web analytics
8 Fakta Unik Halimah Yacob, Presiden Wanita Pertama Singapura
Oleh Arditya Pramono, pada Sep 13, 2017 | 13:37 WIB
8 Fakta Unik Halimah Yacob, Presiden Wanita Pertama Singapura
Halimah Yacob.

SINGAPURA, AYOPURWAKARTA.COM -- Halimah Yacob secara resmi terpilih sebagai Presiden baru Singapura atau presiden kedelapan negeri Singa pada Rabu (13/9). Ia menjadi wanita pertama yang menjabat sebagai kepala negara Siangpura. Menurut rencana ia akan dilantik pada Kamis (14/9).

Halimah terpilih menjadi presiden sebagai calon tunggal karena hanya satu-satunya pendaftar yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Komite Pilpres Singapura. Dua kandidat lainnya yaitu pengusaha perikanan Farid Khan dan bos properti Salleh Marican tak lolos verifikasi Komite Pilpres.

Halimah, politisi asli Melayu yang berusia 62 tahun ini rela turun dari jabatannya sebagai Ketua DPR Singapura dan Anggota Parlemen untuk Marsiling-Yew Tee GRC. Keputusannya itu mengantarnya menjadi presiden pertama dari etnis minoritas. 

Berikut adalah delapan fakta unik kehidupan Halimah yang sebelumnya jarang terekspos media 

1. Hidup susah sejak kecil 
Ayah Halimah adalah eorang penjaga. Sang Ayah meninggalkan Halimah saat ia masih berusia delapan tahun. Ayahnya meninggalkan ibunya bersama empat orang kakak laki-laki Halimah. Rumah Halimah beserta Ibunda dan empat kakak laki-lakinya berlokasi di Hindoo Road, sebuah flat satu kamar yang sederhana.

Sejak kecil Halimah adalah seorang yang rajin dan gigih. Kebiasaannya adalah bangun sebelum matahari terbit untuk membantu ibunya berjualan nasi padang pada sebuah gerobak dorong di wilayah Shenton Way sebelum akhirnya mendapatkan lisensi membuka warung nasi padang. 

Halimah pun harus berjuang saat menghabiskan waktu belajarnya di Singapore Chinese Girls School dan Tanjong Katong Girls. Ia harus berjibaku dengan aktivitas padatnya membantu Ibu di warung nasi padang dengan mencuci piring atau membersihkan meja. Sementara ia dituntut untuk mengerjakan PR Sekolah yang seabrek. Halimah juga sering tidak mampu membayar uang sekolah. 

2. Satu-satunya orang di keluarga besar yang berkuliah
Meski dalam keadaan miskin namun Halimah punya tekad kuat untuk mengenyam pendidikan tinggi. Ia nekat masuk Fakultas Hukum Universitas Singapura. Untungnya, ia memiliki otak encer sehingga membawanya meraih beasiswa tahunan sebesar SGD1000 dari Dewan Agama Islam Singapura. Uang kiliahnya juga dibantu seorang saudara sebesar SGD50  yang pada waktu itu bekerja sebagai seorang sipir penjara. Saat berkuliah Halimah juga bekerja mencari tambahan biaya hidup sebagai petugas perpustakaan. 

3. Memulai karir saat baru lulus kuliah
Halimah lulus pada tahun 1978 dan bergabung dengan National Trade Union Congress (NTUC). Di situ, ia bekerja sebagai petugas hukum karena cita-cita mulianya untuk mewakili hak-hak pekerja dan berjuang untuk keadilan.  Selama 33 tahun berkarir di NTUC, Halimah berhasil naik ke unit layanan hukum NTUC dan menjabat sekretariat pembangunan perempuan. Ia pun tercatat  menjadi orang Singapura pertama di badan pengatur Organisasi Perburuhan Internasional dari tahun 1999 sampai 2011.

