Yamaha Aerox

Beitar Jerusalem, Klub Sepak Bola Israel dengan Suporter Rasial

  Rabu, 27 Desember 2017   Arfian Jamul Jawaami
Suporter Beitar Jerusalem
BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Waktu itu hari Minggu 3 Maret 2013. Seperti akhir pekan biasanya, Teddy Stadium di Kota Jerusalem selalu dipadati oleh sekitar 30.000 penikmat sepak bola. Beitar Jerusalem menjamu Maccabi Netanyal dan skor kaca mata tidak kunjung terbelah.
 
Hingga akhirnya penyerang berdarah Rusia bernama Zaur Sadaev mencetak gol krusial bagi tuan rumah. Alih-alih merayakan gol kemenangan, pendukung Beitar justru terdiam dan kemudian membubarkan diri perlahan. Beitar menang namun suporter tidak senang.
 
Apa alasannya? Seperti dikutip dari The Independent, pembubaran massal tersebut terjadi lantaran Sadaev adalah seorang Muslim. Sejarah mencatat Sadaev merupakan pemain Muslim pertama yang mampu mencetak gol bagi Beitar sejak berdiri pada 1936. 
 
Bukan rahasia ketika Beitar begitu anti-Muslim dan Arab. Ideologi tersebut telah mengakar sejak awal pembentukan klub. Layaknya klub lain di Israel, Beitar tidak memisahkan antara politik dan sepak bola. Sebagai contoh adalah keberpihakan klub tersukses Israel, Maccabi Haifa yang identik dengan dunia Arab. Sementara Beitar menjadi perwakilan sayap kanan yang anti-Muslim.
 
Namun ideologi anti-Muslim mulai dikikis perlahan oleh manajeman klub. Langkah paling kongkret ketika Beitar merekrut dua punggawa Muslim untuk pertama kalinya dalam sejarah yakni Sadaev dan rekannya Dzhabrail Kadiyev pada 2013. 
 
Sayang, niat baik klub berujung penolakan dari kelompok suporter garis keras, La Familia. Seperti dikutip Washington Post, La Familia bahkan membakar markas Beitar sesaat setelah klub asal Kota Jerusalem tersebut mengumumkan perekrutan dua punggawa Muslimnya. Penolakan tersebut berangkat dari slogan La Familia yaitu "Beitar Harus Selamanya Murni". 
 
Sejak saat itu, baik Kadiyev maupun Sadaev selalu mendapat teriakan bernada rasial dan diskriminatif dari La Familia seperti "kematian untuk Arab" atau "teroris". Bahkan ancaman pernah datang menyasar ponsel pelatih Beitar ketika itu, Eli Cohen. 
 
Parahnya, La Familia tidak pernah malu-malu meneriakan sikap rasial anti-Muslim. Seperti dikutip dari The Guardian, La Familia selalu menyerukan nyanyian, "Kami klub paling rasial di negara ini." sebelum pertandingan dimulai. 
 
Israel Football Association (IFA) tidak jarang menghukum Beitar lantaran aksi rasial La Familia. Namun latar belakang sejarah dan pengalaman masa lalu yang membuat La Familia tetap kekeuh menolak Muslim dan Arab. Pasalnya semua perilaku tersebut tidak berasal dari ruang kosong. 

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar