web analytics
Kontroversi Perlukah Kita Melepas Beha Hari Ini?
Oleh Asri Wuni Wulandari, pada Oct 13, 2017 | 15:08 WIB
Kontroversi Perlukah Kita Melepas Beha Hari Ini?
Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

AYOBANDUNG.COM – Bra, beha, kutang, entrok, atau apapun itu namanya. Kita merayakannya. Ratusan, atau mungkin ribuan perempuan dunia kini melepas beha demi sebuah kampanye kesehatan bertajuk “No Bra Day” yang selalu diperingati setiap 13 Oktober.

Katanya, kampanye itu dilakukan untuk mengurangi risiko peningkatan kanker payudara pada perempuan. Benarkah? Faktanya, beberapa ahli justru meragukan hipotesa tersebut. Mitos pentingnya melepas bra demi kesehatan ini mulai bergejolak sejak tahun 1995-an.

Huffington Post mencatat, kala itu, sepasang antropolog, Sydney Singer dan Soma Grismaijer, mengklaim bahwa tanpa bra, maka racun yang ada di jaringan payudara – yang dianggap sebagai penyebab utama kanker – akan terjebak oleh bakteri yang mereka sebut cairan limfatik. Gagasan itu diterangkan matang-matang dalam bukunya, Dressed to Kill.

Klaim itu hingga kini masih mengawang bebas di luar sana. Apalagi mengingat jika, baik Sydney ataupun Soma, tak memiliki latar belakang yang bersangkutan dengan dunia medis, terlebih kanker. Para ilmuwan mengkritisi apa yang tercatat dalam Dressed to Kill. Sydney dan Soma, dinilai para ilmuwan tidak memperhitungkan faktor risiko kanker payudara yang diketahui, terutama obesitas.

Sebuah studi komprehensif di tahun 2014 oleh Pusat Kanker Fred Hutchinson di Seattle, AS, menemukan bahwa tidak ada korelasi antara pemakaian bra dengan risiko kanker payudara. Beberapa organisasi kesehatan lain pun telah menekankan soal kurangnya bukti untuk mengatakan jika bra meningkatkan risiko kanker.

Menukil The Guardian, Ginekolog AS, dr Jennifer Gunter, menggambarkan mitos ini sebagai sesuatu yang “kejam”. Hal itu, menurutnya, membuat perempuan takut. “Jika Anda (kaum perempuan – red) merasa bra Anda menyakitkan, Anda seharusnya tidak panik karena Anda bukan berarti menderita kanker.”

No Bra Day” adalah kampanye media sosial yang mendorong perempuan untuk tampil tanpa bra. Tentu saja, dalam konteks semangat melawan kanker payudara, yang sebenarnya hingga kini masih berstatus sebagai mitos.

Asal-usul “No Bra Day” sendiri masih sedikit dipertanyakan. Mengutip Bustle, perayaan ini pada awalnya terjadi pada tahun 2011. Pelan-pelan perayaan ini mendapat perhatian pada tahun 2015. Tapi sayang, perhatian yang didapat oleh gerakan itu bukan karena niat kemanusiaannya untuk meningkatkan kesadaran perempuan tentang kanker, melainkan menyoal ekshibisi seksual kaum perempuan.

AYO BACA : Tahukah Kamu Hari Ini Diperingati Sebagai Hari Tanpa Beha

Bagaimana tidak? Cek saja tagar #NoBraDay di linimasa saat ini. Tak ayal, yang akan kamu lihat adalah penamparan perempuan-perempuan dunia yang memamerkan keberaniannya untuk melepas bra dan berpose untuk jagat dunia. Memang, tak semua unggahan tampak vulgar. Beberapa perempuan memilih hanya memperlihatkan belahan dada atau memotret bagian payudara yang masih tertutup oleh kain kaus transparan yang menegaskan jika dirinya tak menggunakan bra hari ini.

Sekalipun laku-laku itu konon muncul atas rasa kepedulian, tapi tetap saja, yang namanya gelora syahwat dan pandangan sebelah mata dari sebagian besar masyarakat yang masih konservatif tentu tak bisa dilawan.

Seorang penulis cum aktivis perempuan AS, Christina Cauterucci mengkritisi unsur seksualitas yang melekat pada “No Bra Day”. Menurutnya, gerakan ini hanya mendorong perempuan untuk memamerkan payudara mereka atas nama kesadaran yang dirayakan. Selebihnya, tak ada apa-apa yang didapat. “’No Bra Day’ jauh dari kampanye kesadaran kanker payudara,” tegas Christina.

Gerakan melepas bra ini sebenarnya tak hanya mencuat beberapa tahun ke belakang. Hampir lima dekade silam, 400 perempuan AS memprotes kontes Miss America yang dinilai menggelikan pada 7 September 1968.

Mereka membawa poster-poster bertuliskan “No More Beauty Standards” dan “Welcome to the Cattle Auction”. Mengelilingi sebuah wadah yang dinamakan “Freedom Can” atawa kaleng kebabasan berukuran besar. Mereka melemparkan barang-barang yang mereka anggap sebagai simbol penindasan perempuan : sepatu hak tinggi, makeup, korset, majalah Playboy, dan bra.

Time menulis jika secara luas, barang-barang lemparan aktivis perempuan itu menyala terbakar. Namun lagi-lagi, protes paling legendaris itu menimbulkan mitos feminis dengan gerakan yang biasa disebut “burning bra movement”.

Meski apa yang terjadi pada 1968 hanyalah mitos, burning bra movement tak berhenti sampai di situ. The New Yorker mencatat, demonstrasi berskala kecil tetap terjadi selama era 1970-an. Di antaranya termasuk aksi membakar bra, meski tak terus menerus. Burning bra movement pada akhirnya tak pernah dianggap resmi sebagai bagian dari gerakan pembebasan perempuan. “Pembakaran atau pembebasan bra yang meluas di tahun 1970-an nampaknya tak lebih dari sebuah mitos.”

****

Sebagai perempuan, kamu pilih mana? Mengikuti mitos “No Bra Day” dan “Bra Burning Movement” atau menjaga payudaramu dari ribuan pandangan mata sembari memeriksakan dini kesehatan payudara?

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600