web analytics
Alasan Mengapa Baby Boomers dan Milenial Kerap Bertentangan
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada Oct 11, 2017 | 15:54 WIB
Alasan Mengapa Baby Boomers dan Milenial Kerap Bertentangan
Ilustrasi baby boomers vs milenial. (iris.xyz)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Setidaknya ada enam generasi yang menghuni daratan bumi dalam kurun waktu 100 tahun terakhir. Mereka adalah generasi tradisionalis, baby boomers, pra-milenial, milenial, pos-milenial, dan alfa.

Keenam generasi itu terbagi berkat perbedaan tahun kelahiran. Waktu kelahiran itu pula yang pada akhirnya memengaruhi karakter dasar di setiap generasi.

Tradisionalis terbiasa dengan perang dan jiwa patriotisme. Sedangkan baby boomers adalah soal kesetiaan dan tata krama yang formal. Kemudian, lahir generasi X atau pra-milenial yang urakan dan gemar berpesta sebagai bentuk perlawan pada baby boomers. Generasi X ditandai dengan fenomena kaum hippies dan musik perdamaian ala The Beatles.

Dunia kembali normal pasca-perang dingin dan melahirkan generasi milenial yang tumbuh di tengah transisi perkembangan teknologi. Maka tidak heran bila milenial dinilai lebih kreatif dan dinamis. Dampak Nirvana dan Facebook menjadi saksi lahirnya generasi milenial. Untuk kemudian diteruskan oleh generasi Z atau pos-milenial dan alfa. 

Namun, di antara keenam generasi tersebut setidaknya ada dua generasi yang kini tengah menguasai dan mendominasi populasi dunia. Uniknya, kedua generasi itu dinilai selalu bertentangan dalam berbagai hal. Bahkan kedua generasi memiliki cara berbeda untuk dapat bertahan hidup.

Mereka adalah baby boomers yang lahir pada rentang waktu 1945 hingga 1960 dan milenial yang lahir di antara tahun 1981 hingga 2.000. Baby boomers kini tengah memerintah dunia dan mengendalikan begitu banyak perusahaan dengan tahta kursi kekuasaan. Namun patut diingat bila mayoritas penduduk dunia justru didominasi oleh generasi milenial.

Beragam alasan melatarbelakangi mengapa kedua generasi kerap bersitegang perihal argumen dan pola pemikiran. Tidak heran karena baby boomers adalah seorang yang konservatif, sedangkan milenial sangat menyukai perubahan.

"Baby boomers memiliki kebijaksanaan, namun milenial memiliki pengembangan yang luar biasa. Jadi wajar kalau terjadi gap di antara keduanya," ujar Senior Consultant Act Consulting, Andi Basuni pada AyoBandung.

Terlebih kedua generasi memiliki "medan pertempuran" di hampir semua sendi kehidupan. Baik di rumah, antara orang tua dan anak, maupun di kantor, antara bos dan pegawai. Untuk itu, AyoBandung merangkum perbedaan antara baby boomers dan milenial yang kerap menjadi dasar perselisihan.

 

Dalam bekerja

Baby boomers dinilai memiliki loyalitas dan dedikasi tinggi pada pekerjaan. Penyebabnya karena para baby boomers berpendapat bila hidup adalah untuk bekerja, begitu juga sebaliknya. Maka tidak mengherankan bila uang dan pengakuan atas jabatan adalah target kehidupan yang merupakan gengsi prestisius. 

Namun hal tersebut berdampak pada sikap anti-kritik, meski nyatanya berupa saran untuk kemajuan bersama. Terlebih para baby boomers dinilai sangat disiplin. Bahkan meski tidak ada pekerjaan, mereka tetap berada di kantor hingga jam pulang menjelang. 

"Pokoknya dedikasi dalam pekerjaan (bagi baby boomers) adalah delapan jam, terlepas dari efektif atau tidaknya pekerjaan tersebut," ujar Andi.

Tentu hal tersebut teramat bertolak belakang dengan pola pikir para milenial yang memiliki keseimbangan antara gairah gaya hidup dan pekerjaan. Maka tidak heran bila milenial cenderung mencari pekerjaan yang dapat menunjang gaya hidup dan sesuai dengan keinginan. Jika tidak, maka berhenti dari pekerjaan adalah sebuah pilihan terbaik.

