web analytics
Menyadarkan Soal Autisme dengan Seni
Oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil, pada Oct 29, 2017 | 21:18 WIB
Menyadarkan Soal Autisme dengan Seni
Salah seorang pengunjung tengah melihat-lihat karya-karya yang dipamerkan dalam This Is Us di Braga City Walk, Bandung, Minggu (29/10). (AyoBandung/Eneng Reni)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Memaknai Hari Sumpah Pemuda yang kerap diperingati setiap tanggal 28 Oktober, pemuda-pemudi Kota Bandung melihat adanya kesempatan emas sebagai generasi muda untuk turut meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat umum. Salah satunya melalui kampanye menyuarakan isu autisme.

"This Is Us" sebagai gerakan untuk menunjukkan kesadaran itu pun sengaja hadir. Mengusung tema "Merayakan Hari Sumpah Pemuda Dengan Semangat Inklusi", para pemuda Kota Bandung didukung Dispora Kota Bandung dan Persatuan Orang Tua Anak Disabilitas Indonesia (PORTADIN) sebagai salah satu narasumber utama mencoba mensosialisasikan isu autisme yang kerap bias itu.

Koordinator Humas This Is Us, Stefanie Winarko menyebutkan, tujuan diselenggarkannya kegiatan tersebut adalah untuk semakin menggeliatkan kegiatan sosialisasi autisme melalui wadah diskusi secara dua arah. Selain itu, acara yang diselenggarakan di Braga City Walk itu pun, mencoba memberikan kekayaan pemahaman informasi yang benar agar pemahaman tentang Autisme dapat diketahui secara menyeluruh.

Stefanie mencontohkan, dengan semangat Sumpah Pemuda itu, mereka menjadikan "This Is Us" sebagai momentum yang baik untuk mengajak para pemuda Indonesia, khususnya Bandung, agar terlibat lebih aktif dalam penyebaran kesadaran tentang autisme.

Dipilih medium seni sebagai bidang yang kini sedang sangat digandrungi oleh pemuda, mulai dari kesusastraan, pentas tari, teater, pameran lukisan, bermain musik, dan sebagainya.

Menurutnya, dengan begitu banyak ranah seni yang dijelajahi, serta besarnya energi dan antusiasme yang dimiliki pemuda, pihaknya percaya bahwa ketika hal-hal tersebut diarahkan dan dialokasikan kepada kegiatan sosial positif.

Adapun "This Is Us" menyajikan berbagai kegiatan, mulai dari pentas autisme, yakni sebuah rangkaian pertunjukan bakat seni dari teman-teman penyandang autisme meliputi bernyanyi, menari, bermain musik, dan sebagainya. Pertunjukan musik, fashion show, dan instalasi yang dibuat dengan metode user experience, di mana pengunjung dapat masuk ke dalam instalasi dan merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi seorang penderita autisme. Serta pameran yang diisi dengan display karya-karya dari penyandang autisme, berupa puisi, lukisan, dan gambar.

"Intinya, kami ingin turut ikut serta dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan autisme dengan mempergunakan rasa minat para pemuda ini. Begitu banyak topik maupun tema yang pemuda yang sebenarnya bisa angkat. Dan This Is Us adalah salah satu contoh kecilnya," tutur Stefanie saat ditemui AyoBandung di lokasi acara, Minggu (29/10/2017).

Pihaknya percaya dengan adanya dialog dan perayaan Sumpah Pemuda dengan semangat inklusi seperti ini akan memicu kreativitas pemuda lainnya untuk lebih jauh menggarap atau mengeksplorasi proses kreativitasnya dan menuju kesadaran terhadap autisme di masyarakat.

"Menjadi salah satu tujuan kami juga untuk menegaskan bahwa karya-karya seni adalah alternatif yang inovatif pula dalam hal cara mensosialisasikan dan meningkatkan kesadaran tentang isu-isu sosial," ujar Stefanie.

Tak lupa acara ini juga menjadi kesempatan berarti bagi komunitas autisme untuk menyuarakan permasalahan-permasalahan ataupun kekhawatiran yang dialaminya. Sehingga kegiatan dalam This Is Us dapat menjadi pembelajaran yang bermanfaat bagi semua yang terlibat.

"Pameran seni dan instalasi ini juga untuk para kaum autisme dengan meluapkan semua kesan, kebahagiaan, keluh kesah maupun sentimen lingkungan kepada mereka. Selain itu, acara ini juga jadi alat komunitas autisme agar dapat didengar dengan cara yang baru," ujar Stefanie.

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600