web analytics
100 Hari Kepergian Bobotoh Ricko Andrean, Menolak Lupa Kekerasan Suporter
Oleh Anggun Nindita Kenanga Putri, pada Nov 04, 2017 | 19:05 WIB
100 Hari Kepergian Bobotoh Ricko Andrean, Menolak Lupa Kekerasan Suporter
Nurul Arifin dan bobotoh saat menghadiri peringatan 100 Hari Kepergian Ricko

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- #RestInPrideRickoAndrea. Beberapa bulan yang lalu tagar tersebut menjadi trending topic di lini masa. Bukan cuma sehari dua hari, tetapi hingga satu minggu lebih lamanya.

Pada 22 Juli 2017, Persib Bandung menjamu tamu istimewanya, yakni Persija Jakarta. Kedua tim yang dikenal sebagai musuh bebuyutan ini bertemu di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Laga tersebut berakhir imbang 1-1, tapi usai pertandingan serentetan drama pun terjadi, karena terjadi kericuhan.

Seorang bobotoh yang bernama Ricko Andrean harus meregang nyawa di tangan sesama bobotoh. Ricko meninggal setelah ada keributan dan dipukuli sesama bobotoh karena membuka kaos birunya, dan tersisa kaos dalam berwarna hitam. Bahkan Ricko diduga meninggal saat melindungi superter Persija, The Jak, yang sedang dipukuli oknum bobotoh.

Sebelum dipukuli, almarhum Ricko sempat menunjukkan Karta Tanda Penduduk (KTP) yang berdomisili di Bandung kepada massa.

"Sebelum dipukuli dia nunjukin KTP dan bilang "aing orang Bandung (saya orang Bandung)," lanjutnya.

Tapi karena banyaknya massa yang emosi, pembelaan yang ia berikan pun sia-sia. Dia dipukuli dan menjadi bulan bulanan suporter hingga akhirnya babak belur dan tak sadarkan diri.

Ricko Andrean Maulana menghembuskan nafas terakhirnya di RS Santo Yusuf Bandung, pada Kamis(27/7/2017) setelah menjalani perawatan intensif selama lima hari. Ia di kebumikan di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Bandung, bersebelahan dengan makam ibu dan bapaknya.

100 Hari Kepergiannya, Ricko Seakan Terlupakan

Pada saat Ricko Andrean dirawat di Rumah Sakit Santo Yusuf,  banjir simpati mulai berdatangan kepadanya. Mulai dari manajer Persib, Umuh Muchtar, para pemain Persib, hingga Wali Kota Bandung Ridwan Kamil datang untuk menjenguk dan mendoakannya semoga lekas pulih.

Bahkan ketua The Jak, Ferry Indrasjarief turut terlihat menengok Ricko didampingi oleh Panglima Viking, Yana Umar. Ferry kala itu berujar pada Yana, jika Ricko sudah sembuh ia akan membawa Ricko untuk menyaksikan langsung laga Persib melawan Persija di musim yang selanjutnya.

Ia pun akan menjamin keamanan Ricko. Sayang, belum sempat Ricko menonton langsung laga tersebut, ia keburu menghembuskan nafas terakhirnya.

Saat Ricko meninggal dunia, rumah duka pun penuh sesak dikunjungi oleh para bobotoh. Karangan bunga nampak terlihat berjejer mulai dari kiriman PT PBB selaku manajemen Persib, hingga dari perwakilan bobotoh, seperti Viking atau Bomber.

Kini sudah 100 hari kepergian Ricko, masyarakat seakan mulai melupakannya. Padahal Ricko kala itu disebut-sebut sebagai pahlawan perdamaian bagi kedua suporter, Viking dan The Jak yang selalu saja bersitegang.

Di 100 hari kepergiannya, pada Jumat (3/11/2017) bertepatan dengan dilangsungkannya laga Persib melawan Persija di Stadion Manahan Solo. Pertandingan yang sama persis ketika Ricko harus kehilangan nyawanya.

Tapi kini tidak ada lagi ucapan selamat, ataupun simpati dari para bobotoh terhadap Ricko. Hanya warga sekitar tempat tinggal Ricko yang menggelar acara sederhana 100 hari meninggalnya Ricko sekaligus nonton bareng.

Mereka berkumpul di suatu aula yang dipasang layar besar untuk menonton pertandingan. Kemudian di tembok sisi layar terpajang foto-foto almarhum Ricko.

Fitriany, keponakan dari Ricko mengucapkan terimakasih kepada warga sekitar Jalan Awibitung dan Jalan Jembar yang masih mengingat Ricko dengan cara mengadakan nonton bareng.

“Terimakasih, setidaknya warga masih pada ingat. Saya terharu,” ucapnya.

Jika dahulu pemberitaan soal Ricko ramai di sosial media, kini kalah dengan pemberitaan soal pertikaian kembali Viking dan The Jak. Padahal, setelah kejadian berpulangnya Ricko, pembicaraan perdamaian antara kedua suporter tersebut sempat ramai.

“Bahkan dari PT (PBB) dan perwakilan manajemen (Persib) tidak ada lagi yang kemari. Begitu juga sama perwakilan dari bobotoh Viking dan lain-lain. Sudah enggak ada yang ke sini,” ungkapnya.

Untuk itu, Fitri dan keluarga memutuskan untuk mengadakan pengajian kecil-kecilan saja yang dihadiri oleh pihak keluarga. Selain itu keluarga besar Ricko yang berada di Padang juga menggelar pengajian 100 harian bagi Ricko.

Calon Wali Kota Bandung, Nurul Arifin yang hadir pada acara tersebut menyesalkan masyarakat yang kini mulai melupakan almarhum Ricko.

“Padahal kiper Persela (Choirul Huda) waktu meninggal juga sampai ke dunia internasional. Orang-orang di Inggris sampai berikan kehormatan kepada dia. Harusnya Ricko juga jangan dilupakan. Karena dia juga merupakan pahlawan perdamaian,” ujarnya.

Ia berharap agar ke depannya tidak ada lagi suporter yang menjadi korban kekerasan seperti yang dialami Ricko. Apalagi menurutnya, laga Persib melawan Persija sarat cerita akan kekerasan.

“Ini bisa jadi momentum agar jangan sampai terulang lagi. Semoga ada kesadaran bersama dari semua suporter bahwa kekerasan tidak akan menghasilkan apa-apa,” tuturnya.

Editor : Asep DM
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600