web analytics
Berselingkuh dengan Godaan Transportasi Daring
Oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil, pada Oct 12, 2017 | 18:13 WIB
Berselingkuh dengan Godaan Transportasi Daring
Ilustrasi -- Seseorang tengah melakukan pemesanan ojek online di salah satu aplikasi layanan transportasi daring. (AyoBandung/Danny Ramdhani)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Menikmati pengapnya udara angkutan kota itu sesungguhnya nikmat. Hanya saja, sikap ugal-ugalan, doyan ngetem, dan berhenti setiap 300 meter untuk mencari penumpang yang kerap dilakukan sopir angkot membuat banyak dari kita perlahan-lahan il-feel alias ilang feeling. Angkot dan transportasi konvensional lainnya kini seolah tak berdaya. Apalagi menghadapi invasi abad digital yang juga mengotak-ngatik dunia transportasi.

Sikap atau budaya pelayanan yang kurang baik dan bahkan cenderung mengesalkan dari transportasi konvensional inilah yang pada akhirnya memengaruhi masyarakat beralih untuk menikmati candu teknologi lewat layanan transportasi daring. Tapi itu hanya satu faktor, dari sejumlah faktor lain yang ikut memengaruhi. Setidaknya itu yang ada dalam pikiran Pakar Masyarakat Perkotaan, Budi Rajab.

Awak transportasi konvensional tak menyadari jika saat ini nyatanya Indonesia tengah mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Khususnya dalam urusan moda transportasi. “Khususnya roda dua,” ujar Budi kepada AyoBandung, Kamis (12/10/2017).

Bahkan, menurut staf pengajar di Antropologi FISIP Unpad ini, banyaknya kendaraan roda dua sebenarnya memegang peran penting dalam mengapa banyak orang yang beralih dari transportasi konvensional. “Masyarakat saat ini banyak menggunakan motor,” katanya.

Kendati demikian, Budi tetap mengakui jika sikap dan budaya pelayanan para pelaku jasa transportasi konvensional sangat tertinggal. Mereka, dinilainya, tak mau menyadari diri dan mengubah sikap pelayanannya kepada konsumen atau penumpang. Seperti kebiasaan ngetem berlama-lama, jalan ugal-ugalan, seenak udel menarik tarif di atas normal, dan lain-lain yang membikin penumpang mendumel.

“Mereka tidak mau mengubah attitude-nya yang menurut mereka itu benar. Sementara persaingan semakin menuntut harus adanya perubahan. Dan itu tidak dilakukan,” jelas Budi.

Polemik pro dan kontra layanan transportasi daring vs transportasi konvensional ini tak hanya muncul di Jawa Barat atau Bandung, tapi juga di seluruh Indonesia. Bahkan sebelum wacana soal transportasi daring muncul, perlawanan terhadap transportasi konvensional sudah terasa.

Tapi sayang, hingga saat ini, pelaku jasa transportasi konvensional tak juga membuat refleksi diri soal pelayanan. Tak heran jika akhirnya masyarakat terdorong untuk mengubah pilihan transportasinya.

Kini, di berbagai daerah di Nusantara, hampir semua masyarakat cenderung tengah beradaptasi dengan gaya hidup anyar. Mereka mencari budaya pelayanan jasa yang lebih baik, termasuk soal transportasi. “Masyarakat hanya ingin yang lebih baik,” tegas Budi.

Tengoklah, Jakarta. Berbagai pilihan moda transportasi ada di Jakarta. Mulai dari angkot, bus-bus seperempat seperti Kopaja dan Metromini, busway, hingga commuter line. Belakangan, busway dan commuter line disebut-sebut sebagai transportasi anti-macet. Tapi apa yang terjadi? Toh, nyatanya masyarakat metropolitan itu tetap tergoda transportasi daring.

"Mereka tidak ada pilihan lain dan mau tidak mau mereka tetap menaiki transportasi konvensional. Nah, sekarang katakanlah ada transportasi yang memberikan jasa lebih baik, ya mereka pilih itu. Itu sebenarnya kuncinya," beber Budi.

Antara hak dan sadar keselamatan

Sebagai konsumen, masyarakat bebas memilih moda transportasi yang diambilnya. “Tak perlu pula pengaturan untuk itu,” ujar Pakar Transportasi ITB, Soni Sulaksono. Ia sepakat jika masyarakat bebas memilih. Toh, pemerintah pun tak mengatur konsumen untuk memilih transportasi mana yang dirasa nyaman.

Hanya saja, para pengguna transportasi daring ini juga harus sadar jika saat ini, haknya sebagai pengguna jasa transportasi daring belum bisa terlindungi.

"Memang murah ongkosnya, tapi kalau ada tindakan yang tidak diinginkan kan ngadunya ke pemerintah juga. Nanti dikatakan pemerintah membiarkan. Padahal saat ini pemerintah berupaya mencegah itu terjadi ," kata Soni. 

Meskipun begitu, bukan berarti para pelaku jasa transportasi konvensional hanya tinggal leyeh-leyeh karena merasa dibela. Justru sudah waktunya bagi transportasi konvensional untuk membenahi diri.

Masyarakat, dinilai Soni, tidak melihat jika transportasi daring dan konvensional punya pasar yang berbeda. Para penumpang yang menggunakan angkutan umum misalnya, adalah orang-orang yang loyal dengan transportasi konvensional seperti angkot. Jadi, jika ada pengguna transportasi daring yang mencela transportasi konvensional, Soni yakin jika orang yang mencela itu bukan pengguna angkot.

"Saya bisa nebak dia (penumpang) belum pernah naik angkot atau dia jarang naik angkot. Dan mereka yang naik online itu memang yang tidak biasa naik angkot. Jadi buat saya tidak tepat juga membandingkan dengan sesuatu yang memang pasarnya sudah berbeda," kata Soni. 

Namun Soni tetap menyayangkan rencana-rencana aksi demonstrasi angkutan kota beberapa waktu lalu. Bahkan, ia menyebut jika aksi itu sebagai tindakan bunuh diri. Dengan berdemo dan menurunkan penumpang, artinya sama saja dengan mengkhianati para penumpang yang masih loyal untuk menaiki angkutan umum.

Memang, di zaman kiwari, jika diukur berdasarkan kuantitas, masyarakat yang punya loyalitas dengan angkot masih terbilang sedikit. Tapi bagi Soni itu bukan masalah. “Pelihara dong yang sedikit itu dengan memperbaiki pelayanan,” tegasnya. “Sekarang yang ke online banyak mengatakan angkot jelek dan segala macam, mending naik online. Ya, silakan. Itu hak masyarakat.”

Sesungguhnya, para pengemudi angkot tak perlu khawatir kehilangan penumpang. Sebab Soni yakin jika mereka tetap memiliki penumpang setianya.

“Ada lho sekelompok orang yang memang loyal. Dan itu jangan dikhianati dengan menggelar mogok seperti kemarin,” ujar Soni.

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Humas Jawa Barat Aher Ahmad Heryawan 160x600 Socmed Ayo Bandung 160x600