web analytics
Dari Bandung Menuju Bali, Kawinkan Dua Rasa Seni
Oleh Asri Wuni Wulandari, pada Oct 10, 2017 | 14:29 WIB
Dari Bandung Menuju Bali, Kawinkan Dua Rasa Seni
Orchestradisi Bandung dalam Bandung Land Festival 2015. (Dok. Uwie)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Pernikahan adalah ketika dua insan manusia bersatu. Mereka adalah dua individu yang saling berbeda satu sama lain, dengan kultur dan latar belakang yang bisa jadi berbeda. Atas nama cinta, keduanya bersatu dan berkolaborasi untuk mencipta sesuatu yang baru.

Bukan hal yang tak mungkin jika konsep pernikahan itu diimplementasikan pula dalam hal seni budaya. Tak berlebihan rasanya jika kita bicara bahwa Nusantara begitu kaya akan ragam seni budayanya. Pernikahan antara ragam seni budaya dengan kekhasannya masing-masing tentu bukan hal yang mustahil. Sama seperti pernikahan dua insan manusia, atas nama cinta dan kreativitas, kolaborasi itu muncul untuk mencipta sesuatu yang anyar dalam memperkaya khazanah seni Indonesia.

Seperti yang bakal ditampilkan oleh sejumlah pelaku seni Kota Kembang atas nama Orchestradisi Bandung di Legian Beach Festival ke-10 pada 11 – 15 Oktober 2017 di Pantai Padma, Legian, Bali. Mereka bakal mengolaborasikan dua konsep seni budaya antara Bali dan Sunda, terkhusus Bandung.

Legian Beach Festival sendiri merupakan agenda rutin tahunan yang digelar oleh Desa Adat Legian. Gelaran kali ini merupakan kali kesepuluhnya pesta seni budaya masyarakat Pulau Dewata ini dihelat.

“Ini bentuk kami memahami rasa seni di Bali,” ujar Penggagas Orchestradisi Bandung, Uwie Prabu ketika ditemui AyoBandung pada Selasa (9/10/2017) malam. Ya, konsep saling memahami itulah yang digaungkan seniman Bandung dan Bali dalam gelaran tersebut.

Sebut saja salah satunya soal musikalitas. Pola musik Bali, sebagaimana kita ketahui, hadir dengan temponya yang rancak. Seolah tanpa jeda, mereka hadir dengan cepat dan saling sahut-menyahut. Berbeda dengan pola musik Sunda yang lebih gemulai, pelan dan sedikit mendayu-dayu. Sesuatu yang kontras. Namun, secara melodi, sebenarnya nada-nada pentatonis yang dihadirkan Bali dan Sunda hampir serupa.

“Menikahkan dua rasa akan melahirkan ide-ide baru dalam kancah dunia seni,” kata Uwie, lagi-lagi meyakini jika itu bukan sesuatu yang mustahil. Lagi pun, bentuk kolaborasi ini sebenarnya bukan hal yang baru-baru amat. Sebelumnya, sejumlah seniman juga telah mencatat keberhasilan setelah melakukan hal serupa. Sah-sah saja. Toh, kreativitas hadir tanpa sekat.

Tak hanya mengolaborasikan musik tradisi antardaerah bersama musik kontemporer, Orchestradisi Bandung juga berupaya menyatukan berbagai unsur disiplin seni menjadi sedikitnya sebuah pertunjukan kolosal. Dalam penampilannya nanti, akan hadir pula sejumlah penari Jaipong yang berlenggak-lenggok bersama dengan Barongsai yang datang mengejar.

Di sana mereka menghadirkan kisah yang alurnya diiringi oleh rampak kendang, tarawangsa (salah satu bentuk seni buhun Sunda), karinding, celempung, juga bunyi tetabuhan lainnya. “Agar kesenian tradisi tak berdiri sendiri, tapi bersama-sama,” kata Uwie. Kolaborasi yang dibentuk oleh Orchestradisi Bandung ini nantinya bakal semakin meriak ditampilkan bersama Tari Kecak ala Bali.