Halimah menjabat sebagai Asisten Sekretaris Jenderal NTUC dari tahun 1999 sampai 2007 sebelum menjadi Wakil Sekretaris Jenderal sampai tahun 2011. Halimah mendapatkan gelar Master of Law dari National Singapore University (NUS)  pada tahun 2001.

4. Menikah dengan teman kuliah 
Dua tahun setelah lulus kuliah, Halimah menikahi dengan pebisnis Mohammed Abdullah Alhabshee, seorang sarjana fisika yang seumuran denganya.  Pasangan itu awalnya tinggal di sebuah kamar sewaan sebelum membeli rumah pertama mereka, flat lima kamar di Tampines seharga  SGD75.000.  Mereka memiliki dua putra dan tiga anak perempuan yang saat ini berusia antara 26 sampai 35 tahun.

5. Awal karir politik 
Pada tahun 2001, Halimah terpilih menjadi anggota parlemen di Jurong GRC selama tiga periode sebelum menjadi anggota parlemen di Marsiling-Yew Tee GRC setelah pemilihan umum 2015. Ibu lima orang anak itu menjadi pemegang jabatan pada tahun 2011 saat ditunjuk sebagai Menteri Negara pada Kementerian Sosial, Pemuda dan Olahraga serta Kementerian Sosial dan Keluarga Berencana Singapura pada tahun 2012. Ia juga menjadi wanita pertama yang diangkat sebagai Ketua Parlemen pada 2013.

6. Ingin tetap tinggal di flat biasa dan sederhana
Halimah tidak merahasiakan pilihannya untuk tetap ingin tinggal seperti rakyat biasa Singapura di flat yang diatur oleh badan Housing and Development Board (HDB).  Ia mengatakan bahwa dia berharap untuk terus tinggal di sana bahkan jika terpilih sebagai presiden. Sebuah pendirian yang ia anut sejak menjadi Ketua Parlemen pada tahun 2013, terlepas dari pertanyaan mengapa dia tidak memiliki keinginan untuk tinggal lebih mentereng sebagai seorang pejabat negara.  

"Lebih dari 80 persen orang Singapura tinggal di flat HDB dan jika cukup baik untuk mereka, ini cukup baik untuk saya, " ungkap Halimah.

7. Punya konsep hidup komunal 
Flatnya di daerah Yishun yang berada di dekat Rumah Sakit Khoo Teck Puat, terdiri dari dua flat dengan lima dan empat kamar yang berdekatan dengan dinding pemisah.
Halimah membeli kedua unit flat tersebut. Alasannya sederhana,  Halimah ingin tinggal di samping ibunya. Secara spesifik, Halimah mengatakan bahwa konsep rumahnya bukan hanya sekedar harta bernilai ekonomi, tapi juga "gudang penyimpan kenangan seumur hidup yang tak ternilai harganya." 

Flat milik Halimah juga satu-satunya rumah bagi tiga dari lima anaknya, dimana sebagian dari mereka telah menikah. 

Dalam sebuah wawancara tak lama setelah menjadi Ketua Parlemen pada tahun 2013, Halimah mengungkapkan bahwa dia ingin mengajarkan anak-anaknya betapa pentingnya hidup bersama dan merawat orangtua.

Halimah diketahui tidak menyewa pembantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Ia lebih suka "memberdayakan" diri sendiri dan anggota keluarganya untuk melakukan tugas pekerjaan rumah seperti mencuci pakaian.  

8. Punya suami yang mendukung karirnya dengan baik
Suami Halimah, Mohammed Abdullah Alhabshee amat mendukung karir politik istrinya tersebut. Menurut Alhabshee, Halimah tidak pernah melupakan tugasnya sebagai seorang istri, ibu dan sekaligus seorang wanita karir di dunia politik. 

"Istri saya orang yang berpengalaman dan sangat kompeten, saya yakin dia mampu menjalani tugas mulia sebagai seorang Presiden Singapura. 
sumber:straitstime.com
 

Source: Straitstimes

Editor : Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Humas Jawa Barat Aher Ahmad Heryawan 160x600 Socmed Ayo Bandung 160x600