web analytics
Cerita Hidup Manusia Gerobak
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada Aug 12, 2017 | 19:25 WIB
Cerita Hidup Manusia Gerobak
Ilustrasi. (Antara)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Beralas tanah dan terlelap tanpa atap penahan hujan. Lantas menjadikan gerobak kayu penuh lubang udara sebagai rumah peristirahatan menunggu malam. 

Adalah pasangan suami istri bernama Agus dan Ayu yang telah 40 tahun memilih menggantungkan hidup pada sampah tidak terpakai. Sebuah nilai fungsi tidak berdaya guna dari sebongkah barang namun hadir sebagai alasan penyambung hidup.

"Gerobak ini tempat tidur kami. Istri saya biasa tidur di dalam (gerobak). Kalau saya bisa dimana saja," ujar Agus sembari membenarkan beberapa bagian yang rusak pada gerobak tuanya.

Agus dan Ayu biasa bermalam di lahan parkir sebuah ruko tepat bersebrangan dengan Hotel Cemerlang di Jalan HOS Tjokroaminoto Bandung. Bersama dengan beberapa kerabat satu pekerjaan mereka telah mendiami lahan tersebut lebih dari 12 tahun sejak memutuskan untuk menikah pada tahun 2005 silam.

Dulu Agus sempat membawa turut serta keenam anaknya mengitari Kota Bandung sepanjang kurang lebih 50 km setiap harinya guna memungut sampah. Namun berturut keenam anaknya ia bawa pulang ke kampung halaman di Cianjur ketika beranjak sekolah.

"Sekarang semua anak saya sudah sekolah di Cianjur. Jadi cuman berdua sama istri. Pendidikan anak penting biar kalau udah gede enggak jadi pemulung kaya saya," ujar Agus.

Jalinan ikatan suami istri Agus dan Ayu dimulai ketika tanpa sengaja Agus melihat Ayu saat memungut sampah di daerah Pasir Koja. Saat itu Agus baru berusia 20 tahunan.

"Pertama melihat istri langsung suka terus saya dekati meski malu karena saya pemulung. Awalnya mengajak untuk bermain ke pasar malam," ujar Agus.

Tidak bertepuk sebelah tangan karena cinta Agus bersambut ketika lamaran sederhananya diterima Ayu. Di Kantor Urusan Agama (KUA) setempat mereka berdua merajut janji pernikahan.

"Saya percaya sama bapak meski pemulung tapi ini halal," ujar Ayu tersenyum.

Agus beruntung karena bukan termasuk pemulung nomaden yang sering kali mengalami pengusiran dan penggusuran. Soalnya beberapa pemulung yang mendiami sebuah tempat untuk bermalam mengalami pengusiran secara kasar.

"Teman saya yang diam di pangkalan bus dan jembatan penyebrangan depan GOR Pajajaran sering diusir. Bukan sama Satpol PP tapi sama orang yang iseng," ujar Agus. 

Tindakan kasar dari masyarakat bukan hanya dalam artian fisik namun lebih pada tindakan bersifat psikis. Baik itu melalui cibiran maupun perlakuan tanpa kesengajaan.

"Kami sering di foto tanpa izin ketika sedang tidur. Besoknya sudah ada di koran dan dilihat banyak orang. Gimana rasanya kalau itu wajah akang?" ujar Agus menggertak.

Sebuah perilaku yang melahirkan sikap antipati dan skpetis. Maka jangan heran bila para pemulung lebih tertutup karena sikap tersebut lahir bukan tanpa alasan. Stereotype dan trauma masa lalu menjadi latar belakang. 
 

Editor: Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Humas Jawa Barat Aher Ahmad Heryawan 160x600 Socmed Ayo Bandung 160x600