web analytics
Niat Cari Modal Tani, Warga Cililin Jadi Korban Ledakan Pabrik Petasan
Oleh Ananda Muhammad Firdaus, pada Oct 28, 2017 | 07:07 WIB
Niat Cari Modal Tani, Warga Cililin Jadi Korban Ledakan Pabrik Petasan
Keluarga korban kakak beradik, Naya Sunarya dan Ade Rosita. (Ananda Muhammad/AyoBandung)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Sedikitnya 47 orang dikabarkan tewas akibat ledakan sebuah pabrik petasan yang ada di daerah Kosambi, Tanggerang Banten kemarin (26/10/2017). Malangnya, sebagian korban meninggal maupun terkena luka bakar akibat ledakan adalah para warga asal kampung Cisitu, Kecamatan Cililin, Bandung Barat. 

"Warga saya pada kerja kesana, ada 12 orang. Yang pasti selamat 7 orang sekarang masih di Rumah Sakit, tapi yang 5 orang lagi belum diketahui," ungkap Ketua RW 9 Kampung Cisitu, Ali Muhammad Sukur, Jumat (27/10).

Ali mengaku mendapat kabar awal peristiwa itu dari seorang warganya bernama Dudi yang juga pekerja di pabrik tersebut sekitar pukul 11.00 WIB.

Menurutnya, sontak setelah itu ia menyampaikan kabar pada sejumlah warganya. "Dudi (pekerja asal Cililin) lagi nganterin barang, pas balik lagi ke pabrik udah kebakaran," katanya.
Kata Ali, para warga yang bekerja di pabrik yang diketahui rata-rata masih berusia muda tersebut ialah orang-orang memilih mencari perutungan hidup dengan cara berbeda. Mayoritas warga Cisitu sebenarnya berprofesi sebagai petani sayuran dan peternak.

Namun, menurut Ali, sebagian dari mereka pernah mengatakan bahwa maksud perantauan ke kota untuk mencari modal bertani. "Bilangnya lahan pertanian di kampung memang luas, tapi tetep butuh modal, jadi kesana biar bisa kerja (tani) di kampung nantinya," kata Ali.

Pabrik Abaikan Keselamatan
Salah seorang warga Cisitu sekaligus mantan pekerja pabrik, Hendra Irawan mengatakan, di tempat kerjanya dulu para pegawai sama sekali tidak mendapat jaminan keselamatan. Misalnya, ketika tangan pekerja harus terluka akibat terkena bahan campuran bahan kimia pembuat petasan maka hanya diberi obat ringan.

Belum lagi, lanjut Hendra, bahan-bahan tersebut sebenarnya mudah meledak.

"Sama tempat tidur (asrama/mess pekerja) juga menyatu sama pabriknya. Kan saya takut, mending saya keluar kerja aja," tambahnya. 

Selain itu proses rekrutmen pegawainya tidak jelas. 

"Masuknya enggak pakai persyaratan apapun, cuma KTP. Kalau orang awam kan suka ribet kalau banyak persyaratan, jadi asal kerja lah," kata Dadang yang dua keponakannya menjadi korban tewas.

Faktor keselamatan memang tidak jadi pertimbangan kala kedua anggota keluarganya tersebut bekerja disana, namun apa daya peristiwa tersebut telah terjadi. 

Dadang hanya berharap agar segala proses yang dilakukan pihak kepolisian disana bisa cepat diselesaikan agar bisa membawa ponakannya kembali ke kampung halaman.

"Kami (keluarga) ingin semua diproses dengan baik, termasuk bos yang punya pabrik harus segera tanggung jawab," pungkas dia
 

Editor : Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600