Proyek kolaborasi ini bermula dari ajakan seorang seniman asal Bali, I Nyoman Sarjana, seorang pendiri SIP School, sebuah lembaga pendidikan seni tari di Bali. Ia datang ke Bandung untuk mengajak Uwie berkolaborasi pada September lalu. Bandung dan Bali ingin bersatu. “Intinya itu sih,” aku Uwie. Bahkan konon, Nyoman menyebut jika ini merupakan kolaborasi pertama antara Bali dan Sunda, khususnya Bandung.

Ajakan Nyoman ini sudah tentu disambut sumringah oleh Uwie. Tak tanggung-tanggung, Uwie memboyong 24 seniman asal Bandung lainnya untuk turut serta dalam kolaborasi ini. Mereka terdiri dari berbagai komunitas seni yang dimiliki Kota Kembang. Sebut saja United States of Bandung Percussion (USBP), Seniman Bangun Pagi, Kasada, Kalawangsa, Lilian Rumapea, Vera Zein dan Riksamanah.

Keberangkatan mereka ke Bali untuk mewakili Bandung ini juga didukung oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung, yang akan turut hadir pula dalam gelaran tersebut.

Sekilas tentang Orchestradisi Bandung

Mempertahankan warisan leluhur bukan hal yang mudah. Terkadang kebanyakan terjebak oleh retorika semata atau apapun yang sifatnya anjuran. Aksi secara langsung adalah perlu. Ini pula yang membuat Uwie Prabu menggagas satu konsep bernama Orchestradisi Bandung. Bersatunya berbagai macam seni tradisi untuk saling berkolaborasi dan bekerja sama demi menghasilkan sebuah pertunjukan yang tanpa sekat.

Bermula dari Bandung Land Festival (BLF) 2015. Kala itu, Uwie CS diminta untuk membuat sebuah pertunjukan penyambutan delegasi-delegasi negara Asia-Afrika yang datang ke Bandung untuk memperingati 60 tahun Konferensi Asia Afrika.

BLF 2015 adalah panggung pertama bagi Orchestradisi Bandung. Tak tanggung-tanggung, saat itu mereka mengajak seniman sekaliber Kent Tattoo, Man Jasad, Trie Utami, dan bahkan, Dewa Budjana untuk tampil bersama.

Sejak saat itulah, budaya pertunjukan yang diisi oleh para pelaku seni yang punya keinginan untuk mempertahankan warisan budaya lokal ini pun berlanjut. Biasanya, mereka tampil dalam bentuk pertunjukan kolosal dan melibatkan banyak pelaku seni. Gelaran ke gelaran mereka lakoni. Hingga terakhir, mereka juga masuk sebagai salah satu penampil di Gedung Sate Festival 2017 beberapa waktu lalu.

Tujuan intinya adalah menciptakan regenerasi seni tradisi yang banyak orang bilang hampir punah. “Karakter kedaerahan itu harus ada sebagai jati diri,” ujar Uwie.

Selama ini, aktivitas Orchestradisi Bandung hanya berkutat di Pulau Jawa, khususnya Bandung.  Namun kini aktivitas mereka mulai merabah pulau seberang, si eksotis Pulau Bali. Mencoba memahami rasa seni di Pulau Dewata.

Uwie berharap, semoga saja kesempatannya kali ini bisa mendorong kolaborasi-kolaborasi anyar dengan berbagai daerah lain. Sebab, seperti kata Uwie, hanya dengan seni kita bisa berdamai dan bersatu. “Meski bertengkar, tapi kalau dengan seni, ujung-ujungnya pasti baikan lagi.”

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Humas Jawa Barat Aher Ahmad Heryawan 160x600 Socmed Ayo Bandung 160x600