meskipun bisnis distro mengalami perlambatan, namun hal tersebut tidak perlu dijadikan beban. Inovasi yang konsisten secara perlahan akan mengembalikan kembali kepercayaan pasar.
 
"Kalau kami sudah bisa membentuk pasar sendiri, Insya Allah aman," tambahnya.
Editor : Adi Ginanjar Maulana
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600