Akan tetapi para milenial lebih berani bertanya dan meminta kritik untuk sebuah kemajuan. Hal tersebut membuatnya begitu berpikiran terbuka dan kreatif. Namun perlu dipahami bila milenial lebih gemar bekerja dengan kualitas, bukan kuantitas soal waktu. 

Artinya, dedikasi terhadap pekerjaan tidak ditunjukan dengan berdiam lama di kantor tanpa kegiatan, melainkan lewat bekerja efektif dan cepat. Apabila pekerjaan telah selesai maka pulang adalah jalan terbaik. Intinya para milenial begitu menjunjung tinggi asas work of balance.

"Baby boomers bicara soal jam kerja yang panjang. Tapi milenial tidak bicara soal waktu. Berikan saja target pekerjaan pada milenial dan mereka akan menyelesaikannya dengan baik sesuai deadline walau tidak berada di kantor. Namun nyatanya kini para milenial baru dapat pulang kerja ketika pimpinan mereka yang baby boomers juga pulang," beber Andi. 

Dalam sosial

Generasi baby boomers terlahir pada masa ketika perang telah berakhir. Alhasil tatanan dunia baru terbangun dan perekonomian tengah tumbuh meningkat. Artinya, adat istiadat masih dipegang teguh dan bahasa pergaulan belum berkembang pesat. Ujung-ujungnya hal itu membikin para baby boomers cenderung kolot, namun sangat matang dalam pengambilan keputusan.

Latar belakang sedemikian rupa menjadi penyebab baby boomers begitu tertutup dan tidak menyukai perubahan dan perbedaan. Bahkan mereka cenderung apatis dan enggan peduli dengan kehidupan sekitar. 

Berbeda dengan milenial, yang meski terkesan individual, namun jauh lebih progresif dan terbuka perihal isu sosial. Meskipun kehidupan sosialnya terhampat oleh kemudahan teknologi. Selain itu, milenial dikenal sangat mudah beradaptasi dan peduli terhadap sesama, namun mudah bosan. 

"Baby boomers enggan menerima perubahan, sedangkan milenial sangat dinamis. Namun milenial memiliki masalah di tata krama, karena kehidupan sosial tidak berjalan," jelas Andi.

Dalam teknologi

Memasuki era milenial, mendadak minat baca terhadap buku turun drastis dan signifikan. Alasannya karena kehadiran teknologi internet yang memudahkan segala bentuk informasi dan pengetahuan. Fenomena tersebut jelas berbeda dengan kebiasaan para baby boomers yang gemar membaca buku.

Sebaliknya, para milenial menganggap bila buku sangat membosankan. Sebenarnya kemudahan akan fasilitas berbasis komputerisasi yang ditawarkan internet membuat milenial mudah mendapatkan informasi secara cepat. Sehingga pola pikir dan karakter mereka penuh dengan ide visioner dan inovatif. 

Penguasaan teknologi adalah kuncinya. Namun hal tersebut bertolak belakang dengan para baby boomers yang cenderung tidak melek teknologi. Ini menghadirkan gap, terutama dalam proses pembelajaran dan pekerjaan. Patut disadari bahwa aspek teknologi menjadi landasan utama perbedaan di antara keduanya.

"Antara baby boomers dan milenial harus saling memahami. Suka tidak suka tapi keduanya memiliki perbedaan, terutama soal teknologi," ujar Andi.

Dalam pernikahan

Baby boomers masih percaya pada kehidupan yang manual dan sistematis. Sehingga dengan memiliki modal pekerjaan sudah cukup menjadi alasan kuat untuk segera bergegas menikah. Maka tidak heran bila usia rata-rata menikah para baby boomers berada pada rentan 22 hingga 28 tahun. 

Namun patut disadari bila setiap generasi memiliki kebutuhan dan kebahagiaan yang berbeda. Pasalnya milenial berpikir bila menikah bukanlah sekedar finansial, namun juga soal rasa dan logika. Tidak heran, karena para milenial lebih berpikir bebas dan efektif. Sehingga usia rata-rata menikah generasi milenial berada pada angka 25 hingga 32 tahun.

"Perbedaan pandangan menjadi kendala di rumah. Intinya jangan menutup diri," ujar Andi. 

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600