web analytics
Joget Sepatu Roda Sampai Kelahi Setelah Ajojing
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada Oct 20, 2017 | 13:46 WIB
Joget Sepatu Roda Sampai Kelahi Setelah Ajojing
Ilustrasi disko. (Pixabay/Andi Graf)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Hello! Jumat yang dinanti kembali datang. Pertanda besok adalah waktu bahagia untuk bersantai atau berkumpul bersama teman. Untuk beberapa kalangan, wisata malam jadi destinasi andalan. 

Gaduh dan setengah sadar adalah gambaran nyata kehidupan para clubbers Bandung kekinian. Namun ternyata atmosfer dunia malam tidak selamanya seperti saat ini. Sebab, jauh hari sebelumnya, disko justru identik dengan olahraga dan musik new wave.

Perkembangan zaman memang memengaruhi musik, yang pada akhirnya berdampak pada ritme gerak tubuh dan budaya para pelaku. Untuk itu AyoBandung merangkum destinasi dan perkembangan musik clubbing di Bandung dari masa ke masa. 

 

Era 1980

Ingat film berjudul Olga dan Sepatu Roda? Jangan jawab! Karena ini hanya jebakan umur yang menyadarkan kalau kamu hidup di masa ketika Eva Arnaz lagi gemes-gemesnya.

Bicara soal sepatu roda, maka tak lepas dari era 1980an. Hamparan lantai dansa dan musik serupa “Barcelona” dari Fariz RM lekat arena lampu disko dan juga sepatu roda.

Salah satu tempat ajojing di Bandung paling hits kala itu adalah Lipstick Disco Skate yang terletak di Palaguna. Di tempat tersebut, para pengunjung diharuskan memakai sepatu roda karena pada bagian dalam ruang terdapat semacam arena skate berukuran mini. Lalu di Asia Afrika Plaza juga terdapat tempat serupa bertajuk Discotheque. 

Era 1990

Pada era 1990 musik dunia tengah mengalami revolusi besar ditandai dengan lahirnya Nirvana di Amerika Serikat dan British Invasion semisal Oasis dan Stone Roses di Inggris. Sedikit banyak revolusi tersebut berdampak pada perkembangan budaya musik di Indonesia. 

Maka tidak heran bila skena underground berkembang pesat di Bandung ditandai dengan lahirnya para pelaku musik bawah tanah semisal Pure Saturday, Burgerkill, Puppen hingga Cherry Bombshell. Alhasil budaya ajojing beralih pada perayaan gigs dan festival musik di beberapa sudut kota seperti Lapangan Saparua.

Namun beberapa tempat seperti SE di Cihampelas, tetap menyajikan arena lantai dansa yang menyuguhkan musik dengan anapestic beat pendek bagi pecinta disko mania. 

Era 2000

Kejayaan para clubbers Bandung kembali mengemuka memasuki abad milenium. Beberapa destinasi dugem semisal Embassy, Amare, Kyooki, Amnesia hingga Hyogen menjadi tujuan wisata malam yang tidak terelakan. Namun tidak lagi dengan dentuman musik new wave, melainkan beralih pada house music ala disk jokey semisal DJ Winky Wiryawan atau DJ Riri.  

Era 2010

Dekade 2010 bisa dikatakan menjadi masa jaya bagi electronic dance music, ditandai dengan lahirnya beberapa musisi kenamaan dunia seperti Swedish House Mafia, Avicii, David Guetta hingga Tiesto. Festival EDM internasional semisal “Tommorow Land” menjadi bukti sahih kejayaan clubbers dunia.

Di dalam negeri hadir “Djakarta Warehouse Project” alias DWP yang jadi embrio lahirnya beberapa destinasi dugem di berbagai kota. Lalu Bandung jadi salah satu kota destinasi para kawula muda pegiat dunia malam. Tidak heran bila kini Bandung dihiasi banyak klub malam seperti Shelter, Nine Square, Sobbers, Southbank hingga Mox.

Saking jayanya, sampai-sampai muncul candaan lokal di skena club Bandung ini. Setiap pukul 4.00 WIB dini hari – waktu ketika para clubbers bergegas pulang – adalah waktu di mana Sulanjana Fighting Club beraksi. Pasalnya, selalu ada pertengkaran di Jalan Sulanjana, sebagai jalan yang dipenuhi oleh deretan klab malam.

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600