web analytics
Belajar Dari Perdamaian Ojek Online vs Konvensional di Cirebon
Oleh Faqih Rohman, pada Oct 12, 2017 | 16:30 WIB
Belajar Dari Perdamaian Ojek Online vs Konvensional di Cirebon
meme ojek online (facebook.com)

CIREBON, AYOCIREBON.COM—Seteru tak pernah usai. Angkutan berbasis aplikasi yang samakin digemari masyarakat ini selalu mendapat pertentangan dari industri lama yang sudah puluhan tahun beroperasi di Indonesia, angkutan umum dan ojek.

Perseturuan angkutan umum dan online ini bukan kali pertama terjadi. Sejak 2015, terjadi demo besar-besaran di Jakarta saat Menteri Perhubungan Ignatius Jonan menghentikan sementara operasional ojek dan taksi online. Kasus ini merembet ke seluruh daerah. Terjadi demo besar-besaran dari para sopir taksi, sopir angkot, dan tukang ojek pangkalan.

Pada awal Oktober 2017, di Bandung tersiar kabar akan digelar demo dan aksi mogok massal dari sopir angkot selama 4 hari, pada 10-13 Oktober 2017, yang digelar Wadah Aliansi Aspirasi Transportasi (WAAT) Jabar.

Namun, Pemprov Jabar mengambil langkah sigap, dengan mengakomodir WAAT setelah melakukan pertemuan yang dihadiri jajaran kepolisian dan pihak terkait. Hasilnya, aksi mogok ditangguhkan dan operasional angkutan online dihentikan sementara sambil menunggu revisi aturan baru dari Permenhub No 26/2017. Namun, penghentian sementara ini mendapat protes keras dari warga Bandung.

Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengatakan penyelesaian kasus ini sebenarnya bisa mencontoh apa yang dilakukan di Cirebon yang berhasil meredam perseteruan antara angkutan konvensional dengan transportasi daring alias ojek dan taksi online.

Menurut Wagub yang akrab dipanggil Demiz ini, penyeleaian dua kubu yang berseteru ini karena adanya sikap saling menghargai dan karakter daerah yang religius.

"Dasar dari perdamaian tersebut lantaran adanya karakter daerah yang religius, sehingga kedua belah konvensional dan daring bisa damai," ujarnya saat kunjungan kerja ke Cirebon, Kamis (12/10/2017).

Ia mengatakan apa yang telah dilakukan oleh Pemkot Cirebon terhadap angkutan konvesional dan daring bisa diadopsi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

"Kota Cirebon saja bisa damai dan ada ikrar kesepakatan antara kedua belah pihak, bisa saja kita coba untuk adopsi," katanya.

Demiz menerangkan bahwa pemerintah tidak bisa menghindari kemajuan teknologi yang ada saat ini, namun kemajuan tersebut jangan sampai menyisihkan atau mendiskreditkan pihak lain seperti angkutan konvensional. Oleh karena itu pemerintah saat ini sedang menggodok peraturan yang bisa diterima oleh semua pihak.

"Tidak mungkin kita bisa menafikkan kemajuan teknologi saat ini, tetapi bagaimana pun teknologi tersebut dimanfaatkan oleh perusahaan konvesional sehingga mereka tidak dirugikan," pungkasnya.

Pada Jumat, (6/10/2017),  Pemerintah Kota Cirebon bersama dengan Polres Cirebon Kota menginisiasi penandatangan ikrar kebersamaan antara angkutan konvensional dengan angkutan daring di Mapolres Cirebon Kota. Ikrar ini dilakukan setelah dilakukan pertemuan maraton dan dihasilkan sejumlah kesepakatan.

Walikota Cirebon, Nasrudin Azis menuturkan ada beberapa aturan yang akan diberlakukan kepada transportasi daring.

"Ada beberapa yang disampaikan oleh pengusaha transportasi konvensional kepada pengemudi online," ujarnya kepada para awak media, Senin (2/10/2017).

Adapun poin-poin tersebut diantaranya, transportasi daring tidak boleh menaikkan penumpang di stasiun, terminal, sekolah, lobby mall dalam radius 100 meter yang ditandai dengan pembatas yang jelas. Lalu untuk pengemudi daring harus menggunakan atribut dikendarannya  dengan striker dan akan ada pembatasan armada.

"Ada pembatasan waktu operasional daring dari jam 17.00 - 05.00 WIB, ini masih akan dibicarakan lebih lanjut," kata Azis. 

Dia melanjutkan, bahwa pemerintah diminta untuk mengawasi dan menindak daring secara hukum sampai adanya peraturan dari pemerintah pusat. Lalu untuk pengusaha angkot akan mendapatkan keringanan berupa bebas biaya uji KIR, SK izin trayek dan kartu pengawasan dan pajak kendaraan. 

Azis menambahkan bahwa untuk poin-poin kesepakatan tersebut akan dibawa ke pertemuan dengan para sopir angkot selanjutnya di Mapolres Cirebon Kota pada nanti malam. "Apa yang tadi dibahas akan dibahas dipertemuan selanjutnya, positif saja," pungkasnya.

Editor : A. Dadan Muhanda
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600